Chapter 33

2.5K 86 1
                                        


Seoltang terbangun mendekati tengah hari, tubuhnya kini terbiasa dengan gairah malam yang intens sehingga tidak lagi terasa nyeri seperti pertama kali mereka melakukannya. Hal pertama yang selalu dilakukannya adalah mencari kehadiran Juhyeok dengan pandangan. Kali ini, ia mendapati Venom masih tertidur di sisinya, lengannya melingkar erat memeluk pinggangnya.

"Bagaimana bisa kau bangun lebih siang dariku?" gumam Seoltang pelan, bibirnya melengkung kecil. Ia mencium pipi Juhyeok dengan sedikit keras untuk membangunkannya, dan itu berhasil. Suara rendah bergumam dari tenggorokan sebelum sepasang mata perlahan terbuka. Saat menyadari Seoltang bangun lebih dulu, Juhyeok memberikan senyum tipis yang manis. Seoltang merasa pagi ini begitu hangat dan menyenangkan.

"Selamat pagi," sapa Seoltang.

"Selamat pagi," balas Juhyeok, lalu bangkit untuk menanamkan ciuman lembut sebagai sapuan pagi. Ia turun dari ranjang, memperlihatkan tubuhnya yang hanya mengenakan celana panjang. Semalam Seoltang tidak sempat memperhatikan, tapi kini, melihat otot-otot tegas yang terpahat jelas, ia diam-diam merasa jantungan. Pria ini terlalu memikat. "Mau makan apa? Aku akan buatkan sesuatu."

"Hm, telur orak-arik saja."

"Baik."

Seoltang mengenakan piyama longgar, melirik sekilas ke bawah bajunya. Banyak tanda merah menghiasi dadanya—jejak kepemilikan Juhyeok. Tak diragukan lagi, tubuhnya pasti penuh dengan tanda serupa. Venom memang gemar menandai apa yang dianggapnya miliknya. Saat Juhyeok membelakanginya, wajah Seoltang memanas. Ia tak bisa protes, karena ia sendiri meninggalkan banyak goresan di punggung lebar itu.

"Aku mandi dulu," ujarnya.

"Pakaianmu di lemari."

"Hm."

Seoltang melangkah ke lemari. Pakaian baru dengan ukuran pas sudah tersedia, kemungkinan besar disiapkan Juhyeok. Setelah memilih, ia masuk untuk mandi sementara Juhyeok menyiapkan sarapan. Seoltang merasa kebahagiaan sederhana ini sulit dijelaskan—hidup bersama seperti yang selalu ia bayangkan kini terasa begitu nyata. Tak butuh waktu lama bagi Juhyeok untuk menyiapkan makanan, lalu ia bergabung untuk mandi bersama.

Usai mandi, mereka duduk menikmati sarapan. "Aku sudah minta pengurus rumah Kang menyiapkan meja teh di rumah kaca," kata Juhyeok. "Nanti sore kita bisa santai di sana, menikmati teh sambil melihat bunga-bunga."

"Baiklah," Seoltang mengangguk. Ia ingin bertanya sesuatu, tapi Juhyeok menyarankan untuk membicarakannya nanti di rumah kaca. Setelah makan, mereka akhirnya keluar rumah. Di sekitar mereka, hutan terhampar tenang, dengan gemericik air terdengar dari kejauhan. "Ada air terjun di sini?"

"Benar. Mau ke sana?"

"Mau."

"Aku antar nanti. Jangan pergi sendiri, berbahaya."

"Baik."

....

"Kau pasti punya banyak pertanyaan untukku. Aku akan ceritakan semuanya," ujar Juhyeok sambil berjalan, tangannya menggenggam erat tangan Seoltang, menuju rumah kaca di taman belakang. Ia merapikan syal Seoltang dengan lembut, memastikan kehangatan menyelimutinya. Salju sudah mencair, tapi udara masih menusuk.

"Seperti yang kau tahu, aku bukan Han Juhyeok, anak tunggal Han Gon Woo yang asli. Tapi aku sudah terlibat lama dengan keluarga ini. Ada tawaran yang tak bisa kutolak, dan Han Gon Woo tidak akan mendapat apa-apa jika anaknya menghilang begitu saja. Kami punya kepentingan yang saling menguntungkan."

"Oh," Seoltang mencengkeram tangan besar itu lebih erat, tubuhnya sedikit menggigil karena dingin.

"Kau kedinginan?"

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang