Chapter 38

1.8K 61 3
                                        


"Apa sudah tersambung? Kenapa tidak ada suara?" tanya Seoltang, kebingungan terlihat di wajahnya.

"Mungkin sinyalnya lemah. Kita di pegunungan," jawab Juhyeok, mengulurkan tangan. "Biar kucoba lagi." Seoltang menyerahkan ponselnya. "Tadi pagi perawat melapor bahwa nenekmu makan dengan lahap dan minum obat seperti biasa. Pagi ini, mereka membawanya keluar sebentar dengan kursi roda untuk menghirup udara segar di taman, tapi dia mengeluh kedinginan, jadi segera kembali ke kamar. Setelah itu, dia tidur siang dan baru bangun tadi."

Seoltang mendengarkan, membayangkan neneknya duduk di kursi roda, memandang taman dengan mata lembut, lalu mengeluh karena udara dingin. Orang tua memang lebih peka terhadap cuaca, pikirnya. Sekarang sudah Maret, tapi udara masih menusuk. Wajar jika nenek ingin segera kembali ke kamar. Tidur siang? Kedengarannya seperti rutinitas yang sehat dan lingkungan yang nyaman untuknya. Ia tersenyum kecil, merasa tenang.

"Coba lagi," pintanya.

"Ya." Juhyeok menekan nomor sekali lagi dan menyerahkan ponsel. Seoltang menempelkannya ke telinga. "Nenek, ini Seoltang."

(Oh, Seoltang?)

Suara nenek akhirnya terdengar, lemah tapi penuh kehangatan. Seoltang menghela napas lega, seperti beban di dadanya terangkat.

(Seoltang, apa kabar? Baik-baik saja?) Nada suara wanita tua itu sarat kekhawatiran. (Nenek masih harus di rumah sakit untuk beberapa waktu. Seoltang tidak punya waktu untuk menjenguk nenek?)

"Aku baik-baik saja, Nek," jawab Seoltang lembut. "Tapi aku belum bisa menjenguk sekarang, mungkin masih agak lama. Nenek baik-baik saja di sana?" Awalnya, nenek dirawat di rumah sakit biasa, tapi setelah kejadian itu, Juhyeok segera mengatur pemindahannya ke rumah sakit milik keluarga Han. Alasannya, fasilitas di rumah sakit sebelumnya kurang memadai, dan nenek perlu perawatan lebih intensif.

(Baik-baik saja? Ya, bisa dikatakan baik,) ujar nenek, suaranya sedikit ceria. (Perawat di sini sangat perhatian. Makanannya juga enak. Kondisi nenek sepertinya membaik. Harus berterima kasih pada Seoltang yang membujuk nenek untuk dirawat. Terima kasih sudah bersusah payah, cucuku.)

Senyum Seoltang melebar. "Tidak apa-apa, Nek. Eh, Nenek," ia melirik Juhyeok sekilas, ragu-ragu sebelum melanjutkan, "sebenarnya, kalau kondisi nenek sudah lebih baik dan aku punya waktu, aku ingin memperkenalkan seseorang. Nenek pasti menyukainya."

Nada nenek langsung berubah antusias. (Pacar?)

Seoltang tersipu, pipinya memanas. "Ya, kurang lebih begitu. Dia orang yang selalu membantu, termasuk untuk biaya perawatan nenek."

(Astaga, kenapa tidak cepat membawanya kemari? Nenek harus berterima kasih langsung. Ayo, bawa dia, nenek ingin bertemu!)

"Ya, aku akan segera membawanya," janji Seoltang, hatinya hangat. Obrolan mereka mengalir ringan, seperti dulu saat mereka duduk bersama di beranda rumah. Seoltang memutuskan untuk jujur tentang perawatan kesehatan mentalnya. Awalnya, ia khawatir nenek tak akan memahami—bagaimanapun, di usia nenek yang lebih dari delapan puluh tahun, penyakit mental bukanlah sesuatu yang umum dibicarakan. Benar saja, nenek tampak bingung, tak tahu apa itu depresi, gejalanya, atau mengapa Seoltang sulit mengendalikan pikirannya.

Dengan sabar, Seoltang menjelaskan perlahan, memilih kata-kata sederhana. Untungnya, nenek berpikiran terbuka, mendengarkan dengan serius, berusaha memahami penderitaan cucunya. (Jadi begitu. Kadang Seoltang merasa tak bisa mengendalikan diri, ya?)

"...Ya," gumam Seoltang, suaranya pelan.

(Depresi, ya? Ditambah lagi gangguan... apa itu, gangguan trauma?) Nada nenek bergetar, penuh kesedihan. (Seoltang, cucu nenek...) Suaranya pecah, tersedu pelan. (Kalau hari itu nenek tidak pergi bekerja, kalau nenek bermain dengan Seoltang di taman, kau tak akan diculik. Ini tak akan terjadi.)

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang