A Romantic Story About Serena part 12 dan 13

262K 9K 402

by Santhy Agatha

blog : anakcantikspot.blogspot.com

twitter : @santhy_agustina

Facebook fanpage : Santhy Agatha

BAB 12

 

Serena berlari, tanpa sadar melepaskan diri dari pelukan Damian, dia berlari penuh air mata, ke kamar perawatan Rafi, kerinduannya membuncah, rasa syukurnya tak tertahankan,

Ketika sampai di depan pintu perawatan nafasnya terengah, dia berhenti karena pintu itu masih di tutup rapat, suster Ana tergopoh-gopoh mengejarnya,

"Serena, jangan masuk dulu, dokter baru menstabilkan kondisinya"

Penantian itu terasa begitu lama, sampai kemudian Serena diijinkan masuk, hanya lima menit untuk sekedar menengok Rafi, setelah itu dokter harus mengevaluasi kondisinya Rafi lagi.

Dadanya sesak tak tertahankan ketika mata itu balas menatapnya, mata yang selama ini terpejam, tertidur dalam damai, membuat Serena menanti, mata itu sekarang terbuka, hidup, dan balas menatapnya,

"Rafi,”

Suara Serena serak oleh emosi, dan tangisnya meledak, dia menghampiri tepi ranjang, ke arah Rafi yang masih terbaring, pucat dengan alat-alat penunjang kehidupan yang masih menopangnya, tapi hidup dan membuka mata.

Serena meraih tangan Rafi dan menciumnya, lalu menangis

"Rafi"

Banyak yang ingin Serena ungkapkan, dia ingin mengucap syukur karena Rafi akhirnya bangun, dia ingin merajuk karena Rafi memilih waktu yang begitu lama untuk terbangun, dia ingin menangis kuat-kuat, tapi semua emosi menyebabkan suaranya tercekat di tenggorokan.

Air mata tampak menetes dari pipi Rafi, lelaki itu mencoba berbicara, tetapi tampak begitu susah payah,

“Stttt…. Kau tidak boleh bicara dulu,” gumam Serena lembut, mencegah Rafi berusaha terlalu keras, “Mereka  memasang selang di tenggorokanmu, untuk makanan, kau koma selama kurang lebih dua tahun,

Mata Rafi menatap Serena, tampak tersiksa, dan dengan lembut Serena mengusap air mata di pipi Rafi,

“Nanti, setelah mereka yakin kondisimu membaik, mereka akan melepas selang itu dan kau akan bisa berbicara lagi, tapi sekarang, kau cukup mengangguk atau menggeleng saja ya, sekarang…,” Serena menelan ludah, menahan isak tangis yang dalam, “Sekarang kita harus mensyukuri karena kau akhirnya terbangun, ya ?”

Rafi menganggukkan kepalanya,dan seulas senyum dengan susah payah muncul dari bibirnya,

“Sekarang istirahatlah dulu, dokter akan mengecek kondisimu lagi,” bisik Serena lembut ketika melihat isyarat dari dokter yang menunggui mereka,

Ketika Serena akan beranjak, genggaman Rafi di tangannya menguat, Dengan lembut Serena menoleh dan memberikan senyuman penuh cinta kepada Rafi,

 “Aku tidak akan kemana-mana, aku harus menyingkir karena dokter akan memeriksamu lagi, tapi aku tidak akan kemana-mana, aku akan berada di dekat sini sehingga saat kau butuh nanti aku akan langsung datang,”

Pegangan Rafi mengendor, lelaki itu mau mengerti. Dengan lembut Serena mengecup dahi Rafi dan melangkah menjauh keluar ruangan perawatan. Air matanya mengucur dengan derasnya ketika dia melangkah menghampiri suster Ana. Suster Ana masih berdiri di sana dan Serena langsung berlari ke arahnya, menangis keras-keras,

“Dia sadar suster… dia akhirnya sadar… aku masih tak percaya, selama ini aku hampir kehilangan harapan. Mulai berpikir kalau Rafi memang tidak mau bangun, mulai berpikir kalau semua perjuanganku ini sia-sia…. Tapi sekarang..,” Serena terisak, “Aku tak percaya bahwa pada akhirnya dia sadar… dia kembali dari tidur panjangnya, dia ada di sini untuk aku…. ,”

A Romantic Story About SerenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang