Chapter 27

2.8K 111 0
                                        

Mata tajam Venom menatap layar komputer besar, alis tebalnya berkerut. Layar menampilkan enam belas jendela kecil. Jendela kelima menunjukkan sudut kamar tidur Shin Seoltang. Venom mengklik untuk memperbesar gambar itu hingga penuh.

Anak baiknya berkeringat, tersentak bangun, jelas dari mimpi buruk. Seoltang memandang sekeliling, wajahnya penuh rasa sakit, lalu mengeluarkan suara lelah, "...Venom."

Pria yang dipanggil hanya bisa menatap melalui layar.

"Venom... kau di mana?"

Nada setengah tersedu itu mengalir dari alat sadap melalui speaker. Venom merasa jantungnya diremas keras. Dia tak ingin buru-buru pergi. Dia tak ingin jauh dari Seoltang, tak ingin menghilang di pagi hari atau kapan pun. Dia ingin bersama Seoltang setiap saat, tapi sekarang belum bisa.

Dia melirik layar lain yang menunjukkan ponsel Seoltang sedang diretas. Venom sengaja membiarkan peretas itu masuk, melihat obrolan palsu yang dia buat. Meretas ponsel Seoltang tak pernah terpikirkan hingga hari itu, saat anak kecilnya melakukan sesuatu yang tak seharusnya—mencari "teman tidur". Seoltang miliknya, bagaimana dia bisa diam saja? Dia ingat betapa paniknya saat itu, tak seperti dirinya, hingga ceroboh meninggalkan jejak peretasan. Itulah alasan dia dilacak.

Andai jejak lain, mungkin tak masalah. Tapi ini ponsel Seoltang, artinya anak baiknya terseret dalam bahaya. Venom tahu siapa pelakunya, dan Lee Taesong adalah anteknya. Mungkin saatnya menyingkirkan orang itu, sekaligus membuang nama "Venom" dan memulai hidup baru bersama Seoltang.

Venom sudah lama di dunia ini, terlalu lama untuk membersihkan semuanya dalam waktu singkat. Tujuannya adalah keluar dari dunia gelap, bukan hal mudah. Dia mengurus ini sambil berusaha kembali ke Korea. Begitu tiba, hal pertama yang dilakukannya adalah mencari Shin Seoltang.

Saat menemukannya, dia tak bisa berhenti mengawasi. Awalnya, dia berniat diam hingga rencana keluar dari dunia gelap selesai, baru mendekati Seoltang. Hari demi hari, dia merindukan wajahnya, ingin bicara, memeluk, dan memberikan cinta. Tapi dia hanya bisa memandang. Namun, dia mendapati anak ceria dari masa lalu itu kini tumbuh menjadi pria yang hancur.

Ketika Seoltang melakukan hal tak terduga—mencari teman tidur—Venom naik darah, kehilangan kendali, dan memilih memperlihatkan bahwa ada seseorang yang selalu mengawasi. Sebagai penguntit, jujur saja, awalnya dia menikmati. Sangat menikmati.

Dia menikmati ketakutan, kecurigaan, dan perlawanan Seoltang, seperti hewan kecil yang meronta di tangan pemburu. Seoltang kecanduan memuaskan diri untuk melepas stres. Jika dia pernah mencari teman tidur, itu berarti dia butuh seseorang. Kenapa bukan dirinya?

Dia mengetahui masalah keuangan keluarga Seoltang dan memutuskan membantu. Uang bukan masalah baginya, dan itu membuatnya menjadi penolong. Tak lama, mereka mulai menjalin hubungan fisik. Jujur, Venom sangat puas, dan Seoltang tampaknya juga menikmati keintiman mereka.

Lengan Seoltang penuh bekas luka. Luka itu bukan karena ingin mati, tapi untuk bertahan hidup—sinyal diam meminta pertolongan. Darah yang mengalir hanya berharap ada yang memeluknya. Venom yakin dia bisa mengisi kekosongan Seoltang, tapi kenyataannya tidak.

Dia hampir kehilangan akal saat pagi itu bicara dengan Seoltang, mendengar nada gembira di suaranya. Dengan nada ceria itu, Seoltang menceritakan bagaimana dia dibunuh dengan kejam dan dikubur di hutan dalam. Kata-kata yang terus meminta Venom membunuhnya membuat perasaan aneh bergolak di hatinya.

Marah? Kesal?

Sedih? Duka?

Bersalah?

Mungkin semua itu bercampur.

Dia terlambat.

Entah sejak kapan Seoltang mulai hancur. Lima tahun lalu? Sepuluh? Lima belas? Berapa tahun dia terlambat? Andai dia ada di sisi Seoltang, setidaknya dia tak akan sesakit ini, kan? Sekadar ada seseorang di sisinya, meski tak menyelesaikan masalah, hanya mendengar. Memikirkan itu, dia marah pada dirinya sendiri.

Venom memijat alisnya yang mengernyit, stres hingga kepalanya pening. Kenapa dia tak bisa berbuat apa-apa? Bahkan pergi ke sisi Seoltang saat dipanggil pun tak bisa.

Dia menggertakkan gigi, memandang tubuh kecil itu berusaha tidur kembali. Sesekali, dia melirik layar lain. Orang itu masih mencoba menembus IP-nya. Venom memasukkan alamat palsu. Layar lain menampilkan deretan data mengalir cepat. Banyak yang harus diurus, kepalanya nyaris meledak.

Dia ingin membuang semuanya dan pergi kesamping Seoltang sekarang, tapi dia menahan diri. Data yang dia pegang membuatnya jadi peretas yang diburu banyak pihak. Dia harus berhati-hati. Dulu, dia menikmati pekerjaan ini—melihat segalanya berputar di telapak tangannya. Di dunia nyata, orang-orang berpengaruh, terkenal, atau berkuasa, di balik layar, rela berlutut memohon padanya.

Selama ini, meski lelah, senyum Seoltang selalu menyembuhkan hatinya, seperti dulu. Akhirnya, saatnya bertemu langsung. Dengan keputusan itu, dia mulai merencanakan pensiun dari dunia peretas, membuang semua yang pernah dibangun, dan menciptakan identitas baru di dunia terang—untuk hidup bersama Shin Seoltang, cinta sejatinya.

Saat ini, dia sedang mengurusnya. Jika satu hal saja bocor, identitasnya terungkap, semuanya hancur—dan Seoltang akan dalam bahaya. Hanya karena ceroboh meninggalkan jejak peretasan ponsel Seoltang, masalah sudah cukup besar.

Tiba-tiba, pesan masuk. Satu tangan meninggalkan keyboard, mengambil ponsel, dan membukanya.

Seoltang: Hei

: Kau sudah tidur?

V: Belum

Satu tangan sibuk mengetik di keyboard, tangan lain membalas pesan, matanya beralih antara layar besar dan ponsel.

V: Kau mimpi buruk?

Seoltang: Iya

: Meski tak bisa bersama sampai pagi

: Tapi kenapa harus buru-buru pergi?

: Baru jam tiga pagi

: Biasanya jam empat atau lima kau baru pergi, kan?

: Kejam

Venom mengangkat alis.

"Kejam," katanya?

V : Kau sangat menggemaskan saat mengomel.

: Kebetulan ada yang harus diselesaikan

Seoltang: Sedang kerja?

V: Yup

Seoltang: Kalau gbeitu aku tidak akan ganggu

Venom mendongak ke layar, melihat Seoltang cemberut. Dia tersenyum dalam hati—lucu sekali.

V: Mau teleponan sambil kutinggalkan bekerja?

: Tapi kau hanya akan dengar suara keyboard

Wajah Seoltang tampak membaik.

Seoltang : Hm

: Oke

.

.

.

.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang