EPILOG

3K 69 1
                                        


Aku menatap bayangannya di cermin. Meski kepercayaan diriku telah bertambah, aku tetap tidak dapat menepis rasa gugup yang mendera. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku akan mendampingi Han Juhyeok ke sebuah acara—peluncuran produk baru Hansung Electronics. Selama ini, Han Juhyeok selalu mengajakku ke acara serupa, tapi aku selalu menolak, merasa tidak sanggup menghadapi keramaian dan sorotan kamera.

Kali ini, aku ingin mencoba.

"Apa kau sudah siap?" tanya Han Juhyeok, memecah lamunanku.

"Eh, ya. Apa menurutmu penampilanku baik?" tanyaku, sedikit resah.

"Kau tampak memukau," jawab Han Juhyeok dengan senyum lembut, mengangkat tanganku dan menciumnya penuh kasih. "Setelan ini seolah diciptakan untukmu. Ayo kita berangkat."

"Baik," kataku.

Mobil mewah itu merapat di depan lokasi acara. Han Juhyeok turun lebih dulu, lalu mengelilingi mobil untuk membukakan pintu untukku. Begitu kakiku menyentuh tanah, kilatan kamera langsung menyerbu. Secara naluri, aku meraih lengan Han Juhyeok untuk menyangga diri, melangkah keluar, dan berhenti sejenak untuk tersenyum kepada kamera. Aku mundur sedikit saat Han Juhyeok memberikan wawancara singkat sebelum acara dimulai.

Acara dibuka dengan Han Juhyeok naik ke panggung, mempresentasikan produk baru dengan penuh wibawa, menjawab pertanyaan wartawan dengan fasih. Kemudian, acara bergeser ke jamuan, di mana para tokoh terkemuka dunia bisnis berkumpul. Untuk pertama kalinya, aku bertemu Han Geonwoo, ayah resmi Han Juhyeok, ketua Hansung Group.

Han Juhyeok pernah bilang bahwa aku tidak perlu berkenalan dengan Han Geonwoo, karena ia bukan ayah kandungnya. Tapi di hadapan media, mereka harus tampak seperti keluarga yang harmonis. Han Geonwoo mendekat lebih dulu, mengulurkan tangan. "Kau pasti pendamping Han Juhyeok. Aku Han Geonwoo."

"Shin Seoltang," jawabku, menjabat tangannya.

"Aku dengar kau penulis, benar?" tanyanya.

"Ya, benar," kataku.

Percakapan kami singkat, hanya beberapa kalimat, diiringi senyum untuk kamera saat diminta berfoto bersama, lalu kami berpisah. Aku tidak ingin dianggap kurang mahir bersosialisasi, apalagi setelah bersusah payah hadir di acara ini. Itu juga bisa mencoreng nama Han Juhyeok. Maka, aku terus tersenyum, berada di sisinya, dan menyambut setiap obrolan dengan ramah. Ketika akhirnya sampai di rumah, aku nyaris ambruk karena kelelahan.

"Kau yang mampu menghadiri acara seperti ini berulang kali sungguh luar biasa," keluhku sambil melepas pakaianku. "Aku yang bukan pusat perhatian seperti mu, tapi sudah lelah sekali. Kau yang biasanya bekerja di balik layar, bagaimana bisa begitu lihai tampil di depan umum? Kukira peretas akan pendiam dan enggan bergaul."

"Itu memang keahlianku," ujar Han Juhyeok dengan senyum tipis.

"Sungguh membuat iri," kataku.

"Kau juga tampil baik hari ini," pujinya.

"Tapi tetap tidak sebaik kau," balasku.

"Latihan terus, itu hal baik," kata Han Juhyeok dengan nada datar seperti biasa, sambil membantu melepas pakaianku. Dengan cekatan, ia mengajakku ke kamar mandi tanpa kusadari aku sedang digoda. "Jika novel barumu diterjemahkan ke bahasa lain atau diadaptasi jadi film, kau harus berhadapan dengan wartawan, tahu?"

"Aku belum memikirkan sejauh itu... tunggu, kau menyentuh apa? Lepaskan tanganmu!" protesku.

"Aduh, ketahuan," katanya, berlagak kecewa.

"Keluar, aku mandi sendiri. Sebentar saja," ujarku.

"Masih malu?" godanya.

"Bukan malu, tapi kalau kau mulai bergairah lagi, kukatakan, hari ini aku sangat lelah. Tidak boleh!" tegas ku.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang