Shin Seoltang mulai membiasakan diri dengan lingkungan barunya sembari menekuni pekerjaan baru sebagai penulis novel. Penasaran apa ia bisa menjadikan menulis sebagai profesi, ia mengunggah novelnya secara gratis di sebuah situs web untuk mendapat masukan pembaca. Berbekal pengalaman kerja di masa lalu, ia mampu menghadapi kritik dengan bijak—memilah komentar membangun untuk memperbaiki diri, dan mengabaikan yang hanya bertujuan menjatuhkan. Respons terhadap novelnya cukup positif, meski jumlah pembaca awalnya masih terbatas.
Sebulan kemudian, ceritanya mencapai setengah jalan. Plot twist pertama membuat novelnya viral. Banyak yang memuji kepiawaiannya merangkai cerita. Novelnya mulai dikenal dan disukai lebih luas.
"Hyeok, jumlah pembacanya sudah tembus satu juta!" seru Seoltang, tak bisa menyembunyikan kegembiraan.
"Selamat, ya," balas Juhyeok, tersenyum hangat.
"Kenapa kau tak terlihat antusias?" tanya Seoltang, sedikit cemberut. "Aku sampai tak bisa duduk diam saking senangnya."
"Bukan tidak antusias," ujar Juhyeok, terkekeh. "Aku sudah menduganya."
"Serius?" Seoltang memandangnya, tak percaya.
"Ya," angguk Juhyeok. "Dan menurut dugaanku, novel ini akan jauh lebih sukses lagi."
"Ah, kurasa tidak sejauh itu," balas Seoltang, merendah.
Juhyeok hanya tersenyum. "Apa aku pernah salah?"
Dan ternyata, Juhyeok memang tak pernah salah. Beberapa penerbit mulai menghubungi Seoltang, menawarkan penerbitan novelnya dalam bentuk cetak. Awalnya, Juhyeok ingin mengurus semuanya, tapi Seoltang memilih bekerja sama dengan penerbit favoritnya. Ia ingin mengukur sejauh mana ia bisa melangkah sendiri tanpa bantuan Juhyeok.
Dua bulan berlalu, musim dingin tiba. Salju pertama turun perlahan. Novel pertamanya kini tersedia di toko-toko buku.
"Hari ini bukumu mulai dijual," ujar Juhyeok. "Mau lihat ke toko?"
"Tentu saja!" jawab Seoltang, semangatnya membuncah.
Mereka pergi bersama, mengunjungi beberapa toko buku untuk memastikan novel Seoltang terpajang di rak. Seoltang adalah yang paling bersemangat, mondar-mandir di area buku, berharap ada yang mengambil novelnya. Juhyeok, yang mendukungnya sejak kalimat pertama ditulis, menatapnya dengan penuh kasih dan kebanggaan.
"Hyeok, Hyeok! Ada yang ambil bukuku!" seru Seoltang tiba-tiba, matanya berbinar.
"Mana?" tanya Juhyeok, ikut antusias.
"Itu!" Seoltang menunjuk seorang siswi SMA yang membolak-balik novelnya, lalu memasukkannya ke keranjang belanja. "Dia beli!"
"Bagus sekali," puji Juhyeok, tersenyum lebar.
"Hahaha! Hyeok, aku benar-benar bahagia," ujar Seoltang, wajahnya berseri. "Ayo rayakan! Hari sedingin ini enaknya makan sup kentang. Kali ini aku yang traktir."
Itu kali pertama Seoltang mentraktir Juhyeok, setelah honor pertamanya cair kemarin. "Kalau penghasilan seperti ini terus, sepertinya aku benar-benar bisa jadi penulis profesional," lanjutnya. "Sekarang aku penulis sungguhan. Panggil aku Penulis Shin!"
"Tuan Penulis Shin," balas Juhyeok, mengikuti candaannya.
"Bagus. Tuan Han, ayo pergi. Aku sudah lapar," ujar Seoltang, tersenyum lebar.
"Jangan lari, lantainya licin," peringat Juhyeok, mengikuti langkahnya.
Juhyeok memandang Seoltang, berjanji dalam hati takkan membiarkan senyum itu direnggut lagi. Ia bersyukur Seoltang bertahan, terus mengejar apa yang dicintainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)