"Uhh, akhh... ngg..." Seoltang menangis, air mata dan air liur meleleh, tak lagi punya kesadaran. Dia melirik jam—tinggal sepuluh menit menuju tengah malam. Menahan diri hampir lima jam membuat pikirannya kacau. Dengan susah payah, dia meraih penutup mata, memakainya, lalu merangkak ke depan pintu dengan sisa tenaga.
Dia menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, menghitung detik dalam hati. Tepat tengah malam, suara kunci pintu berderit. V membelalak, tak menyangka akan disambut pemandangan ini. Seoltang telanjang, duduk dengan kaki terbuka, tubuhnya berkedut di lantai. Penutup mata membuatnya tampak lebih menggoda. Keringat membasahi tubuhnya, wajahnya memerah, putingnya yang merah muda mengeras, dan bagian intimnya yang kecil berdiri tegang.
Yang paling menarik perhatian adalah lubangnya yang kini tampak sangat melebar. Bibir lubang itu basah oleh cairan bening, berkedut dan membuka-tutup berirama, seolah mengundang V untuk masuk.
Seoltang terengah.
"V?" gumamnya.
V berjongkok. "Seoltang, anak baik, kenapa kau di sini dalam kondisi begini? Kalau yang membuka pintu bukan aku, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya tanpa mengharap jawaban. "Sekarang, katakan, apa yang kau ingin aku lakukan?"
"B-biarkan aku orgasme... tolong, biarkan aku orgasme."
V tersenyum. "Baiklah, ini hadiah karena kau sudah bertahan." Dia sangat puas. Tak disangka Seoltang begitu patuh. Awalnya, dia bahkan tak yakin Seoltang bisa bertahan. V meraih ekor alat itu, menariknya keluar dari lubang Seoltang hingga terdengar suara "plop". Bersamaan, dia membuka celananya, memasukkan batangnya yang sudah mengeras dengan urat-urat menonjol ke dalam lubang itu.
"Ugh, ahhh!" Seoltang menjerit, tak menduga diserang secepat ini. Belum sempat menarik napas setelah alat itu ditarik, batang besar dan panjang V masuk dalam sekali dorongan, menghantam dinding dalamnya. Seoltang tersentak kesakitan, namun seketika melepaskan cairan putih keruh dalam jumlah banyak. "Huu, umhh..."
Tubuh kecil itu terengah, dadanya naik-turun, membuat puting merah mudanya yang mengeras menarik perhatian V.
"Pantas saja kau bertahan lama, kau melepaskan banyak sekali," kata V.
"Uhh..."
"Mau lagi?"
"Uhh, lagi."
"Sesuai keinginanmu." V mengangkat tubuh Seoltang dengan kedua lengan. Seoltang tersentak, tangannya meraba-raba hingga akhirnya mencengkeram leher V, takut jatuh. Dia diangkat melayang. Kekuatan V luar biasa—selama perpindahan ini, batangnya tak sedikit pun terlepas.
"Ugh! Uhh! Hati-hati!" Setiap langkah V membuat tubuh Seoltang menghantam batangnya, mendorongnya masuk lebih dalam hingga sulit dijelaskan. Tangan kuat V mencengkeram pinggul kecil itu, tapi Seoltang masih takut jatuh, tubuhnya menegang.
"Jangan menegang, kau meremas batangku," bisik V. Lubang lembut Seoltang mengerat, membuat V sedikit kesakitan, tapi dia tak peduli. Dia mulai menggerakkan pinggul, menghantam masuk. Tubuh kecil Seoltang terlonjak-lonjak mengikuti dorongan. Hantaman V sudah berat, ditambah bobot tubuh Seoltang, membuatnya terasa menyakitkan.
Namun, rasa sakit itu segera berubah jadi kenikmatan yang membuncah. Sensasi menyebar dari lubangnya ke pinggul, paha, hingga dada. Ini terasa luar biasa. Inilah yang dia nantikan seharian—diisi oleh V, bukan alat tumpul itu.
"Hiks, hah..." Seoltang menghirup udara, merasa hampir kehabisan napas. Dia menikmati batang panas yang besar itu keluar-masuk dengan ganas, tanpa jeda. Sensasinya makin kuat saat tangan besar V meremas pinggulnya. V sendiri tampaknya juga hampir mencapai puncak; suara seraknya mengerang penuh gairah.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)