Happy Reading guys
Suara sirene mobil yang memudar seiring kepergian Zean dan Sean membawa Gracia ke rumah sakit menjadi melodi terakhir di halaman kediaman Natio. Chriz, Ferrel, Lio, dan Gito hanya bisa terdiam, diselimuti bayangan kelam yang menggantung. Tubuh Armada yang tak bernyawa di sudut ruangan menjadi saksi bisu kekejaman yang baru saja terjadi. Cello, wakil ketua Devil Claws, masih tergeletak pingsan, napasnya tersengal.
Chriz menatap Lio, ada kepanikan yang terpancar jelas di mata temannya itu. “Gimana, Yo? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita bisa bilang soal Aldo ke Om Sean dan Tante Gracia di rumah sakit?”
Lio menunduk, menggeleng pelan. "Enggak, Chriz. Jangan sekarang. Mereka sudah terlalu banyak menanggung beban. Kita tunggu sampai Tante Gracia sadar dan kondisi agak tenang."
Ferrel menghela napas berat, menendang kerikil di tanah. "Tapi sampai kapan? Aldo butuh kita. Dia butuh semangat dari keluarganya."
Gito menepuk pundak Ferrel. "Kita percaya sama Adel. Dia pasti menjaga Aldo. Sekarang, kita urus dua orang ini, seperti yang Om Sean minta."
Mereka berempat akhirnya bergerak, menyeret tubuh Armada dan Cello keluar dari rumah, mencari tempat tersembunyi untuk "mengamankan" mereka. Dalam keheningan malam yang mulai merayap, ada firasat tak menyenangkan yang menghantui. Pertempuran memang telah usai, tapi apakah kemenangan ini sepadan dengan harga yang harus dibayar?
...
Di rumah sakit William, ketegangan terasa begitu pekat. Ashel, Indah, Marsha, dan Kathrin duduk terpaku di kursi tunggu, mata mereka tak lepas dari pintu UGD. Adel, yang sejak tadi berusaha menenangkan Ashel, kini hanya bisa terdiam, bayangan kata-kata dokter terngiang di benaknya: "pendarahan di kepala... koma... waktu yang cukup lama..."
Pintu UGD terbuka. Seorang perawat keluar, membawa beberapa lembar rekam medis. Ashel langsung berdiri, matanya penuh harap, namun ekspresi perawat itu datar.
"Bagaimana keadaan Aldo, Sus?" tanya Ashel, suaranya bergetar.
Perawat itu menghela napas. "Kondisi pasien Aldo Natio memang sangat serius. Pendarahan di otaknya cukup parah. Dokter sudah melakukan yang terbaik, tapi..."
Ada jeda yang terasa begitu panjang, mengulur-ulur napas setiap orang di sana.
"...Pasien kehilangan banyak darah, dan cederanya mengenai area vital di otak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tubuh pasien tidak merespons pengobatan." Perawat menatap mereka dengan tatapan iba. "Mohon maaf, kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
Dunia Ashel runtuh. Suara perawat itu seperti palu godam yang menghantam hatinya. "Apa... apa maksudnya, Sus?" tanyanya, tak percaya.
"Aldo... dia sudah pergi."
Kata-kata itu melayang di udara, menusuk jantung setiap orang. Ashel membeku, tangannya jatuh lemas. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras, membasahi pipinya. Indah, Marsha, dan Kathrin langsung memeluknya, ikut menangis tersedu-sedu. Adel, yang biasanya tegar, kini hanya bisa menunduk, bahunya bergetar hebat. Rasa bersalah menghantamnya—ia yang membawa Aldo ke sini, ia yang seharusnya bisa menjaganya lebih baik.
Kepergian Aldo, sang pangeran bungsu keluarga Natio, pemimpin yang berapi-api, kini menyisakan luka yang menganga. Pertempuran sengit itu, dendam kesumat yang melanda, telah memakan korban paling berharga.
Zean tiba di rumah sakit dengan Gracia dalam gendongan Sean. Gracia langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Zean menunggu dengan cemas di luar, mondar-mandir. Tiba-tiba, ia melihat Ashel dan teman-temannya di depan UGD. Wajah mereka sembab, mata merah.
Zean menghampiri mereka dengan cepat. "Ashel! Ada apa? Kenapa kalian nangis?" tanyanya, firasat buruk mulai menghantui.
Ashel mendongak, matanya yang bengkak menatap Zean. "Aldo... Zean..." Suaranya pecah.
Zean merasakan jantungnya mencelos. "Ada apa dengan Aldo? Jangan bilang..."
Marsha yang tak tahan lagi, akhirnya angkat bicara. "Aldo... dia sudah tiada, Zean."
KAMU SEDANG MEMBACA
DARKEAGLE (END)
ActionHappy Reading Guys Btw Ini cerita Pertama Gue Jadi mohon maaf ya kalau Ceritanya kurang menarik
