Ia benci hujan.
Terutama hujan di malam hari.
Seoltang memiliki iblis dalam dirinya yang disebut "masa lalu" yang selalu menghantui. Sembilan hari sembilan malam terjebak di hutan itu saat masih kecil, mengalami perlakuan yang tidak berbeda dari seekor binatang. Setiap malam ia harus berlari ketakutan di tengah badai hujan—seperti malam ini.
Di tengah kota Seoul yang basah kuyup pada tengah malam, hujan mengguyur dengan deras. Ia memang sudah sulit tidur sejak awal, tapi sekarang ditambah dengan masalah V. Seoltang meringkuk dalam selimut, yang sama sekali tidak membuatnya merasa lebih aman. Matanya memandang tajam ke arah jendela dan pintu, walaupun sudah dikunci rapat dan ia tinggal di lantai tiga apartemen.
Tapi Seoltang merasa, jika V benar-benar ingin masuk, maka dia pasti bisa. Bukan karena tidak mampu—dia hanya belum melakukannya, itu saja.
Duuuaarrrr!
"Ugh!" Seoltang tersentak keras saat mendengar suara petir. Tubuhnya semakin meringkuk, menggigil hebat. Tangannya sedingin es, napasnya tersengal.
Suara petir. Suara tembakan senapan pemburu.
Duuuaaarrr!
Ia memejamkan mata. Air mata mengalir deras. Lalu terdengar nada panggilan masuk. Tangannya meraba dan mengambil ponsel. Matanya melebar saat melihat nama V terpampang di layar. Ia langsung melempar ponsel jauh.
Dia datang. Orang itu akan datang.
Akan menangkapnya dan membawa pergi—seperti yang dilakukan para bajingan itu dulu.
"Hik... hik..." Tubuh kecil itu menggigit bibir sambil menangis terisak. Sebuah pikiran melintas secepat kilat: jika V benar-benar datang, lebih baik dia membunuhnya saja. Ya, cepat datang dan bunuh aku. Asal jangan bawa aku pergi. Datang sekarang juga, jangan biarkan aku menunggu dengan ketakutan. Datanglah sekarang.
"Siapa suruh kau keluar dari lemari?"
"Hik!" Seoltang menoleh seketika ke arah suara bisikan itu. Suara dari mereka... kenapa bisa ada di sini? Bagaimana mereka masuk ke dalam kamarnya?
Tapi... V, bukankah seharusnya itu V?
Seoltang melompat dari tempat tidur, meraih pisau cutter untuk membela diri. Ia mengayunkan pisau ke udara, matanya menyapu ruangan dengan waspada.
Kau di mana?! Kau mau menangkapku lagi, bukan?!
Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya ia sadar... ia hanya berhalusinasi. Tubuhnya roboh ke lantai, menangis sesenggukan seakan nyawanya akan tercabut.
Ia meletakkan mata pisau di lengan kirinya. Lalu mulai menekannya, menyeret tajamannya dalam garis yang dalam. Luka baru menindih luka lama. Rasanya seperti memotong kertas, hanya saja kali ini darah mengucur keluar. Ia menggoreskan pisau itu lagi dan lagi hingga darah menodai seluruh lengannya. Setiap kali pisau menyentuh kulit, ia merasa seperti sedang dibebaskan.
Jika darah masih mengalir, artinya aku masih hidup—bukan tubuh kosong tanpa jiwa.
Penglihatannya mulai kabur. Mungkin karena terlalu banyak kehilangan darah. Seoltang menjatuhkan pisau, menyandarkan diri ke tempat tidur, lalu membiarkan tubuhnya tenggelam dalam tidur—dengan luka dan darah.
Malam itu ia kembali bermimpi buruk.
"Hei, nak. Kenapa sendirian di sini? Ayah dan ibumu ke mana?" Suara lembut dari pria paruh baya mencoba mengajak bicara bocah laki-laki yang sedang bermain sendirian di taman bermain. Wajahnya asing, tapi sikapnya begitu ramah hingga anak itu tak curiga. "Tidak ada teman main, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)