KEYLA POV

Aku sedikit kaget, karna suara itu sangat mirip dengan seseorang

"Jeanny?"

Tak ada jawaban, yang kudengar hanya isakan tangis

"Jeanny?" sapaku sekali lagi, untuk meyakinkan apakah benar itu Jeanny atau tidak

"Keylaaaaa," ucapnya disebrang telepon dengan suara tangisan

"Hey ada apaa?" tanyaku heran

"Fikri!"

Aku kaget, aku mulai berpikiran yang aneh aneh apabila Jeanny menyebuykan nama Fikri dengan tangisan

Aku terdiam sesaat

"K–kenapa?"

"Dia meninggal—"

Trekk~

Ponselku seketika saja terjatuh, lalu aku segera mengambilnya

"J–jangan bohong! Kau dimana?"

"A–aku tak berbohong, aku di rumah Fikri komplek Permata Asri blok G no 16"

Aku segera mematikan telepon, dan berlari

Saat aku berlari, tetesan air mataku mulai berjatuhan ke pipi,

Dan aku terjatuh, karna aku merasa kakiku sudah tak kuat lagi untuk berlari

Aku terhanyut dalam isakan tangis, posisiku tak berubah masih duduk rna terjatuh,

Rasanya aku ingin sekali segera berlari kencang menuju rumah Fikri, tapi— rasanya badanku lemas, aku tak sanggup lagi,

Aku berharap kejadian ini hanya sebuah mimpiku, dan beberapa saat kemudian aku terbangun— tapi itu semua mustahil,

Beberapa orang menghampiriku, menanyakan

"Nak kamu kenapa?"

"Ade ga apa apa?"

"Kakak jangan nangis gitu dong"

Yaa rata rata itulah kata kata yang mereka lontarkan,

Aku tak bisa menjawab perkataan mereka, aku hanya menangis dan menangis

Seorang kakak kakak datang memghampiriku, dia— bang Gafrin?

Tanpa basa basi bang Gafrin segera menggendongku, lalu kami masuk ke dalam taksi— kebetulan dari tadi taksi itu memang diam disitu

Di dalan taksi aku terus menangis, aku melihat bang Gafrin sedang melirik jam dengan muka panik,

"A–abang" ucapku tersedu sedu

"Abang tau, abang juga merasakan kepergian ini."

Aku hanya menangis.

Akhirnya kami sampai di rumah Fikri, sebentar— tidak, kami langsung ke pemakanan Fikri. Karna kebetulan Fikri langsung di makamkan.

Aku berlari terbirit birit menuju makam Fikri, menerobos orang orang—

Tak ada isakan tangis yang terdengar, hanya isakan tangis ku saja yang terdengar,

"Jangan sedih sayang, jangan menangis, relakanlah kepergian anakku—Fikri, ikhlaskan dia, berdoalah supaya amal ibadahnya diterima di sisi-Nya." ucap ibu ibu yang kurasa ia adalah ibunya Fikri,

"Keyla, jangan nangis gitu— Fikri ga suka liat kamu nangis!" ucap Jeanny sambil mengelap air mataku yang membanjiri pipiku,

"A–aku" belum sempat ku menyelesaikan pembicaraanku Jeanny telah menarikku kebelakang,

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!