"Ini Lee Taesong, anak magang yang mulai magang di departemen kita hari ini," kata Choi, yang kini menjadi Kepala Choi setelah menggantikan Kepala Park yang ditangguhkan sementara. Pria tinggi dengan senyum cerah, wajah tampan, dan tubuh atletis itu membuat hati banyak wanita di ruangan berdebar.
"Halo, aku Lee Taesong. Aku akan berusaha belajar sebanyak mungkin dari magang ini," katanya penuh semangat. Semua bertepuk tangan menyambut.
"Dia akan masuk tim C. Tim C, tolong bantu dia," kata Kepala Choi.
Seoltang mendongak saat mendengar timnya, tim C, disebut. Dia hanya berharap anak baru ini tidak menambah beban kerjanya. Lee Taesong diperkenalkan ke tim. "Ini Shin Seoltang. Eh, kalian dari Universitas F juga, ya?"
"Oh, benarkah? Angkatan berapa, Hyung?" tanya Taesong.
"Eh," Seoltang mengingat, "Angkatan 21, sepertinya."
"Aku angkatan 30. Lee Taesong, senang bertemu, Seoltang Hyung," katanya sambil tersenyum dan membungkuk. Seoltang mengangguk balas. Setelah itu, Taesong melanjutkan perkenalan dengan yang lain. Awalnya, Seoltang hanya berpikir agar anak ini tidak merepotkan. Kini, dia berharap Taesong berhenti mengganggunya.
Mungkin karena baru masuk dan belum akrab dengan siapa pun, Taesong menganggap senior dari universitas yang sama adalah orang yang paling bisa diandalkan.
"Hyung, ini caranya gimana?"
"Hyung, aku tidak paham bagian ini."
"Hyung, bisa tolong lihat ini?"
Seoltang hanya bisa menghela napas setiap dipanggil. Ini membuat pekerjaannya, yang seharusnya selesai hari ini, tertunda. Meski kesal, dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Capek, ya?" seseorang menyapanya saat dia bersiap pulang. "Hari pertama Lee Taesong, tapi dia super antusias. Kalau terus begini, bagus, bukan."
"Eh, iya," jawab Seoltang.
"Katanya dia banyak tanya padamu. Mungkin karena kalian dari universitas yang sama. Di mata anak itu, kau pasti senior yang bisa dipercaya dan diandalkan."
Senior yang bisa dipercaya dan diandalkan...?
"Begitu, ya?" balas Seoltang.
"Iya," kata perempuan itu sebelum berlalu. Kim Minji adalah salah satu dari sedikit orang yang ramah padanya, tapi tak segenit Kepala Park. Seoltang membawa tasnya, berjalan keluar kantor. Saat menunggu lift, Lee Taesong berlari menghampirinya, terengah-engah.
"Hyung!" panggilnya.
"Mau pulang?" tanya Taesong, napasnya tersengal karena berlari.
"Iya."
"Aku ingin pulang juga, tapi harus lanjut kerja sedikit. Oh ya, di luar hujan deras. Hyung tidak bawa payung, kan?" Taesong sepertinya memperhatikan. Seoltang mengangguk. Taesong menyodorkan payung. "Ini, payung ku. Hyung pakai saja."
"...Kau sendiri bagaimana?"
"Aku bawa dua, kok. Pakai ini, nanti Hyung masuk angin."
Seoltang masih ragu, tapi Taesong memaksa memasukkan payung ke tangannya.
"Ambil saja."
"Eh, senyum terima kasih," kata Seoltang akhirnya menerima. Dia memakai payung itu menuju stasiun kereta. Sesampainya di rumah, dia langsung mengirim pesan pada Venom, melapor sekaligus bertanya apa malam ini dia akan datang. Tapi, lama menunggu, pesan itu tak dibaca. Seoltang menghela napas, meletakkan ponsel, mandi, lalu melanjutkan pekerjaan yang harus selesai besok. Tak lama, kepalanya pusing, dan dia tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)