"Kau tahu perasaanku padamu, dan kau bisa memanfaatkannya. Apa pun yang kau inginkan, aku akan berikan. Cukup bohongi aku dengan kata cinta itu terus-menerus."
Kata-kata Venom masih bergema di kepalanya, mengganggunya sejak malam tadi hingga kini, saat dia bekerja. Seoltang mengetik, tapi pikirannya berputar pada hal yang sama. Dia merasa sedikit kesal. Kenapa Venom mengatakan itu?
Pria itu... bicara seolah dia benar-benar mencintainya.
Dari sekadar mainan, kini Seoltang jadi orang yang memanfaatkan perasaan Venom. Ingin apa, akan diberikan, asal berbohong tentang cinta... kalau begitu, dia yang jahat, bukan? Sial, aku tak percaya padamu, sama seperti kau tak percaya padaku. Saat dia bilang suka mengobrol, Venom juga tak percaya, kan?
Awalnya, Venom tak memaksanya bilang cinta secara langsung, tapi situasi mendorongnya ke sana. Lagipula, siapa yang tak tahu itu kebohongan yang menyenangkan pendengarnya?
"Hah..." Tubuh kecil itu menghela napas pelan.
Karena selalu berbohong, kini saat dia mulai merasa tulus, kepercayaan itu tak didapatkan.
Hubungan mereka memang tak dimulai dari kepercayaan...
"Seoltang, sudah waktunya meeting," panggil seorang rekan kerja, menyadarkannya dari lamunan. Seoltang mengiyakan, buru-buru mengambil dokumen dan mengikuti ke ruang rapat. Dia mendengarkan presentasi proyek terbaru sambil memeriksa dokumennya, lalu terhenti saat menyadari bagiannya belum selesai.
"Seoltang?" panggil seseorang.
"Eh, iya," jawabnya tergagap. Shin Seoltang tak pernah gagal seperti ini. Dia panik, tak tahu harus berbuat apa. Dia bukan orang hebat, tapi kelebihannya adalah tanggung jawab. Merasa bersalah, dia bangkit, membungkuk, dan meminta maaf pada semua orang di ruangan. Banyak yang tampak terkejut.
"Ini pertama kalinya kau membuat kesalahan, ya? Lain kali tidak lagi, kan?" kata seseorang.
"Iya, maaf," jawab Seoltang.
Dia duduk kembali. Ini gara-gara dia terlalu tenggelam memikirkan Venom dan urusan intim mereka, hingga mengganggu pekerjaan. Padahal, Venom tak pernah mengusik saat dia bekerja—dialah yang tak bisa fokus. Jika terus begini, pasti buruk.
"Jadi, Seoltang, selesaikan bagianmu besok, ya. Kalau tidak, tim kita akan repot. Aku serahkan padamu."
"Iya."
Seoltang mengangguk, lalu berjalan keluar bersama yang lain setelah rapat selesai. Dia mampir membuat kopi sebelum kembali bekerja. Saat berdiri di dekat jendela, dia melihat hujan deras di luar, hingga nyaris tak bisa melihat apa-apa, tertutup tirai air.
Sial, apa hujan akan berlanjut sampai pulang? Karena tak memeriksa ramalan cuaca, dia tak tahu akan hujan dan lupa bawa payung. Saat melamun, notifikasi dari orang yang sama berbunyi.
V: Dimarahi saat meeting, ya?
: Kasihan.
: Mau aku urus orang itu?
Seoltang: Mengurus apa?
: Itu salahku sendiri.
V: Ada apa? Kau baik-baik saja?
: Biasanya kau tak pernah gagal soal kerja.
: Kerja kan penting buatmu.
Seoltang berpikir, 'ini gara-gara kau...;
Seoltang: Aku juga bisa salah.
: Kau sedang apa?
V: Aku sedang bekerja.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)