Chapter 17

4.4K 151 2
                                        


Setelah selesai membereskan diri di kamar mandi, Seoltang berjalan keluar dengan lemas. Pengalaman baru ini terasa begitu menyenangkan, anehnya. Hari demi hari, Seoltang merasa dirinya semakin mesum, sampai-sampai diam-diam memakai mainan seks dan mencapai klimaks di kamar mandi kantor. V yang melakukan ini... tidak, lebih tepatnya, V-lah yang membuatnya melihat sisi dirinya seperti ini.

Sekembali ke mejanya, Seoltang terkejut melihat seikat mawar putih di sana. Dia memandangnya bingung. Rekan kerja di meja sebelah menjelaskan, "Ada yang mengirim ini untukmu, Seoltang. Katanya kau tak mengangkat telepon, jadi aku suruh mereka taruh di meja."

"Oh... iya."

Seoltang: Kau yang mengirim bunga untukku?

V: Suka?

Seoltang: Suka.

: Terima kasih.

V: Senang kau suka.

: Bunga apa yang kau suka?

: Aku akan mengirim lagi.

Seoltang: Sebenarnya aku tak ingin merepotkanmu.

V: Kau tak ingin bunga dariku?

Seoltang: Bukan.

: Aku suka mawar ini.

V: Mengerti.

: Kerjakan pekerjaanmu.

: Aku tak akan mengganggu lagi.

Seoltang: Hmm.

Sebenarnya, Seoltang tidak begitu menyukai bunga. Dia hanya menjawab asal agar V senang. Dia ingin membuangnya karena mengganggu di meja, tapi tak bisa. Dia meminjam vas dari petugas kebersihan dan menata bunga itu ke dalamnya. Siapa pun yang lewat memandang bunga di mejanya. Sepertinya itu jadi topik pembicaraan baru setelah makan siang mewahnya.

"Seoltang, manajer HR memanggilmu," kata seseorang.

"Ne," jawabnya.

Seoltang bangkit dan berjalan ke ruang manajer HR. Di sana, Kepala Park sudah berdiri di depan meja. Seoltang berpikir dalam hati bahwa dia tak perlu takut—dia bukan yang salah. Dia menarik napas dalam untuk menenangkan diri, lalu melangkah masuk dan berdiri di samping Kepala Park.

"Shin Seoltang-Ssi, aku ingin tahu detail kejadian antara Anda dan Park Youngjoo," kata manajer HR langsung ke inti. Seoltang menceritakan semuanya sesuai fakta. "Jadi, Anda mabuk dan mendekati Seoltang dengan niat melecehkannya, ya? Aku kecewa, Park Youngjoo-Ssi. Selama ini kinerja Anda bagus, tapi sekarang video Anda menyebar di seluruh perusahaan. Ini bisa merusak reputasi perusahaan."

"..."

"Kami akan menangguhkan Anda tanpa batas waktu dan memutuskan hasilnya nanti. Kalian berdua boleh pergi."

"Baik," Seoltang mengangguk sopan ke manajer dan buru-buru keluar. Kembali ke departemen, semua orang mengerubunginya, bertanya apa yang terjadi. Dia menjawab jujur.

...

"Ditangguhkan tanpa batas? Apa bakal dipecat?"

"Mungkin tidak sampai dipecat, mungkin dipindah ke cabang lain."

"Tapi ini tidak aman untuk karyawan lain. Siapa yang berani dekati dia sekarang? Diserang seperti Seoltang, apa yang harus dilakukan? Untung aku tidak kena. Padahal kupikir dia kepala yang ramah, makanya selalu ikut makan bersama."

Obrolan gosip terhenti saat Kepala Park masuk. Seoltang memalingkan wajah, tak ingin melihatnya. Park Youngjoo hanya mengambil barang-barangnya dan pergi. Gosip kembali menggema, dan itu jadi hari kerja yang sibuk lagi bagi Seoltang. Saat jam menunjukkan waktu pulang, dia buru-buru membereskan barang dan langsung pulang.

