Chapter 19

4.3K 148 2
                                        


Di ruangan yang remang-remang, cahaya layar komputer menerangi seorang pria yang sibuk dengan sesuatu. Wajahnya tegang, jari-jarinya menari di atas keyboard. Data berlimpah memantul di kaca mata tebalnya. Tiba-tiba, notifikasi muncul, mengganggu konsentrasinya. Dia melirik layar lain dengan kesal.

Taxus: Halo, Crimson.

: Apa kabar?

Crimson: Ada apa?

Taxus: Kau pasti tertarik dengan info ini.

: Peretasan yang tak bisa dilacak.

: Kerjaan sebersih ini hanya segelintir orang yang bisa melakukannya di dunia.

: Kabar baiknya, pelakunya ada di Korea Selatan, sama sepertimu.

Crimson: Venom ada di Korea Selatan?

: Menarik.

: Terima kasih banyak.

: Aku akan membalas budimu.

Taxus: Oke.

Crimson—nama kode pria itu di dunia peretas. Setelah bertahun-tahun berkecimpung, menghasilkan uang berlimpah, dan dipercaya menangani keamanan banyak perusahaan, serta meretas data tak terhitung, Crimson yakin tak ada yang bisa menyainginya.

Hingga beberapa tahun lalu, sistem keamanannya dihancurkan dengan mudah oleh pendatang baru bernama kode Venom. Venom menggemparkan dunia peretas dengan menguasai data dari berbagai sumber, seolah mengumumkan perang. Debutnya begitu megah.

Tak butuh waktu lama, nama Venom dikenal di kalangan peretas global, menjadi buruan—baik untuk tujuan baik maupun buruk.

Di era ini, Crimson percaya tak ada yang lebih berharga dari data. Venom punya harga tinggi di pasar gelap karena merugikan banyak pihak, tapi di saat bersamaan, banyak kelompok bersedia membayar mahal. Tak ada sistem keamanan yang lolos dari tangannya. Sistem terbaik hanyalah yang dibuat Venom dan belum diretasnya. Perusahaan saingan berebut merekrut Venom dengan tawaran uang fantastis. Kadang, mereka hanya ingin nama Venom untuk meningkatkan kredibilitas dan nilai saham perusahaan.

Bagi Crimson, Venom bertindak seperti dewa. Dengan gerakan jari kecil, dia bisa mengubah segalanya. Para penguasa dunia—swasta maupun pemerintah—takut pada nama ini. Rahasia mereka digenggam satu orang.

Crimson pernah kalah telak. Sejak itu, dia terus melacak Venom selama bertahun-tahun. Pria itu bagai hantu—tak pernah meninggalkan jejak. Identitasnya misteri total. Hingga baru saja, dia mendapat kabar menarik dari teman terpercaya.

Melihat data peretasan itu, Crimson tak bisa menahan senyum. Dia menemukan peretasan ponsel yang terlalu aneh untuk sekadar peretas biasa. Bahkan Crimson tak bisa melacak lebih jauh.

Dia yakin itu ulah Venom.

Apa yang pria itu lakukan di Korea Selatan?

Crimson nyaris tak percaya. Peretasan ponsel? Dengan data yang sudah dimilikinya, kenapa Venom repot-repot meretas ponsel? Pasti orang penting—presiden, politikus, raja, ketua bank sentral, atau pengusaha besar. Tapi Crimson terkejut saat tahu targetnya hanya pegawai kantoran biasa.

Pria Korea bernama Shin Seoltang. Crimson yakin pria ini menyimpan rahasia. Kalau tidak, Venom takkan turun tangan. Yang Crimson tahu, Venom berusaha mengakses ponsel pria ini. Selain itu, tak ada petunjuk lain. Venom memblokir semua akses, dan mencoba menembusnya akan membuatnya curiga.

Maka, Crimson mengalihkan fokus ke Shin Seoltang. Meretas ponsel berarti mereka tak saling kenal secara pribadi, atau Seoltang menolak berkomunikasi dengan Venom, sehingga Venom memilih cara ini. Dari frekuensi kontak—pesan dan telepon—meski isinya tak diketahui, itu terlalu sering untuk urusan bisnis.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang