Chapter 48

1.9K 65 0
                                        


"Hyeok," panggil Seoltang pelan.

"Hm?" Juhyeok menoleh, matanya penuh perhatian.

"Aku mengingatmu sekarang," lanjut Seoltang, suaranya lembut. "Kita pernah bertemu saat kecil."

"Ya..." Juhyeok mengangguk, ekspresinya menunjukkan ia enggan mengungkit masa lalu. "Maafkan aku."

Seoltang mengerutkan kening, bingung. "Minta maaf untuk apa?"

"Karena aku membuat tanganmu ternoda," jawab Juhyeok, suaranya penuh penyesalan.

Seoltang menatapnya, lalu tersenyum kecil. "Aku melindungimu, Hyeok. Meski tanganku berlumur darah, aku berhasil menyelamatkanmu. Asalkan kau tak jijik dengan tangan ini, itu sudah cukup bagiku."

"Tak mungkin," balas Juhyeok tegas, matanya penuh keyakinan.

Keduanya berbincang panjang, saling merawat luka di hati masing-masing. Setelah hampir satu jam, Juhyeok keluar, memberi kesempatan pada Psikiater Kim untuk masuk. Dokter yang sama seperti sebelumnya duduk, mengeluarkan clipboard, dan tersenyum ramah.

"Biasanya, psikiater harus jadi orang pertama yang berbicara dengan pasien yang baru siuman," ujar Kim, bersandar di kursi. "Tapi dalam kasus ini, saya pikir membiarkan Tuan Han Juhyeok berbicara lebih dulu adalah keputusan terbaik. Anda tak sadarkan diri selama tujuh hari, Tuan Shin Seoltang. Selama itu, Tuan Han Juhyeok hampir tak tidur atau beristirahat. Ia banyak membuka diri kepada saya. Itu membuat saya berpikir, bukan hanya Anda yang perlu dikhawatirkan, tapi Tuan Han Juhyeok juga."

Seoltang terkejut. "Apa maksudnya, Dokter?"

Kim menatapnya dengan lembut. "Tuan Han Juhyeok mengizinkan saya memberi tahu Anda. Ia bilang, jika Anda menyerah pada hidup dan memilih mengakhirinya... ia akan ikut mati bersamamu. Ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh."

Dada Seoltang terasa sesak. Ia tak tahu harus merasakan apa.

"Alasan orang untuk hidup berbeda-beda," lanjut Kim. "Untuk Tuan Han Juhyeok, alasannya jelas: Anda. Ia menyatakannya tanpa ragu. Dari obrolan kami beberapa hari ini, saya lihat ia bisa menghadapi banyak hal dengan baik—kecuali jika menyangkut Anda. Ia takut kehilangan Anda, karena itu berarti kehilangan dirinya sendiri. Ia seolah bernapas dengan napas Anda." Kim menatap Seoltang, lalu bertanya, "Bagaimana dengan Anda, Tuan Shin Seoltang? Apa yang Anda rasakan terhadap Tuan Han Juhyeok?"

Seoltang menarik napas dalam, suaranya bergetar. "Aku... baru sadar bahwa aku mencintainya lebih dari yang kubayangkan. Aku tak bisa bertahan di dunia ini, tapi aku lebih tak sanggup meninggalkannya sendirian. Ia tak bisa hidup tanpaku. Jadi, meski menyakitkan... aku akan bertahan... untuknya." Ia menahan isak, berusaha kuat.

Kim tersenyum hangat. "Anda hampir 28 tahun sekarang, bukan?"

"Ya," jawab Seoltang pelan.

"Yang lalu memang menyakitkan, tapi itu tak berarti masa depan akan sama," ujar Kim. "Kita manusia—kita membuat kesalahan, kita terluka, kita jatuh. Tapi yang menentukan adalah apa kita bangkit atau tetap terbaring. Tak ada pilihan yang salah atau benar. Ada yang menginginkan banyak hal, ada yang merasa cukup hanya dengan membuka mata di pagi hari."

Kim melanjutkan, "Delapan miliar orang di dunia ini punya kisah dan alasan masing-masing. Untuk Anda, alasannya adalah hidup bersama Tuan Han Juhyeok. Dan ia pun ingin hidup bersama Anda. Kalian saling menyangga—itu hal luar biasa." Ia tersenyum, lalu menambahkan, "Satu lagi, saya sekarang berusia 52 tahun."

Seoltang berkedip, bingung. "Eh...?"

"Saya 52 tahun," ulang Kim, tersenyum. "Dan saya bisa bilang dengan yakin: hidup itu menyenangkan. Nenek Anda meninggal di usia berapa?"

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang