Chapter 42

1.6K 64 1
                                        


Ucapan Han Young bagaikan air es yang menyiram kepala Seoltang, membekukan setiap inci pikirannya. "Apa? Apa yang Ibu katakan? Sudah gila, ya?" bentaknya, amarah dan kebingungan bercampur dalam suaranya. "Beberapa hari lalu nenek masih berbicara denganku!"

"Kaulah yang gila, Shin Seoltang!" Ha Young menangis keras, suaranya penuh keputusasaan. "Kau berhalusinasi! Hanya kau yang melihat nenek! Nenek meninggal karena kanker saat kau berusia lima belas tahun! Sadarlah, Tang! Kau harus membantu aku dan Seonjin keluar dari sini!"

Seoltang terpaku, dunia di sekitarnya seolah runtuh. Kenangan-kenangan muncul, menyeretnya ke masa lalu.

---

"Nenek, biar aku yang membersihkan. Nenek istirahat dulu," ujar Seoltang, tersenyum lembut pada wanita tua di depannya.

Nenek membalas senyumnya, mengangguk, lalu melangkah ke samping agar Seoltang bisa masuk ke kamar.

Hari itu, ia berniat membersihkan kamar nenek secara menyeluruh. Tanggal satu Januari 2024 telah tiba, dan ia ingin memulai tahun baru dengan merawat nenek sebaik mungkin. Ia mengeluarkan isi lemari, memilah barang-barang yang harus disimpan atau dibuang. Prosesnya memakan waktu karena ia menemukan tumpukan foto-foto lama. Satu per satu ia tatap dengan rindu, melihat gambar-gambar masa kecilnya yang disimpan rapi oleh nenek.

Saat membongkar laci, ia menemukan sebuah dokumen tersembunyi di sudut terdalam.

Surat kematian. Im Dae-eun.

Seoltang berkedip cepat, menyapu pandangan ke dokumen itu sekali lagi.

Im Dae-eun. Meninggal pada tanggal 18 Juli 2012.

"Seoltang, salju di luar indah sekali. Temani nenek sebentar, ya?"

Ia buru-buru mengembalikan dokumen itu, lalu berjalan keluar. "Ya," jawabnya. Benar saja, salju di luar memukau, seperti yang nenek katakan. Ia menatap perempuan tua itu lama, hingga nenek menyadari pandangannya. Dalam benaknya, bayangan dokumen itu muncul lagi... tapi, dokumen apa itu tadi?

"Ada apa?" tanya nenek, suaranya penuh kelembutan.

"Tidak, hanya berpikir nenek sangat cocok memakai mantel putih," jawab Seoltang, tersenyum kecil.

"Oh, ya? Kalau begitu, nenek akan memakai ini sepanjang musim dingin," candanya.

"Tapi warna biru muda juga bagus."

"Eh? Nenek tidak punya mantel biru muda, kan?"

Seoltang mengerutkan kening, sedikit bingung. "Ada, kok. Aku ingat. Itu... yang nenek pakai sekarang, bukan biru muda?"

Nenek menunduk, memeriksa mantelnya. "Oh, benar juga. Biru muda, ya."

Saat itu, Seoltang tiba-tiba ragu. Mantel nenek berwarna apa sebenarnya? Putih, atau biru muda? Kenapa mantel itu seolah berubah sesuai pikirannya? Kenapa setiap perkataan dan tindakan nenek terasa begitu sesuai dengan bayangannya?

Nenek tersenyum karena ia ingin nenek tersenyum.

Nenek berbicara karena ia membayangkan nenek akan mengatakannya.

Nenek memeluknya karena ia merindukan pelukan nenek.

Ia mencoba mengingat suara nenek... tapi, seperti apa suara nenek? Mereka baru saja berbicara beberapa hari lalu, bukan? Atau... benarkah itu suara nenek?

---

Kenangan lain menyusup, membawanya ke ruang pemakaman yang penuh duka. Im Dae-eun, perempuan yang begitu dicintai, dikenal karena kebaikan dan perhatiannya. Banyak orang datang melayat, ada yang dikenal Seoltang, ada pula yang asing. Orang-orang dewasa berusaha menghibur, tapi kata-kata mereka terasa kosong, tak mampu menyentuh hatinya.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang