Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir sebelum hari esok menyambut hari baru di tahun yang baru.
Seperti kebanyakan yang orang lain lakukan, keluarga Adibrata akan pergi liburan, mereka juga meliburkan semua pekerja untuk pergi liburan walaupun hanya sebatas di dalam pulau, tapi tidak ada yang mengeluh tentu saja karena walaupun hanya di dalam pulau, banyak yang bisa dilakukan.
Begitu juga dengan keluarga Adibrata itu sendiri.
Tahun ini mereka akan merayakan malam tahun baru di pinggir pantai.
Sekarang sudah pukul sepuluh malam, mereka baru berangkat menuju pinggir pulau dimana pantai itu berada.
Mereka berangkat menggunakan satu mobil, dengan Papa Sean yang menyetir, di sampingnya ada Cavero yang duduk sambil memangku Alta dan di kursi bagian belakang ada Kakek dan Nenek.
Begitu sampai, mereka terutama para orang dewasa langsung sibuk dengan tugas masing-masing.
Suasana malam tahun baru ini cukup cerah, ditemani bulan yang bersinar, juga disana sudah dipasang beberapa lampu.
Sedangkan Alta dan Cavero langsung lari beberapa langkah dari tempat kesibukan para orang dewasa dengan Cavero yang membawa dua kursi dengan cara diseret, sedangkan Alta membawa sebuah kotak berisi berbagai petasan dan kembang api.
Setelah dirasa cukup jauh tapi masih dalam jangkauan orang dewasa, Cavero meletakkan kedua kursi itu.
"Adek sini, duduk dulu." ucap Cavero pada Alta yang masih berjalan beberapa langkah di depannya.
Alta berhenti dan menengok ke belakang, melihat Cavero yang sedang menata kursi mereka.
Alta akhirnya memutar arah dan kembali menghampiri Cavero.
"Ayo mulai main." ucap Alta begitu sampai di depan Cavero.
Cavero mengambil alih kotak yang sedari tadi dibawa Alta, kemudian berjongkok dan membukanya, diikuti oleh Alta yang juga ikut memilih.
Cavero mengambil sebungkus kembang api dan sebatang lilin.
"Abang ke Papa dulu ya, mau nyalain lilinnya. Adek tunggu disini." kata Cavero pada Alta yang sedang membolak-bali sekotak kecil petasan banting.
"Okeee~"
Mendengar jawaban dari sang adik, Cavero segera berdiri dan langsung berbalik, berlari kecil pada kumpulan para orang dewasa yang sudah mulai memanggang berbagai macam makanan.
"Papa," panggil Cavero begitu sampai dan langsung mengangkat tangan kanannya yang memegang lilin pada Papa Sean.
"Aku sama Adek mau main kembang api." jelas Cavero.
Papa Sean mengangguk dan mulai menyalakan lilin yang dipegang Cavero, "Hati-hati ya,"
Belum sempat mendapat jawaban dari Cavero, mereka dikejutkan dengan suara petasan yang beruntun. Semua mata langsung otomatis memandang ke tempat dimana Alta terlihat berdiri.
"Adek," panggil Cavero sambil berjalan dengan pelan menuju Alta, Cavero takut lilin yang dipegangnya mati.
"Adek kenapa?" tanya Cavero begitu sampai di samping Alta.
"Tadi, bukanya susah." Alta mengeluh. "Terus Adek buka kan, kaya gini." Alta mempraktekkan caranya membuka plastik yang membungkus petasannya. "Kebuka! Tapi jatuh semua." Alta mengakhiri ceritanya dengan menunjuk kertas-kertas kecil yang ada di dekat kakinya.
Cavero tertawa mendengar cerita Alta. Jelas saja suaranya tadi beruntun. Karena petasan bantingnya jatuh semua secara bersamaan tadi.
Cavero meletakkan lilin dan kembang api yang sedari ia pegang dan mengambil sekotak petasan banting. "Membuka nya harus seperti ini." Cavero membukanya secara perlahan, kemudian mengambil satu petasan dan melemparnya.
Tak
"Cara mainnya seperti itu."
"Oh~"
Alta segera mengambil alih petasan yang berada di tangan Cavero dan mulai memainkan petasannya dengan sesekali tertawa.
Tak
Tak
Tak
Tak
Cavero ikut tertawa melihat Alta yang anteng melempar petasannya dengan semangat.
Cavero mulai menyalakan kembang apinya, yang ia pegang di tangan kiri dan kanannya.
"Uwaaah~ cantik~ Adek mau satu." Alta mencoba meraih kembang api yang dipegang Cavero.
"Ini." Cavero memberikan satu kembang api nya pada Alta. "Hati-hati ya, jangan terlalu dekat." Cavero mendorong pelan tangan Alta supaya jauh dari wajahnya.
Keduanya sibuk bermain tanpa sadar Nenek Risa yang sudah berkali-kali memotret keduanya.
Tugas Nenek Risa memang menjadi tukang foto malam ini, Nenek Risa memotret kegiatan mereka, meskipun lebih banyak memotret kedua cucunya daripada anak atau suaminya sendiri.
Sedangkan di tempat para laki-laki dewasa, satu menu sudah matang.
Nenek Risa yang melihat itu segera menggelar karpet yang cukup besar yang biasa dipakai mereka untuk piknik.
Setelah itu Nenek Risa menata minuman dan mengambil menu pertama yang sudah matang, yaitu jagung bakar.
"Abang, Adek." panggil Nenek Risa yang sudah duduk di atas karpet.
Cavero dan Alta yang masih asik bermain langsung menengok ke arah Nenek Risa.
"Sini makan dulu." mendengar itu, Alta dan Cavero langsung berlari ke tempat Nenek Risa.
"Ini, satu dulu ya." ucap Nenek Risa membagikan masing-masing satu jagung bakar kepada Cavero dan Alta begitu keduanya sudah duduk dengan nyaman.
"Adek, ini apa namanya?" "Adek, itu panas."
Cavero dan Nenek Risa berkata diwaktu yang bersamaan kepada Alta yang sedang menggigit jagung bakarnya.
Walaupun kepanasan, Alta tetap menjawab, "Hahung hahal."
Seketika Cavero dan Nenek Risa tertawa, kenapa? Kenapa tingkah laku Alta lucu sekali, mereka selalu berhasil dibuat tertawa karenanya.
Tidak terasa, satu per satu makanan yang mereka panggang mulai matang.
Sekarang, semua orang sedang duduk di karpet yang digelar oleh Nenek Risa.
Tepat pada pukul 00.00, kembang api yang sangat cantik dan banyak menghiasi langit malam.
Kedua mata Alta begitu berbinar melihat pemandangan itu, begitu juga dengan Cavero.
“Selamat tahun baru.”
