Chapter 41

1.7K 61 3
                                        


Dengan hati-hati, Shin Seoltang mengemudikan mobil menuruni bukit. Awalnya, ia diliputi kekhawatiran, takut ada yang mengintai, namun tak ada tanda-tanda kehadiran siapa pun. Ia berhasil mencapai jalan raya dengan lega. Ingatannya tentang rute yang pernah dilalui bersama Kepala Pelayan Kang masih cukup jelas, dan dengan itu, ia melaju ke jalan besar, lalu berbalik menuju kota. Tujuannya jelas: Rumah Sakit Hansung. Hatinya bergemuruh, dipenuhi ketidakpastian.

Saat tiba, waktu sudah menunjukkan hampir jam satu dini hari. Sekelilingnya sunyi, hanya diterangi cahaya temaram. Seoltang bergegas masuk ke rumah sakit dan langsung menuju meja resepsionis. "Saya ingin menjenguk pasien bernama Im Dae-eun. Bolehkah saya tahu di kamar mana beliau dirawat?" tanyanya dengan napas tersengal, suaranya terputus-putus karena berlari. Perawat di sana mengangguk ramah, lalu mulai memeriksa data di komputernya.

"Pasien bernama Im Dae-eun?" Perawat itu mengerutkan kening. "Maaf, saat ini tidak ada pasien dengan nama tersebut yang dirawat di rumah sakit kami."

Seoltang merasa kepalanya seperti dihantam benda berat. Dunianya seolah berputar. "Apa anda yakin? Bisakah anda memeriksanya sekali lagi?" pintanya, suaranya penuh harap.

Perawat itu tampak sedikit bingung, namun tetap memeriksa ulang. "Maaf, benar-benar tidak ada," jawabnya dengan nada tegas namun sopan.

Tanpa sepatah kata, Seoltang berbalik dan berjalan keluar. Pikirannya kacau, penuh pertanyaan yang saling bertabrakan. Nenek tidak dirawat di sini? Bukankah Hyeok bilang nenek ada di Rumah Sakit Hansung? Lalu, di mana nenek sekarang? Kenapa Hyeok berbohong? Bagaimana dengan foto-foto yang pernah ditunjukkan padanya—gambar nenek terbaring di kamar pasien? Apa artinya nenek dirawat di tempat lain?

Kepalanya dipenuhi keraguan. Ia bahkan sempat mencurigai perawat itu berbohong atas perintah Hyeok, mungkin untuk merahasiakan keberadaan nenek demi keamanan. Seoltang menoleh ke pintu masuk yang baru saja ia tinggalkan. Haruskah ia kembali dan menjelaskan semuanya secara rinci? Mungkin perawat itu akan memahami jika ia jujur.

Tiba-tiba, ponselnya berdering, memecah lamunannya. Layar menampilkan nama yang sudah lama tak ia lihat: Shin Seonjin.

Seoltang ragu untuk menjawab. Namun, sebuah pikiran melintas—bagaimana jika Seonjin tahu sesuatu tentang nenek? Meski kemungkinannya kecil, ia tak bisa mengabaikannya. "Jin," sapanya setelah mengangkat telepon. Belum sempat bertanya lebih jauh, suara tangisan keras menyambutnya dari ujung telepon. Seonjin tersedu, kata-katanya tersendat oleh isakan.

"Ada apa, Jin? Kenapa kau menangis?" tanya Seoltang, alisnya berkerut karena bingung. "Kau tahu di mana nenek?"

("Nenek... hiks... nenek ada bersamaku!") Suara Seonjin penuh kepanikan, terdengar tergesa. ("Kenapa kau lama sekali menjawab telepon! Kau tahu tidak, aku dan ibu hampir mati sekarang? Nenek ada di sini!")

Seoltang terpaku, jantungnya seperti berhenti sejenak. Nenek bersama Seonjin? Bagaimana bisa?

Seoltang terpaku, jantungnya seperti berhenti sejenak. Nenek bersama Seonjin? Bagaimana bisa? "Apa nenek baik-baik saja?" tanyanya cepat, tangannya sudah menyalakan mesin mobil. "Kalian ada di mana? Cepat katakan!"

("Di rumah! Di rumah!") jawab Seonjin, suaranya panik dan tersendat isakan. ("Cepat datang, Hyung! Buruan, kalau tidak, kami mati!")

"Baik, jangan biarkan nenek kenapa-kenapa!" Seoltang memacu mobil keluar dari area parkir, menginjak pedal gas dalam-dalam menuju rumah. Hatinya membara, pikirannya kacau. Kenapa nenek bisa bersama Seonjin? Bukankah Hyeok bilang nenek aman di rumah sakit? Apa nenek diculik, dan Hyeok tak melakukan apa-apa? Meski begitu, sedikit kelegaan menyelinap di hatinya—setidaknya nenek masih hidup. Apa pun yang terjadi, ia harus menyelamatkannya. "Tolong, jangan sampai kenapa-kenapa. Kumohon..." gumamnya, suaranya penuh doa.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang