Chapter 23

3.2K 127 3
                                        


Seoltang memaksa membuka matanya yang terasa begitu berat, menatap pria di hadapannya cukup lama. Ia menggenggam erat tangan besar itu karena tidak ingin pria itu pergi. Entah kenapa, hari ini ia merasa jauh lebih rapuh dari biasanya. Seoltang menyalahkan demamnya yang membuat dirinya selemah ini. Biasanya, saat sakit, ia harus mengurus dirinya sendiri, tetapi kali ini ia justru ingin manja dan meminta Venom tetap berada di sisinya. Ia menggesekkan pipinya ke telapak tangan pria itu dengan manja.

"Kau bisa tetap bersamaku sampai pagi?"

Venom merasa hatinya melemah seketika mendengar permintaan manja itu dan langsung menjawab, "Aku akan tetap bersamamu sampai kau tertidur."

"Aku ingin membuka mata dan melihatmu saat bangun."

Tangan besar lainnya membelai lembut kepala Seoltang dengan penuh kasih sayang. "Aku juga ingin begitu, tapi sayangnya saat ini belum bisa."

Seoltang menundukkan pandangan. "Aku tidak mengerti kenapa kau seperti ini."

"Kau tidak perlu mengerti."

"Hm?"

"Kau sudah mengikutiku cukup lama, bukan?"

"Kenapa kau tanya begitu?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran."

"Aku baru bertemu denganmu belum lama."

"Apa yang membuatmu tertarik mengikuti orang seperti aku, hm?" Seoltang mengerucutkan bibirnya saat hidungnya dicubit pelan.

"Berhenti berpikir dan tidurlah. Kalau tidak, demammu tidak akan turun besok."

"Agar kau bisa cepat-cepat pergi, ya?"

Di balik topengnya, Venom tersenyum tipis. "Kau tidak ingin aku pergi, ya?"

"Iya. Tetaplah di sini bersamaku," gumam Seoltang lirih. "Tidak ada yang pernah tinggal bersamaku."

Venom tidak menjawab, membiarkan Seoltang terus memohon manja seperti itu. Biasanya Seoltang adalah orang yang acuh pada orang lain, menganggap bahwa lebih baik hidup dan mati sendirian. Tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa kesepian dan kosong. Kini ia mulai menyadari betapa ia sangat mendambakan cinta. Bahkan ketika seseorang hanya berpura-pura memberikannya, ia tetap ingin memeluk dan tidak melepaskannya.

"Venom... kau mencintaiku?"

"Tentu saja."

"Kau sunggguh-sungguh?"

"Ya. Aku mencintaimu."

Aku berharap kata-katamu benar-benar tulus...

Tidak lama kemudian, Seoltang tidak kuat melawan demamnya dan akhirnya tertidur. Venom tetap berjaga di sisinya, menatap wajah yang tertidur lelap itu dalam diam. Setelah tiga puluh menit berlalu, ia memperbaiki topi dan masker yang menutupi wajahnya, lalu berjalan keluar dari kamar.

Sekali lagi, Seoltang terbangun dan mendapati dirinya sendirian. Ia tahu sejak awal bahwa Venom tidak akan menemaninya sampai pagi, tapi tetap saja ia berharap pria itu akan tetap di sisinya. Ia segera mengambil ponsel dan mengirim pesan.

Seoltang: Selamat pagi.

V: Selamat pagi.

: Bagaimana keadaanmu?

: Sudah merasa lebih baik?

Seoltang: Sudah.

: Terima kasih untuk tadi malam.

Terima kasih karena sudah menemaniku.

V: Tidak apa-apa.

: Kau bisa berangkat kerja, kan?

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang