Chapter 36

2K 73 0
                                        


Juhyeok tak kuasa menahan tawa, turut tergelak bersama Seoltang. "Haha, setidaknya ini membuatmu tertawa, bukan? Bagiku, itu sudah lebih dari cukup." Ia mendekat lagi setelah mengambil selotip bening dari meja kerja, senyum nakal masih menghiasi wajahnya.

"Dasar konyol, berhenti!" Seoltang tertawa lepas hingga perutnya terasa kaku, air mata menggenang di sudut matanya karena tak bisa menahan tawa.

"Aku tidak menarik, ya?" tanya Juhyeok, memasang ekspresi pura-pura serius.

"Dengan kau begini, tentu saja tidak menarik," balas Seoltang, masih terpingkal.

"Tapi kau masih menyukaiku, bukan?"

"Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku menyukaimu."

"Kalau begitu, aku akan tetap seperti ini." Juhyeok menyilangkan tangan dengan tegas. "Mulai sekarang, saat tampil di media, bekerja, bernegosiasi, atau bertemu siapa pun, aku akan tampil begini."

Seoltang memukul lengan Juhyeok pelan, tak percaya. "Kau gila? Untuk apa melakukan itu?"

"Karena ini membuatmu tertawa," jawab Juhyeok, matanya berbinar penuh kehangatan.

"Cukup sudah. Aku lepas selotipnya." Seoltang mengulurkan tangan, menarik selotip-selotip itu dengan hati-hati. Wajah tampan Han Juhyeok pun kembali seperti sedia kala. "Tiba-tiba saja kau bertingkah aneh. Ternyata kau punya sisi begini?"

"Aku akan melakukan apa saja demi kebahagiaanmu," ujar Juhyeok, meraih tangan Seoltang dan menciumnya lembut. "Aku tahu kau sering merasa rendah diri. Mungkin pikiranmu tak akan berubah dalam satu atau dua hari. Tapi dengar ini: aku menyukaimu apa adanya, seperti apa pun rupa yang kau lihat di cermin. Aku ada di sini untukmu."

"Jika kau belum bisa mencintai dirimu sendiri, tak apa. Biar aku yang mencintaimu untukmu."

"Seperti selama dua puluh tahun terakhir, dan selamanya ke depan."

Nada tulus dan tatapan penuh kasih itu membuat Seoltang terpaku. Ia terdiam, lalu jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, seolah ingin meloncat keluar dari dada. Melihatnya menunduk, berusaha menyembunyikan wajah yang memerah hingga ke telinga, Juhyeok melanjutkan dengan lembut, "Tampan, cantik, atau imut—kata mana yang kau suka?"

"Kenapa kau tanya?" balas Seoltang, suaranya pelan.

"Hanya ingin tahu apa yang kau inginkan."

"...Aku tak pernah merasa tampan."

"Imut?"

Seoltang menggeleng pelan.

"Kalau begitu, cantik?"

Seoltang bergumam, hampir tak terdengar, "Aku tidak cantik."

"Cantik," tegas Juhyeok, suaranya penuh keyakinan. "Bagiku, kau cantik. Sangat cantik, luar biasa cantik."

"Berhenti," ujar Seoltang, nyaris tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Ia ingin menutup mulut Juhyeok agar pujian itu berhenti, tapi hatinya berdesir. Ia tak menyangka dipuji cantik dengan begitu tulus bisa terasa begitu membahagiakan.

"Kau tidak suka dipuji cantik?" tanya Juhyeok, sedikit menggoda.

"..." Seoltang termenung sejenak. Ia tak ingin Juhyeok menyebutnya ganteng—itu terasa salah. Tapi cantik... entah kenapa kata itu terasa berbeda. "Aku cantik?" tanyanya, memberanikan diri mendongak, menatap mata tajam yang penuh kejujuran itu.

"Ya, kau yang paling cantik."

"Ter... terima kasih karena mengatakan itu," gumam Seoltang, wajahnya masih hangat.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang