Chapter 24

2.9K 120 5
                                        


Saat istirahat makan siang, Lee Taesong naik ke atap untuk menikmati angin sepoi-sepoi. Ia bersiul santai, puas karena berhasil menjalankan tugasnya. Awalnya, Crimson membantunya menyusup ke perusahaan tempat Seoltang bekerja untuk mendekatinya, bahkan sampai memalsukan ijazah dari universitas yang sama sebagai dalih pendekatan. Tapi ternyata, rencana itu benar-benar gagal karena Seoltang sangat sulit didekati.

Rencana berikutnya pun jauh lebih sederhana: menyambungkan alat khusus ke ponsel Seoltang untuk meretas datanya. Tadinya ia kira akan sulit karena Seoltang selalu membawa ponselnya, tapi pagi ini, ia berhasil melakukannya.

Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di sekeliling, ia menelepon Crimson.

(Bagaimana? Sudah dapat hasilnya?)

Lee Taesong tersenyum. "Awalnya kupikir akan sulit cari celah, tapi ternyata berhasil juga. Dia pergi ke toilet dan lupa membawa ponselnya. Jadi aku bisa sambungkan alatnya. Besok aku akan serahkan alat ini." Ia menatap perangkat kecil di tangannya sambil tersenyum puas. "Oh, ya. Meskipun susah didekati, aku dengar banyak hal menarik tentang Seoltang."

(Apa itu?)

"Awalnya dia orang yang sangat tertutup, semua orang enggan mendekat. Tapi tiba-tiba, ada yang sering kirim camilan ke mejanya, mirip orang yang sedang mendekati. Lalu setiap siang dia selalu dapat makanan delivery yang mewah untuk ukuran pegawai biasa, dan terus-terusan ada kiriman bunga juga."

(Kedengarannya seperti pacar biasa saja, bukan?)

"Tapi itu semua terjadi bersamaan dengan saat Venom mulai meretas ponselnya. Ingat, kau bilang intensitas pesan mereka terlalu sering untuk urusan bisnis, kan?"

Hening sejenak sebelum Crimson tertawa terbahak-bahak. (Serius? Hahaha! Venom punya hobi seperti itu? Mengirim makanan dan bunga? Aku tidak bisa membayangkannya. Hacker nomor satu?)

"Menurutmu, apa sebaiknya kita harus mulai fokus kepada Seoltang saja?"

(Tentu. Entah dia hanya main-main atau bukan, pasti ada sesuatu yang bisa kita dapat dari dia.)

....

Seoltang merasa makin tidak tenang ketika tahu bahwa semua yang dikatakan Venom itu benar. Kekhawatiran itu terus membayangi hingga ia pulang ke rumah. Saat itu, ibunya menelepon. Ia ragu-ragu cukup lama sebelum akhirnya mengangkat.

"Halo, Bu."

(Seoltang, aku sudah bilang sebelumnya biaya perawatan Nenek dua juta won, kan? Tadi aku ke rumah sakit lagi, dokter bilang untuk tahap awal harus empat juta won. Aku mau minta tambah, bisa transfer besok? Katanya, makin cepat ditangani makin bagus.)

"...." Seoltang tidak bisa berkata-kata. Empat juta won? Awalnya ia hanya janjikan dua juta pada Venom. Meminta tambahan tentu terdengar tidak enak. Tapi akhirnya ia menyanggupi permintaan ibunya.

Belum sempat menenangkan diri, telepon dari adiknya, Seonjin, masuk.

(Hyung, jujur aja ya. Aku penasaran kau dapat uang dari mana? Kau sudah bayar utang, bantu biaya rumah sakit, padahal kau bilang tidak punya uang. Tapi kenapa sekarang kau punya banyak uang. Kau bekerja secara ilegal, ya?)

"..."

(Jangan diam aja. Kalau punya cara gampang cari uang, kenapa tidak memberitahuku juga? Aku juga butuh uang.)

"Aku tidak bisa memberitahumu."

(Kenapa? Kau bekerja pada orang jahat, ya? Aku fleksibel kok, kenalkan saha aku pada mereka. katakan aku adikmu.)

"Tidak bisa."

Seonjin mulai kesal. (Kenapa kau sangat pelit!)

"Itu bukan urusanmu."

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang