Ia berbaring memeluk Seoltang dalam diam hampir satu jam sebelum bangkit dan mengunci pintu kembali seperti semula, seakan tidak pernah terjadi apa pun.
Seoltang terbangun pagi harinya dengan sakit kepala hebat. Saat menunduk, ia melihat luka di lengan kirinya telah diberi perawatan. Ia tidak merasa terkejut. Malam tadi, V benar-benar datang ke tempat ini seperti yang telah ia duga. Ia memeriksa tubuhnya sendiri—tidak ada yang dilakukan selain merawat luka, begitu saja. Anehnya, kini ia tidak terlalu merasa takut pada penguntit ini lagi. Meskipun begitu, tetap saja, sebaiknya ia pergi sementara dari tempat ini.
Ia memutuskan untuk pulang ke rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi. Ia menelepon Kepala Park untuk meminta cuti selama kira-kira tiga hari. Setelah itu, ia mengemas barang-barangnya dan pergi dari kamar. Ia naik kereta bawah tanah, disambung bus, hingga akhirnya sampai ke jalanan menuju rumah yang begitu ia kenal namun tak juga membuatnya merasa tenang. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya untuk meredakan ketegangan, mempersiapkan diri menghadapi ibu dan adiknya.
Ia melihat ibunya sedang membuat kimchi di depan rumah. Ketika melihatnya, sang ibu menengadah dengan raut wajah terkejut.
"Tang, kenapa kau datang? Kenapa tidak bekerja? Ini hari kerja, bukan?"
"Aku mengambil cuti."
"Gaji kecil begitu masih bisa cuti? Kalau nanti gaji dipotong, bagaimana?"
Hayoung, ibu dari Seoltang, menggerutu dengan wajah yang tidak menyambut kehadiran anaknya. Seoltang berusaha tidak memedulikannya, berjalan masuk ke rumah menemui nenek. Begitu melihat sang nenek sedang duduk bermain, ia langsung memeluknya erat karena rindu.
"Tang, cucu nenek, kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang? Sudah makan belum? Biar nenek ambilkan sesuatu ya," ujar Im Dae-eun, nenek berusia delapan puluh enam tahun yang tersenyum ramah memeluk cucunya yang bekerja di kota dengan penuh kasih.
"Tidak usah, aku tidak apa-apa."
"Lalu, bagaimana kabarmu? Nenek sudah tanya pada Young, tapi Young tidak pernah mau cerita."
"...Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah, jadi kupikir akan tinggal di rumah selama tiga hari."
"Kau mau tinggal di rumah lagi?" suara rendah terdengar dari belakang. Seoltang menoleh. Itu Shin Seonjin, adik laki-lakinya sendiri. Raut wajah Seoltang berubah tidak senang. Terakhir kali mereka bertemu, mereka bertengkar hebat. Bahkan Seonjin, yang lebih besar dan lebih kuat, sempat mencekik lehernya hingga hampir mati. Ia masih mengingat rasa sakit itu dengan sangat jelas.
"Kak, aku sudah bilang aku minta maaf. Kenapa masih marah juga? Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"...Hm." Ia menyapu pandangan menilai adiknya. Seolah lawan bicaranya itu tidak merawat diri sama sekali. Janggut tidak dicukur, rambut berantakan, dan bau badan pun tercium samar.
"Kau... bagaimana kabarmu?"
"Aku? Bosan setengah mati." Seonjin mencibir. "Oh iya, Kak. Pas sekali kau datang. Aku ada sesuatu yang mau kubicarakan."
"Katakanlah."
Seonjin duduk di sampingnya. "Kau tahu tentang investasi daring? Temanku investasi lima ratus ribu won dan sekarang dapat dua juta won. hanya seminggu. Aku cari tahu dan ternyata banyak orang yang berhasil juga. Kak, bisakah kau pinjamkan aku uang?"
"..."
"Aku minta dua juta won saja, untuk investasi daring. Kalau dapat untung, akan kukembalikan pokoknya." Tatapan mata Seonjin bersinar. Seoltang menggeleng pelan dan mengernyit.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)