Seoltang menoleh menatap perempuan yang dulu ia panggil ibu, dan Shin Seonjin, orang yang pernah ia anggap sebagai adik kandung. Jadi selama ini mereka hanya memanfaatkannya, ya? Semua kerja kerasnya—bekerja siang dan malam tanpa henti untuk mencari uang demi mengobati nenek—ternyata sia-sia, karena nenek itu bahkan tidak pernah benar-benar ada. Tapi alih-alih merasa sakit hati atau kecewa karena dikhianati, yang ia rasakan hanyalah kehampaan.
"Selama ini kalian hanya memanfaatkanku, kan? Karena aku masih melihat nenek, kalian pun ikut berdusta. Kau bilang nenek bersamamu agar aku datang ke sini dan kalian bisa selamat, begitu?"
Shin Seonjin tidak sanggup berkata apa pun.
"Ibu juga... tidak tahu malu."
"Kau... apa katamu barusan?"
"Bagaimana bisa memanfaatkan anak sendiri seperti itu?"
"Cukup sudah drama keluarga ini."
Salah satu pria—yang tampaknya pemimpin kelompok itu—menyela dengan wajah penuh rasa jenuh. Ia berjalan mendekati Seoltang dan membungkuk sedikit, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli soal uang. Kalau kau tidak punya uang, tidak masalah. Tapi coba beri informasi sedikit. Kalau kau mau bicara, aku akan benar-benar membiarkanmu pergi."
"Venom," jawab Seoltang singkat.
Ia tidak langsung melanjutkan. Orang ini adalah musuh Venom. Dan sekarang, ia mendekati—tidak, memanipulasi Hayoung dan Shin Seonjin juga, bukan? Saat nama itu disebut, ia tidak bisa menahan rasa bersalah. Han Juhyeok sudah berusaha melindunginya, tapi justru dirinya yang menyakiti Juhyeok lalu melarikan diri... dan kini malah terperangkap dalam situasi seperti ini.
Seoltang mengangkat wajahnya dan menyeringai sinis.
"Aku. Tidak. Akan. Bicara."
Bugh!
Tinju keras menghantam wajahnya hingga hampir membuatnya pingsan dalam satu pukulan. Orang yang memukul mengepalkan tangan, urat di pelipisnya berdenyut tajam.
"Dasar bajingan! Sok tangguh, ya!"
"Ha... hahaha... haaaa..."
Seoltang tertawa histeris, seperti orang kehilangan akal. Kesadarannya seolah telah lenyap. Semua orang di ruangan itu terkejut dan terdiam. Wajah pria yang terikat itu berlumuran darah, rautnya menyeramkan.
"Ayo, lanjutkan! Pukul lagi! Hanya segitu saja? Hahaha! Bunuh aku! Sakiti aku! Bunuh aku sekarang! Bahkan jika aku mati, aku tidak akan bicara! Tidak akan pernah!"
"Dasar orang gila!"
Seseorang hendak kembali memukulnya, tapi dihentikan lebih dulu.
"Cukup! Bisa-bisa dia mati nanti! Dia hanya omong besar! Coba siksa dia. Lihat seberapa lama dia bisa tahan."
Mereka mulai menyiksanya dengan metode waterboarding—menutup wajahnya dengan kain lalu menyiramkan air. Seoltang meronta hebat karena tidak bisa bernapas, tapi tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka akhirnya berhenti karena takut ia benar-benar tewas. Beberapa dari mereka mulai bertanya-tanya apa penyiksaan benar-benar akan berhasil. Tadi saja, ia hampir mati karena menyakiti diri sendiri.
Penyiksaan dilanjutkan dengan sengatan listrik. Seoltang hampir pingsan lagi, tapi mereka tidak mengizinkannya kehilangan kesadaran.
"Sial! Anak ini sebenarnya siapa, sih?! Aku tidak tahan lagi!"
Kelompok mafia itu hampir gila. Biasanya, sekeras apa pun seseorang, jika sudah hampir mati pasti akan berbicara juga. Memang ada orang yang rela mati daripada bicara, tapi itu biasanya anggota mafia tulen. Sedangkan anak ini? Bukankah dia hanya karyawan kantoran biasa?!
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)