Seoltang: Kau datang jam berapa?

: Aku sudah di kamar.

V: Anak baik, kau terlihat sangat bersemangat.

: Kau merindukanku sebanyak itu?

: Aku akan datang tengah malam. Jangan lupa pakai penutup mata seperti biasa.

Seoltang: Boleh tidak pakai?

: Tidak bisa melihat apa-apa itu membuatku sesak.

V: Sayang sekali, jawabannya tidak.

: Jangan coba-coba nakal denganku.

: Kau anak baikku, bukan?

Seoltang: Ya

: Aku anak baikmu.

V: Kalau begitu, pakai benda itu dan tunggu aku.

Seoltang: Harus pakai lagi?

V: Kau bilang sendiri akan kubiarkan membebaskanmu.

: Sampai aku tiba, kau tak boleh orgasme.

: Kali ini aku tak akan memaafkanmu.

Seoltang: Hmm.

: Boleh mandi dulu?

V: Tentu.

Seoltang mandi, membersihkan tubuhnya, terutama bagian belakang, untuk bersiap. Karena lubangnya sudah melebar sebelumnya, kali ini benda itu masuk lebih mudah. Telur getar pink itu didorong masuk sepenuhnya, hanya menyisakan ekornya di luar.

"Ahhh!" Tiba-tiba benda itu bergetar pelan tanpa peringatan. Seoltang mengerang tak sengaja. Dia duduk di ranjang dengan kaki terbuka, mulai sulit bernapas. Dia menggigit bibir pelan, merasakan sensasi nikmat yang menyebar. "Umm..." Putingnya mengeras, menandakan gairahnya bangkit. Tak tahan, dia mengangkat tangan, meremas dan memainkan putingnya dengan jari.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

"V... V..."

(Suaramu manis sekali. Padahal baru level satu.)

"Ugh, itu mengenai... uhh, mengenai titik itu."

(Kau memasangnya tepat di titik sensitifmu?)

"I-iya."

(Bisa tahan sampai tengah malam?)

"Entah... tidak tahu. Bisakah kau datang sebelum tengah malam?" Suaranya merajuk, disertai rintihan, tanpa sadar bahwa pendengarnya juga mulai terbawa gairah. Seoltang, anak baiknya, terlalu menggemaskan. Justru karena begini, dia semakin ingin menggodanya.

(Aku akan sampai tengah malam. Anak baik, sabar dan tunggu aku.)

"A-aku tidak tahan... hanya begini saja aku sudah... uhh."

(Jika kau orgasme duluan, aku tak akan datang.)

"Jangan!" Seoltang buru-buru menjawab. "Jangan, V. Datanglah, aku benar-benar membutuhkanmu."

Di tempat yang tak bisa dilihat Seoltang, sosok tinggi itu tersenyum puas.

Seoltang benar-benar kecanduan padanya.

(Kalau begitu, tahan, mengerti? Aku harus menutup telepon sekarang.)

"Tch." Tanpa menunggu jawaban Seoltang, V menutup telepon, meninggalkan Seoltang berjuang sendiri dengan sensasi nikmat yang membuncah. Dia melirik jam—baru pukul tujuh malam. Masih lima jam lagi, siapa yang bisa tahan? Seoltang berusaha mengatur napas, berusaha keras agar perhatiannya tidak terpusat pada bagian bawah tubuhnya. Tapi itu sulit sekali. Alat itu bergetar, terus-menerus menggesek titik sensitifnya.

Tubuhnya berkedut-kedut. Menahan diri agar tak orgasme terasa menyiksa. Jantungnya berdetak kencang hingga dadanya naik-turun. Tangan dan kakinya mencengkeram kuat. Rintihan tak henti keluar dari mulutnya. Entah sudah berapa lama, pikirannya kosong dan buram. V masih saja meningkatkan intensitas getaran, seolah sengaja menggodanya.

Dasar jahat...

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang