Chapter 6

4.4K 170 1
                                        


"Seoltang-ssi, makan siangmu hari ini luar biasa lagi, ya," ucap seorang pegawai perempuan yang sama seperti sebelumnya, menggoda sambil tersenyum.

Saat ini, kabar bahwa Shin Seoltang sedang didekati oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya kembali menjadi gosip hangat di seluruh perusahaan. Alasannya tidak lain karena makan siang yang ia pesan melalui layanan antar kini selalu tampak mewah setiap hari. Padahal sebelumnya, Seoltang hanya makan makanan sederhana dari minimarket. Kini, siapa pun yang melihat akan sulit menahan rasa iri, sebab ia menyantap makanan dari restoran terkenal dan mahal setiap harinya. Bagi pegawai kantoran biasa, makan di restoran seperti itu sebulan pun mungkin hanya sekali-dua kali.

"Ada yang memesankan untukmu, ya? Ini pasti bukan kau yang pesan sendiri, kan? Harganya luar biasa. Apa itu pacarmu?"

"Kelihatannya orang itu menyukaimu sekali. Sangat iri rasanya."

"Ne..," jawab Seoltang singkat, sekadar ingin mengakhiri pembicaraan. Perempuan itu pun memasang wajah tidak puas sebelum akhirnya beranjak pergi.

Ia menyadari bahwa V tampaknya ingin membuat dirinya menjadi pusat perhatian di kantor. Makanan yang dikirimkan tidak pernah biasa—selalu terlihat mewah dan dalam jumlah banyak, cukup hingga bisa ia simpan untuk makan malam atau makan besok.

Namun, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Mendapat makanan gratis saja sudah cukup bagus, apalagi makanannya enak. Dan tampaknya V tidak menuntut apa pun selain itu.

Satu minggu kembali berlalu. Sudah hampir satu bulan sejak seseorang yang bisa disebut stalker masuk ke dalam hidupnya. Sepulang kerja, ia langsung pulang ke apartemen seperti biasa. Tapi yang aneh, hari ini ada sekotak susu diletakkan di depan pintu.

Seoltang: Ini ulahmu?

V: Apa maksudmu?

Seoltang: Kotak susu.

V: Iya.

V: Itu punyaku.

Tiba-tiba Seoltang merasa merinding. Ia buru-buru menoleh ke kiri dan ke kanan. Begitu memastikan tidak ada siapa pun, ia segera masuk ke dalam kamarnya.

Padahal makanan yang dikirimkan sudah begitu banyak dan mewah, jadi susu kotak itu sama sekali tidak perlu. Lalu... apa maksud dari itu?

Kalau bukan untuk mengatakan:

Aku sudah sampai di depan pintumu.

Semakin dipikirkan, semakin masuk akal. Jika ia bisa membobol ponselnya, maka mengetahui alamat rumah pun bukan hal mustahil.

Tapi... dia belum bisa masuk ke dalam, kan?

Seoltang memeriksa seluruh kamar. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada kamera tersembunyi.

Seoltang: Kau sudah selangkah lebih dekat denganku, ya?

V: Benar.

V: Dan aku akan terus mendekatimu.

V: Sampai kita tidak bisa dipisahkan lagi.

Seketika, punggungnya terasa dingin seperti disiram air es.

Seoltang: Apa yang ingin kau lakukan?

V: Aku hanya ingin bersamamu.

Tentu saja... pria ini memang sakit jiwa. Ia tidak mungkin puas hanya dengan membelikan makanan. Seoltang pun memutuskan untuk membuang semua makanan, termasuk susu, yang dibelikan oleh V. Hal itu seharusnya ia lakukan sejak awal. Seluruh tubuhnya merinding saat menyadari dirinya sedang diawasi oleh seseorang entah dari mana. Ia menelusuri sekeliling, tapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang