Chapter 47

1.9K 64 1
                                        


Dalam pusaran mimpi yang panjang dan samar, Shin Seoltang melihat dirinya sendiri saat masih kecil, seolah hidupnya diputar ulang seperti film. Ia memandang seorang anak yang mirip dengannya, tersenyum ceria, berlari-larian bermain kejar-kejaran bersama anak-anak lain. Di dekatnya, neneknya berdiri, mengawasi dengan penuh kasih.

Ternyata dulu aku pernah begitu ceria dan penuh semangat, pikirnya.

Suatu hari, matahari bersinar terang, langit terasa lebih tinggi, udara sejuk menyegarkan. Ia melihat dirinya yang kecil mendekati seorang anak laki-laki berpakaian lusuh, duduk sendirian. Sepasang mata bulat itu menatap dengan rasa ingin tahu, tanpa sedikit pun jijik. Anak kecil itu—dirinya—mendekat, menyapa, dan mengajak anak laki-laki itu berbincang, lalu menggandeng tangannya untuk bertemu nenek.

Siapa dia? Seoltang kebingungan dalam mimpinya.

Pandangannya kabur sejenak. Ia menduga kejadian ini terjadi sebelum ia berusia sepuluh tahun—sebelum penculikan—karena ia tak ingat anak itu.

Adegan berganti. Nenek membawa dia dan anak laki-laki itu membeli pakaian baru. Dari baju dekil, anak itu kini tampak bersih dan rapi. Anak itu menangis tersedu.

"Jangan menangis," ujar Seoltang kecil, berusaha menenangkan. "Pakaian ini cocok untukmu."

"Benarkah?" tanya anak itu, suaranya penuh keraguan.

"Tentu saja, Hyeok," jawab Seoltang kecil, tersenyum lebar.

Hyeok? Han Juhyeok? Seoltang tersentak dalam mimpinya. Anak ini... Juhyeok? Jadi dia pernah bertemu nenekku?

Rangkaian peristiwa terus bergulir. Suatu hari, ia melihat dirinya duduk sendirian di taman, muram, bergumam tentang ke mana perginya Hyeok. Lalu, anak itu bangkit, berjalan meninggalkan taman menuju apartemen tua. Dengan langkah ragu, ia berhenti di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.

Seoltang menatap semua itu dengan mata terbelalak. Ia melihat dirinya mendorong ayah Juhyeok hingga jatuh dari gedung dan tewas. Setelah itu, mereka kabur, berpura-pura bermain di taman sepanjang waktu.

Aku pernah... membunuh seseorang, pikirnya, kepalanya tiba-tiba nyeri hebat.

Pandangannya mengabur, menyatu menjadi kelabu. Napasnya sesak, lalu segalanya gelap. Perlahan, ia membuka mata dengan susah payah. Kelopaknya terasa berat, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.

Ia melihat langit-langit kamar berwarna putih. Menoleh ke kiri, ia menemukan Han Juhyeok—pria yang dicintainya—duduk di samping, menggenggam tangannya erat. Wajah Juhyeok pucat, kelopak matanya memerah, alisnya berkerut tegang, tampak sangat lelah.

Menangis? batin Seoltang. Hyeok, jangan menangis. Kenapa kau menangis? Aku sudah melindungimu. Tak ada yang bisa menyakitimu lagi. Atau... ada yang melukaimu? Katakan padaku.

Ia mencoba menggerakkan tangan untuk meraih Juhyeok, tapi tubuhnya tak patuh. Menyadari Seoltang mulai siuman, Juhyeok segera menekan tombol panggil. Tak lama, dokter dan perawat masuk untuk memeriksanya.

"Kau bisa bicara?" tanya dokter dengan lembut.

"Bisa," jawab Seoltang lirih, suaranya serak dan pelan.

Dokter memeriksa matanya dengan senter kecil, memintanya mengikuti gerakan jari ke kiri dan kanan. Setelah beberapa pemeriksaan, dokter mengangguk. "Tidak ada dampak serius pada tubuhnya."

Juhyeok menghela napas lega, wajahnya sedikit lebih cerah.

Perawat membantu Seoltang duduk di ranjang. Baru saat itu ia sadar pergelangan tangan dan kakinya diikat kain ke tempat tidur. Sebelum ia sempat bertanya, psikiater Kim masuk dan meminta semua orang, termasuk Juhyeok, keluar dari ruangan.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang