3. ࿔prince xiel࿔

21.1K 937 18
                                        


𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆

Malam hampir berganti pagi, tetapi tak membuat Vincent mengalihkan pandangan barang sedetik pun dari buntalan mungil di atas kasur king size-nya.

Pikirannya masih memutar kenakalan sang kaka kecil. Ini pertama kalinya Xiel melanggar aturan tak tertulis yang telah ditetapkan untuk bayi besar itu. Kaka kecilnya ini bahkan sampai terluka akibat kecerobohannya sendiri.

"Ughhhhh... huhuhu dingin..." mata bulat itu perlahan terbuka karena merasa kedinginan. Tangan kecilnya meraba-raba, berharap menemukan selimut, tetapi ternyata tak ada.

Tubuh ringkihnya meringkuk, berharap bisa menghalau rasa dingin yang semakin menusuk.

Sedangkan Vincent tak memiliki sedikit pun niat untuk membantu Xiel. Ia sengaja tak menutup pintu balkon dan melempar asal selimut yang berada di atas kasur sejak masuk tadi. Anggap saja ini hukuman darinya.

Karena tak tahan dengan rasa dingin yang teramat, Xiel akhirnya bangun dan mengedarkan pandangannya.

Deg.

Mata bulatnya bertemu dengan mata tajam adiknya-Vincent.

1 detik.

5 detik.

1 menit.

Mata bulat itu mulai memerah dengan napas yang mulai memburu. Xiel takut jika ia mengedipkan mata atau mengalihkan pandangannya, Vincent akan semakin marah.

Ughhh... lihatlah tatapan tajam adiknya itu, seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.

Huhuhuhuhu.

Sedangkan Vincent berjalan menuju balkon untuk menutup pintunya. Ia pikir hukumannya cukup sampai di sini karena seperti asma Xiel sudah kambuh akibat kedinginan.

Begitu pintu balkon tertutup rapat, Vincent berbalik ke arah Xiel dan segera duduk di tepi kasur. Tangan besarnya terulur, mengelus pipi bulat kemerahan sang kaka.

"Kenapa, Kaka?" Tanya Vincent.

"Ughh... Xi-Xiel dingin, Vie..." suara dengan nada pelan itu bergetar.

"Pe-peluk..."

Kedua tangan mungil Xiel terangkat, meminta pelukan hangat dari sang adik.

Tanpa banyak berkata, Vincent segera memeluk tubuh mungil Xiel. Ia mengubah posisinya dengan bersandar di kepala ranjang dan memindahkan Xiel ke pangkuannya.

Tangan besarnya memeluk tubuh mungil itu dengan erat.

"Stttt... bernapas perlahan, hmm?" Vincent memberi instruksi.

"Apa sudah cukup hangat, Kaka?" Suara itu terdengar lembut.

"Terima kasih, Vie." jawab Xiel, dengan suara yang mendayu.

Tatapan tajam itu mulai melembut, memperhatikan sang kaka yang kini telah meringkuk di atas pangkuannya. Sesekali Vincent mencium dan menghirup rakus rambut halus yang beraroma stroberi itu.

Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang