Shin Seoltang berdiri kaku, tubuhnya tegang. Reaksinya tidak jauh berbeda dari yang diperkirakan pria tinggi itu, namun dia tetap memberikan senyum manis. Dia mengangguk pada Pelayan Kang untuk pergi lebih dulu, lalu menggandeng tangan orang yang telah lama dinantinya masuk ke dalam. Seoltang memandang sekeliling ruangan yang luas dan terbuka. Furnitur, dinding, dan dekorasi semuanya bernuansa warna sederhana. Sebagian tirai masih terbuka, dikelilingi jendela kaca besar, membuatnya tahu bahwa ini adalah rumah peristirahatan.
"Duduk di sini dulu. Santai saja," kata Venom... Han Juhyeok, mengajaknya duduk di sofa besar. Tubuh kecil itu menurut meski masih tegang. "Kau ingin minum sesuatu? Perjalanan ke sini pasti dingin. Mau sesuatu yang hangat?"
"Cukup air putih," jawab Seoltang.
"Hm." Wajah tampan itu tetap tersenyum lembut. Dia mengambil segelas air putih, meletakkannya di meja, lalu duduk di sisi berlawanan. "Mengantuk? Sekarang sudah jam dua pagi. Maaf mengganggumu larut malam."
"Kenapa harus sekarang?" Seoltang tidak berani menatapnya, hanya menunduk, dan itu sedikit mengganggu Juhyeok, meski dia juga merasa gemas.
"Larut malam paling aman. Aku sudah memastikan tidak ada yang mengikuti mu," jawab Juhyeok.
"Mengikuti?" tanya Seoltang.
"Ya. Aku akan mulai menjelaskan. Sebenarnya, akhir-akhir ini kau tidak bisa menghubungiku karena aku sangat sibuk. Kau pasti tahu," Juhyeok memulai. "Tapi rencana sedikit berubah, jadi aku meminta kau tinggal di sini bersamaku untuk sementara."
Seoltang mendongak mendengar itu. "Tinggal di sini?"
Pria tinggi itu menyesap air. "Hm."
"Tidak bisa. Aku harus bekerja," protes Seoltang.
"Aku akan mengurus izin kerjamu," kata Juhyeok.
"...Aku tidak bisa tinggal di sini," ujar Seoltang.
"Kenapa?" tanya Juhyeok.
"Aku harus mengunjungi nenek," jawab Seoltang.
Juhyeok memandangnya sambil berpikir. "Bukankah biasanya kau sibuk bekerja sehingga jarang mengunjungi nenek? Kau mengirim uang pada ibumu untuk merawatnya."
"Meski begitu..." Seoltang terdiam.
Mata tajam Juhyeok menyipit. "Sepertinya kau lebih tidak ingin tinggal di sini bersamaku."
Seoltang mengerutkan kening, kedua tangannya saling menggosok, lalu bertanya dengan gagap, "Kau benar-benar Venom, bukan?"
"Tentu saja. Apa kau tidak mengenali suaraku?" balas Juhyeok.
"Ada apa? Katakan padaku." Juhyeok mengulurkan tangan, menyentuh pipi halus itu dengan lembut, tapi Seoltang memalingkan wajah. Rautnya jelas menunjukkan kecemasan dan ketidaknyamanan, membuat pria tinggi itu mengerutkan kening. "Ada apa denganmu? Bukankah kau selalu ingin melihat wajahku?"
"Aku..." Seoltang gelisah, tidak bisa diam. "Aku pernah menduga kau mungkin orang terpandang dengan hobi aneh seperti menguntit, jadi kau tidak bisa memperlihatkan wajahmu. Tapi tiba-tiba kau mengungkapkan siapa kau. Meski aku pernah menduga... aku tidak tahu harus bersikap bagaimana."
"Han Juhyeok... Venom... entah kenapa, aku merasa kau bukan Venomku."
Mata tajam Juhyeok meredup, tidak lagi memantulkan cahaya. Wajah yang tadi tersenyum kini datar, menunjukkan ketidaksenangan atas apa yang didengarnya. "Jadi, karena aku Han Juhyeok, aku bukan milikmu lagi? Kau mencintai Venom, tapi tidak mencintai Han Juhyeok, meski kami sama?" Nada suaranya dingin, membuat pendengarnya semakin cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)