Chapter 13

5K 182 7
                                        


Cahaya matahari pagi menembus melalui tirai putih yang bergoyang, menyelinap masuk. Wajah manis dengan mata terpejam dan alis berkerut perlahan membuka kelopak mata yang berat dengan susah payah. Dalam keadaan setengah sadar, dia merasa seolah dipeluk seseorang. Namun, saat benar-benar terbangun, tidak ada siapa pun. V sudah pergi. Ranjang terasa dingin dan kosong.

Seoltang merasa sakit di seluruh tubuh, terutama di pinggul. Dia melirik jam dan menyadari sudah terlambat. Dia ingin bangkit dari ranjang, tapi tubuhnya tidak kuat. "Ahhh... sakit," keluhnya. Tiba-tiba, kenangan malam tadi melintas di pikirannya. Panas membakar wajahnya, jantungnya langsung berdetak kencang.

Sudah terjadi, ya...

Belum sempat berpikir lebih jauh, telepon berdering.

V? Biasanya dia lebih suka mengirim pesan, bukan? Apa karena malam tadi aku mendengar suaranya, jadi dia tidak keberatan menelepon?

(Sudah bangun, hm?)

"Ah, hm."

(Bagaimana rasanya?)

"Sakit."

(Seperti dugaanku. Sayangnya aku harus pergi dulu dan tidak bisa tinggal menjagamu.) Suara rendah dari ujung telepon penuh kepuasan. (Aku sudah siapkan nasi dan obat untukmu. Hari ini ambil cuti dan istirahat, ya, Seoltang anak baik.)

"Ya, sepertinya harus begitu." Seoltang diam-diam menghela napas. Meski tidak ingin, dia memang harus cuti. Bangun saja tidak mampu. "Kau terlalu kasar."

(Kukira kau suka. Kau sendiri yang meminta lebih, aku hanya memenuhi permintaanmu. Bagaimana rasanya? Kau terkesan dengan V-mu? Suara erangan manismu masih terngiang di telingaku. Rasa dan sentuhanmu, aku ingat betul. Sayang kita tidak melakukannya sampai pagi. Benar kan, Seoltang-ku? Kau terlalu rapuh, sedikit disentuh saja tubuhmu sudah memerah semua.)

"Tapi kau tidak menjagaku sama sekali."

(Siapa bilang? Aku merawatmu sepenuh hati. Aku membersihkan tubuhmu, mengganti bajumu, bahkan menyiapkan nasi dan obat. Aku menjagamu dengan baik, bukan?)

"Oh ya?" Seoltang menunduk melihat tubuhnya yang penuh bekas merah dan memar, ada tanda hisapan dan gigitan. "V..."

(Hm? Apa, anak baik?)

"Kau tanya apa aku terkesan, kan?"

(Hm.)

Seoltang tersenyum lebar. "Aku sangat suka. Aku suka apa yang kita lakukan tadi malam, gaya hebatmu, dan aku sangat suka milikmu itu. Bisa kita lakukan lagi?" Dia tidak lagi ingin menyembunyikan perasaannya dan membuang semua rasa malu. Kebahagiaan melimpah ini yang selalu dia rindukan, ini yang dia butuhkan.

Hanya memikirkannya, jantungnya sudah bergetar...

Tawa pelan terdengar dari ujung telepon, penuh kepuasan. (Seoltang anak baikku, aku suka kau jujur pada perasaanmu. Aku sangat suka. Tentu saja, kita akan melakukannya lagi. Aku akan membuatmu kecanduan penisku sampai kau tidak bisa berpikir jernih. Aku sudah bilang, suatu hari kau hanya akan memanggilku.)

"Benar, mulai sekarang aku mungkin hanya akan memanggilmu." Sudut bibir Seoltang terangkat lagi. "Aku akan menunggu. Kau akan datang lagi, kan?"

(Tentu saja. Tapi aku tidak mau memaksakan tubuhmu. Aku khawatir padamu. Aku mencintaimu. Makan nasi, minum obat, lalu istirahat.)

"Kau psiko yang perhatian sekali, ya."

(Psiko aneh, dibandingkan orang yang bertelanjang bulat dan bersiap menunggu si psiko datang untuk menyetubuhinya... Menurutmu, siapa yang lebih psiko?) V bertanya sambil bercanda, pertanyaan sama yang Seoltang tanyakan pada dirinya malam tadi. Mendengar itu, dia tersenyum miring, menjawab pelan,

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang