Chapter 49

1.9K 67 1
                                        


Shin Seoltang memandang keluar jendela mobil, menyaksikan pemandangan yang diselimuti tirai hujan, berganti perlahan seiring mobil melaju. Hingga kini, ia masih belum tahu seperti apa rumah baru yang akan ia tinggali bersama Han Juhyeok. Saat Juhyeok pertama kali bertanya rumah seperti apa yang ia inginkan, ia tak bisa membayangkan tinggal di tempat lain.

Selama ini, ia memilih rumah atau apartemen berdasarkan harga—yang termurah selalu jadi prioritas, baru kemudian keamanan atau kenyamanan. Ia tak pernah merencanakan masa depan, tak pernah membayangkan akan pindah ke tempat baru. Karenanya, ia tak punya impian tentang rumah idaman.

Juhyeok pernah menunjukkan ratusan desain rumah dan ruangan, tapi Seoltang tak bisa memilih satu pun. Akhirnya, ia menyerahkan semuanya pada Juhyeok. Di mana pun Juhyeok membawanya, ia yakin bisa menyesuaikan diri. Tempat yang dipilih Juhyeok untuk mereka pasti yang terbaik. Menyadari Seoltang kesulitan memilih, Juhyeok tak pernah bertanya lagi, hanya bilang bahwa rumah itu akan jadi kejutan saat pindah nanti.

Kini, duduk di mobil, menebak-nebak jadi sesuatu yang menyenangkan. Seoltang memperhatikan jalanan, menanti di mana mobil akan berhenti, sambil mencoba menduga apa pilihannya sesuai dengan yang ada di benaknya.

"Kau kelihatan antusias menanti rumah seperti apa yang kupilih," ujar Juhyeok, yang diam-diam mengamati sejak tadi. "Jadi agak khawatir juga, takut mengecewakanmu."

"Bukan begitu," balas Seoltang, tersenyum kecil. "Aku sudah bilang, aku bisa tinggal di mana saja. Aku hanya penasaran, apa dugaanku soal pilihanmu tepat atau tidak."

"Oh, ya?" Juhyeok menatapnya, rasa ingin tahu terpancar dari matanya. "Aku jadi penasaran. Apa yang kau tebak?"

Seoltang mengerutkan dahi, berpikir sejenak. "Hm... kau sangat mementingkan keamanan. Pasti apartemen, bukan rumah tapak. Mungkin gedung pencakar langit di kawasan elit, aman, dihuni tokoh-tokoh penting atau pesohor. Kau kan sekarang mengelola Hansung Electronics, jadi banyak lokasi dengan akses transportasi bagus. Tapi kurasa... mungkin Y Tower, di kawasan itu."

"Kenapa Y Tower?" tanya Juhyeok, alisnya terangkat.

"Karena dari sana bisa melihat Sungai Han," jawab Seoltang. "Tempatnya privat, fasilitas lengkap—pusat kebugaran, kafe, lapangan golf, bahkan rumah sakit. Di dekatnya ada taman kota. Kau tahu aku akan sendirian saat kau bekerja, jadi kau pilih tempat dengan banyak aktivitas agar aku tak bosan. Tapi kemungkinan besar, aku tetap akan lebih banyak di rumah."

Juhyeok tampak kagum. "Wah..."

"Bisa jadi kau bahkan pilih lantai teratas, yang bisa melihat langit malam," tambah Seoltang, setengah bercanda. "Astaga, kalau benar begitu, aku tak mau tahu berapa kau habiskan. Pasti akan membuat telingaku berdenging."

Juhyeok terkekeh. "Nanti kau lihat sendiri apa tebakanmu benar."

Yang mengejutkan, semua tebakan Seoltang tepat. Mobil berhenti di basement Y Tower, dan seorang pria bersetelan rapi menyambut mereka dengan hormat.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya dipercaya Tuan Han Juhyeok untuk mengurus dekorasi rumah baru Anda berdua," ujarnya. "Karena ini pertama kalinya Tuan Shin Seoltang berkunjung, izinkan saya menjadi pemandu."

Mereka dibawa untuk mendaftarkan sidik jari.

"Sistem kami hanya menggunakan sidik jari, bukan kartu atau sandi," jelas pria itu. "Saat menyentuh sensor, lift akan langsung menuju lantai tempat tinggal Anda. Tanpa sidik jari, tak ada akses. Demi keamanan dan privasi. Untuk area umum, tetap butuh verifikasi sidik jari. Daftar fasilitas ada di sini—kami punya segalanya."

Penjelasan tentang Y Tower melebihi ekspektasi Seoltang. Pria itu menyerahkan kartu nama. "Jika ada pertanyaan atau butuh bantuan—sekecil apa pun—jangan ragu hubungi saya. Terima kasih." Ia membungkuk sopan, lalu mengantar mereka ke lift.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang