Chapter 9

4K 155 0
                                        


V: ??

: Kenapa tidak menjawab?

: Jawablah. Katakan bahwa kau milikku.

: Aku sudah melunasi hutangmu. Dua ratus juta won, seluruhnya.

: Tang, sekarang kau berhutang padaku sebagai gantinya.

: Kau harus membayarnya kembali seluruhnya.

: Baik pokok maupun bunganya.

: Jawab aku.

: Shin Seoltang, jawab aku.

: Kau hanya akan menjadi milikku saja, bukan?

Shin Seoltang merasa bingung dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk hingga tak bisa dijelaskan. Apa benar V membayar seluruh utang keluarganya? Dua ratus juta won? Seorang penguntit punya uang sebanyak itu? Tidak mungkin uang itu berasal dari sumber yang bersih.

Seoltang: Sebenarnya... siapa kau?

V: Ingin tahu?

: Kau ingin tahu tentang aku juga?

: Aku senang sekali.

: Tapi kalau kuberitahu begitu saja, rasanya tidak seru, bukan?

: Pikirkan aku lebih banyak lagi.

: Aku akan membuatmu tidak bisa memikirkan hal lain selain diriku.

"Tang."

"..."

"Maaf, mengejutkanmu, ya?" Im Dae-eun membawa kotak P3K masuk ke kamar, wajahnya penuh kekhawatiran. Matanya membelalak saat melihat dengan jelas betapa parah luka cucunya. Selain bibir pecah, darah juga mengalir dari lengannya.

"Seoltang, biarkan nenek lihat lukanya."

"T-Tidak apa-apa," Seoltang menarik lengannya. Ia tidak ingin neneknya melihat lukanya.

"Tidak bisa. Berikan ke nenek sekarang. Lihat itu, darahnya tidak berhenti mengalir."

"Aku benar-benar tidak apa-apa..."

"Seoltang." Suara neneknya melembut, nyaris menangis. Itu membuat Seoltang terdiam. "Kumohon, jangan bilang 'tidak apa-apa' lagi. Biarkan nenek melihat lukamu."

"...Baik." Akhirnya ia menggulung lengan bajunya, memperlihatkan luka goresan melintang. Luka itu cukup dalam dan panjang kira-kira sebesar jari kelingking. Dae-eun menutup mulutnya dengan satu tangan, lalu mengangkat tangan satunya dan memukul cucunya.

"Tang! Kau mengiris tanganmu sendiri? Kenapa kau begitu bodoh, Seoltang?" sang nenek menangis tersedu-sedu, memukul cucunya penuh kemarahan dan kesedihan. "Apa lagi yang kau lakukan? Di bagian tubuh mana lagi kau menyakiti diri sendiri? Katakan pada nenek!"

"..." Seoltang tidak bisa bicara. Ia tidak ingin neneknya tahu.

"Kau... hiks... kau tidak berniat mengakhiri hidupmu, kan?" Dae-eun memeluk cucunya sekuat tenaga, tubuhnya gemetar. "Jangan lakukan itu, Seoltang. Jangan sakiti dirimu. Hiks... Lalu nenek harus bagaimana? Jangan tinggalkan nenek, Tang."

Seoltang membalas pelukannya. "Hiks... Nenek, aku minta maaf. Maafkan aku."

"Seol...tang." Dae-eun tampak lemas dan terkulai, wajahnya pucat. Seoltang menduga kondisinya memburuk karena stres. Ia pun menopang sang nenek untuk kembali ke kamar tidur. Alisnya langsung mengernyit saat membuka pintu dan melihat betapa kotor ruangan itu. Debu menumpuk, sarang laba-laba di pojok ruangan. Neneknya sudah tua dan sedang sakit, kenapa ibu dan Seonjin tidak pernah membersihkan ruangan ini? Padahal ia rutin mengirim uang untuk membantu merawat nenek.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang