Hayoung tersenyum penuh kepuasan saat memandang uang puluhan juta won yang ada di dalam tasnya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kesulitan sejak suaminya meninggal dunia, wanita yang dulunya hidup bergelimang kemewahan itu kini akhirnya kembali merasakan keberuntungan. Ia dulunya hidup tanpa harus bekerja, tak pernah menyentuh air dingin dengan tangannya sendiri, selalu makan makanan enak, dan memakai pakaian mahal.
Suaminya yang seorang pebisnis meninggalkan tumpukan utang saat meninggal dunia. Dari rumah besar, ia pindah ke rumah kecil yang reyot. Tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan. Putra sulungnya, Shin Seoltang, juga dianggap tidak berguna. Sementara anak bungsu kesayangannya, Shin Seonjin, sejujurnya malah lebih buruk dari kakaknya. Meski begitu, ia tetap memilih untuk mencurahkan kasih sayangnya pada Seonjin.
Meski keduanya adalah anak kandung, tapi perlakuannya berbeda. Anak sulung seharusnya bisa diandalkan, bukan malah menjadi beban. Hayoung sendiri berasal dari keluarga terpandang dan selalu dimanja, sehingga tidak pernah merasa perlu belajar atau bekerja. Ia menikah dengan seorang pebisnis dan hidup dalam kenyamanan—tapi semua itu runtuh karena anak sulungnya.
Hayoung tidak punya keterampilan apa pun, karena selalu berpikir ia tidak membutuhkannya. Saat harus mencari uang, ia hanya bisa mengandalkan kerja kasar. Ia tidak tahan menjadi bawahan, akhirnya dipecat dari pekerjaannya sebagai pelayan restoran dan kasir di pusat perbelanjaan. Pada akhirnya, ia harus mengiris ikan di pasar, menghadapi bau amis dan lingkungan kotor setiap hari.
Ketika utang menumpuk dan penghasilan tidak cukup, satu-satunya jalan keluar yang ia pikirkan adalah berjudi. Ketika menang, ia senang dan terus menambah taruhan demi lebih banyak uang. Ketika kalah, ia hanya ingin kembali modal. Ia terjebak dalam lingkaran itu hingga akhirnya kecanduan tanpa sadar. Sumber penghasilan utamanya adalah uang bulanan dari Seoltang, yang seharusnya digunakan untuk membayar utang keluarga, namun diam-diam ia alihkan untuk berjudi. Sayangnya, tidak lama kemudian tindakannya itu terbongkar.
Meskipun berat, ia harus mengakui bahwa ia bergantung pada anak sulungnya. Sementara Seonjin bisa hidup santai tanpa bekerja, anak sulungnya harus bekerja keras dan menjadi tulang punggung keluarga. Belakangan ini, Seoltang tiba-tiba punya banyak uang, entah dari mana asalnya.
Ia tahu betul bahwa bagi Seoltang, ibu dan neneknya sangatlah penting. Maka dari itu, ia menyebut biaya pengobatan nenek sebesar dua juta won per bulan—dan Seoltang langsung setuju. Ia sempat heran dari mana anak bodohnya itu mendapat uang sebanyak itu, tapi akhirnya memilih untuk tidak mempermasalahkan. Uang tetaplah uang.
Beberapa bulan berlalu, ia meminta dua juta won per bulan, kadang lebih dengan berbagai alasan. Kini jumlahnya sudah mencapai puluhan juta won. "Anak ini tidak sia-sia dilahirkan. Jin, anak ibu," ucapnya sambil memanggil Seonjin, si bungsu kesayangannya.
Ia tersenyum lebar dan menyerahkan segepok uang. "Ambil ini."
"Dari mana Ibu dapat uang sebanyak ini?" tanya Seonjin heran sambil menerima uangnya.
"Dari Seoltang, tentu saja."
"Biaya pengobatan nenek yang Ibu sebut-sebut itu, ya?"
"Benar."
"Memang selalu berhasil ya kalau bawa-bawa nama nenek," gumam Seonjin. "Aku sempat mengancam mau memberitahu nenek, tapi tidak mempan."
"Itu karena kau tidak mengaitkannya langsung ke nenek," jawab Hayoung, seolah mengajari. "Kalau tahu Seoltang punya uang sebanyak ini, seharusnya Ibu minta sepuluh juta sekalian bulan depan."
"Lima atau tujuh juta cukup, Bu," Seonjin menyarankan. "Kalau terlalu banyak, bisa mencurigakan. Minta perlahan lebih aman. Toh, kita sudah tidak perlu bayar utang lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)