A romantic Story About Serena part 14 dan 15

310K 9.1K 546

by Santhy Agatha

blog : anakcantikspot.blogspot.com

twitter : @santhy_agustina

Facebook fanpage : Santhy Agatha


BAB 14

 

Sejak saat itu Damian seolah-olah menghilang dari kehidupan Serena, Serena merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen.

Hari ini Rafi sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Vanessa dan suster Ana mereka pulang ke apartemen. Suster Ana memutuskan untuk tinggal sementara membantu Serena, dan Vanessa sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi rafi dan melakukan terapi rutin.

Kata Dokter Vanessa, Damian memutuskan mengambil tugas perjalanan ke eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama.

Dada Serena terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri, Oh ya, dia merindukan Damian, sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Serena mencintai Damian. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Damian, itu saja.

“Aku tidak menyangka bosmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya,” Rafi memecah keheningan, menatap Serena dengan sedikit menyelidik, dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Serena begitu murung,

“Aku yang membujuknya,” Vanessa yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Serena pasti kebingungan dengan pertanyaan Rafi itu, “Damian adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kamu adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Damian mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen itu tidak terpakai”

Diam-diam Serena dan suster Ana menarik napas lega mendengar kelihaian dokter Vanessa menjawab.

Mereka sampai di apartemen, dan Serena mendorong kursi roda Rafi memasuki ruangan itu.

Begitu mereka masuk tanpa sadar Serena mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya. Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Damian, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….

“Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Serena, bos mu sangat baik,” Rafi mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Serena sambil tersenyum,

Mau tak mau Serena memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu…… Serena melirik kamarnya, tempat Damian juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Tidak ! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu !

Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan segalanya sehingga Rafi selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Suster Ana menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.

Setelah memastikan Rafi tertidur pulas, Vanessa menyeduh teh dan mengajak Serena duduk di ruang depan.

“Dia sudah kembali dari eropa,” Vanessa membuka percakapan, menatap Serena dari atas cangkir kopi yang diteguknya.

Seketika itu juga hati Serena melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan sebagai ‘dia’ itu.

“Apakah dia baik-baik saja?,” Tanya Serena pelan.

Vanessa tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Serena,

“Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya,” dengan pelan Vanessa  meletakkan cangkirnya, “Yah, dia baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon,” Vanessa terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Serena, “Yah….. dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja”

A Romantic Story About SerenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang