Seoltang menyimpan ponselnya ke dalam laci, kepalanya terasa sakit karena stres yang menumpuk, tetapi ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun memilih mencari cara untuk meredakan ketegangan. Ia bangkit dari meja, mengambil sex toy, lalu masuk ke kamar mandi.
"Ugh... mm..."
Seoltang menggigit bibir, mendesah lirih dalam sensasi yang membakar tubuhnya. Ia berjongkok sambil satu tangan bertumpu pada tepi wastafel, sementara tangan lainnya menggenggam sex toy yang ia gerakkan cepat keluar-masuk di lubang belakangnya. Dorongannya begitu dalam hingga menimbulkan rasa nyeri dan sesak, bagian lubang belakangnya terasa perih, tapi kenikmatan yang datang bersamanya nyaris membuatnya kehilangan kendali. Tak lama kemudian, ia pun mencapai klimaks, melepaskan cairan putih pekat dan pikirannya kosong seketika.
"Haa... Ah...Aaaaaah..."
Tubuhnya hampir ambruk di lantai kamar mandi. Sepertinya hari ini ia terlalu memaksakan diri. Ia menenangkan napas, berusaha bangkit, lalu membuka shower untuk membersihkan tubuh dan semua yang mengotori.
Di seberang, cermin memantulkan bayangan dirinya. Karena tidak nafsu makan selama bertahun-tahun, tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit pucat. Sama sekali tidak sedap dipandang.
Setelah semuanya bersih, ia mengganti pakaian dan menyimpan sex toy di kotaknya di bawah tempat tidur seperti biasa. Hari ini, ia terlalu kasar pada tubuhnya sendiri, membuat pinggulnya terasa nyeri dan bagian pintu masuk di belakangnya perih. Mungkin karena beban pikiran lebih berat dari biasanya.
Daripada langsung tidur—yang jelas tidak akan bisa ia lakukan meski tubuh sudah lelah—ia justru menyalakan komputer dan mulai mencari informasi tentang stalker.
Ia pernah mendengar sedikit soal stalker, tetapi tidak pernah merasa perlu mencarinya lebih lanjut. Terdengar seperti sesuatu yang sangat jauh dari kenyataannya. Bahkan untuk disukai atau didekati seseorang saja rasanya mustahil—lalu sekarang, ada orang yang menguntitnya?
Upaya menghubungi seseorang tanpa persetujuan dianggap sebagai bentuk stalking.
Stalker biasanya memiliki pola perilaku yang mirip: dimulai dengan membuntuti korban, mengganggu melalui telepon, lalu secara bertahap melanggar batas ruang pribadi hingga menyebabkan kerusakan, baik secara fisik maupun psikologis pada korban.
Stalker terbagi ke dalam beberapa tipe. Yang pertama adalah stalker yang mengalami penolakan—biasanya oleh orang yang pernah dicintai atau mantan kekasih. Mereka membuntuti sebagai kompensasi dari hubungan yang hilang. Tipe ini langsung ia coret. Ia tidak pernah punya kekasih. Tidak pernah menolak siapa pun, karena memang tidak pernah ada yang menyukainya.
Selanjutnya adalah tipe pendendam. Tapi ia merasa yakin bahwa ia tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa membuat orang dendam—kecuali mungkin keluarganya, tapi itu urusan lain.
Tipe berikutnya adalah stalker yang menginginkan kedekatan—biasanya berasal dari orang yang dikenalnya, rekan kerja, atau seseorang yang sering bertemu. Seoltang mulai tertarik pada poin ini. Sejujurnya, sejak awal ia sudah mencurigai seseorang dari tempat kerja.
Pertama, karena V—atau si stalker—mendekatinya dengan cara menaruh kue di mejanya.
Kedua, karena V tahu tentang Kepala Park.
Namun jika ditanya siapa yang ia curigai... ia sama sekali tidak bisa memikirkan satu nama pun.
Tipe selanjutnya adalah stalker yang tidak memiliki keterampilan sosial untuk mendekati orang lain. Seoltang merasa sepertinya bukan itu. Dan tipe terakhir adalah stalker predator. Kelompok ini cenderung memiliki gangguan kejiwaan yang cukup serius, dan melakukan tindakan demi memuaskan keinginan pribadi—terutama keinginan seksual serta dorongan untuk memiliki kekuasaan atas korbannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)