Chapter 34

2.5K 78 1
                                        


Seoltang langsung melompat berdiri, jantungnya berdegup kencang. Jujur saja, ia hampir tak peduli pada ibu dan adik laki-lakinya. Tapi jika mereka mendekati ibunya, bagaimana dengan nenek? Nenek pasti dalam bahaya. Juhyeok segera memegang tangannya, berusaha menenangkan. "Bagaimana dengan nenekku? Aku harus menemuinya. Aku tidak bisa terus bersembunyi di sini."

"Nenekmu aman," jawab Juhyeok tenang.

"Kau yakin? Bisa menjaminnya? Bukankah tempat ini aman? Kenapa kau tidak membawa nenek ke sini? Tolong, Venom... Juhyeok, kumohon, jangan biarkan nenekku kenapa-kenapa," Seoltang nyaris menangis, gelisah hingga tak bisa lagi duduk menikmati teh. Ia meraih ponsel, ingin menghubungi ibunya, tapi Juhyeok menghentikannya lembut.

"Menghubungi ibumu sekarang bukan ide bagus. Itu bisa menguntungkan mereka."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Tenang dulu." Juhyeok sudah menduga reaksi panik ini. Ia tahu betapa sensitifnya Seoltang soal neneknya, jadi ia telah mempersiapkan segalanya. "Lihat ini," ujarnya sambil menyerahkan ponsel. "Nenekmu ada di rumah sakit milik keluarga Han, dijaga ketat setiap saat."

Seoltang mengambil ponsel itu, menatap layar, dan menghela napas lega saat melihat neneknya baik-baik saja. Tapi sesaat kemudian, ia kembali tegang. "Tapi kenapa nenek di rumah sakit? Apa penyakitnya memburuk?"

"Lihat baik-baik," Juhyeok menunjuk layar. "Wajah nenekmu masih sehat, kan? Aku hanya mencari alasan untuk memindahkannya ke rumah sakit agar bisa diawasi lebih baik. Penyakitnya tidak memburuk." Ia menunduk, menambahkan, "Bahkan, kondisinya membaik. Dokter bilang perawatan terakhir sangat berhasil."

Mendengar itu, beban di dada Seoltang seperti terangkat. Matanya berbinar penuh syukur. "Syukurlah... syukurlah."

"Hm," Juhyeok tersenyum kecil, ikut lega.

"Boleh aku bicara dengan nenek?" tanya Seoltang penuh harap.

"Sekarang?"

"Ya."

"Maaf, itu terlalu berisiko untuk saat ini."

Seoltang mengangguk pengertian, meski ada sedikit kekecewaan. Ia akhirnya tenang, kembali duduk, memandangi foto nenek di ponsel dengan senyum tipis. "Setidaknya nenek baik-baik saja. Aku lega." Ia mengembalikan ponsel. "Lalu, soal mereka mendekati ibuku?"

"Ibu dan adikmu mudah dimanipulasi, cukup dengan iming-iming uang dan sedikit perjudian," kata Juhyeok, memperhatikan ekspresi Seoltang untuk membaca reaksinya. Tampaknya Seoltang memang tak terlalu peduli pada mereka, yang berarti Juhyeok tak perlu terlalu memusingkannya. "Aku berencana memanfaatkan mereka sebagai umpan untuk menjebak musuh. Kau tidak keberatan, kan?"

Seoltang menghela napas panjang. "Aku sudah capek dengan mereka. Aku hanya khawatir pada nenek. Nenek pasti sedih, karena dia juga sayang pada ibu dan Jin."

Juhyeok mengangkat cangkir teh, menyesapnya perlahan, merasa lebih ringan. "Jangan khawatir. Nenekmu paling sayang dan peduli padamu. Dia pasti akan mengerti."

"Hm." Seoltang tersenyum lebar, matanya menyipit ceria. "Setelah ini selesai, aku akan membawamu menemui nenek dan bilang kau kekasihku." Ia memegang tangan besar Juhyeok erat. "Tenang saja, nenekku orang baik. Dia pasti akan sayang dan memanjakanmu. Oh, kalau dipikir-pikir, kau bilang kau kenal aku sejak kecil. Mungkin nenek ingat kau."

"Bisa jadi," Juhyeok mengangguk, ikut tersenyum.

Keduanya mengobrol panjang, Juhyeok menjawab semua pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati Seoltang dengan jujur. Ia bahkan bercerita betapa serunya menguntit Seoltang, yang membuat Seoltang tergelak sekaligus merinding.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang