Seoltang terdiam sejenak, tidak menyangka akan diajak minum. Ia ragu-ragu cukup lama sebelum akhirnya mengangguk setuju. Bagaimanapun juga, Kepala Park tetaplah atasannya. Menolak rasanya kurang pantas. Lagi pula, Kepala Park adalah satu-satunya orang yang bersikap baik padanya di tempat kerja. Mereka berdua pergi minum di sebuah kedai kecil di pinggir jalan.
"Zaman sekarang, kedai pinggir jalan seperti ini sudah jarang, ya. Kau suka tempat seperti ini, Seoltang?"
"Eh, aku tidak terlalu sering keluar untuk minum."
"Kalau begitu, kau harus mencobanya. Siapa tahu kau akan menyukainya."
"Ya."
"Biar aku yang traktir."
"T-tidak apa-apa."
"Sebagai atasan, sudah seharusnya aku yang traktir. Lagi pula, aku juga yang mengajakmu, Seoltang." Karena Kepala Park bersikeras begitu, tidak ada yang bisa dilakukan. Ia mulai memesan minuman dan makanan ringan.
"Ayam goreng di sini enak sekali," ucap Kepala Park sambil menyodorkan sepotong ayam goreng padanya.
"Kepala Park..."
"Ya?"
"Kenapa mengajakku keluar untuk minum?"
"Memangnya aku tidak boleh mengajakmu, Seoltang?"
"Karena ada orang lain yang mungkin akan lebih menyenangkan untuk diajak minum bersama."
"Itu benar. Sepertinya kau memang tidak suka berada di sekitar orang lain, ya?" Kepala Park tersenyum tipis. "Aku ingat pernah memperingatkanmu sekali, bahwa sifat seperti itu mungkin bisa mempengaruhi pekerjaanmu. Tapi karena kau selalu bekerja dengan baik, tidak ada masalah. Kau hanya berbicara dengan orang lain sebatas yang perlu saja. Datang dan pulang kerja tepat waktu, bahkan tidak pernah mengambil cuti meski sedang sakit," ia berkata sambil menyesap minuman, "jadi hari liburmu masih sangat banyak, sampai jika kau mau cuti setengah tahun pun sepertinya bisa."
"..."
"Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik, Seoltang."
"..." Shin Seoltang terdiam. Ia tidak tahu harus membalas seperti apa.
"Ha ha ha, jangan diam saja begitu."
"Aku tidak terlalu mengerti Kepala Park. Kita tidak punya alasan untuk menjadi dekat."
"Menjadi dekat bukan lebih baik, ya? Bagaimanapun juga, kita bekerja bersama. Lagi pula, bicara sejujur itu tidak baik. Itu bisa menyakiti perasaan orang lain."
Seoltang tidak menjawab apa pun, hanya menyesap arak, memakan sedikit makanan pendamping, dan duduk mendengarkan Kepala Park berbicara panjang lebar. Ia hanya menjawab beberapa pertanyaan.
"Kepala Park, ponselmu berbunyi." Ia melihat di layar tertulis 'Istri Tercinta'. Yang bersangkutan pun melihat dan pamit keluar untuk menerima telepon. Menghilang hampir sepuluh menit, lalu kembali masuk.
"Haa, itu istri ku. Belakangan kami sedang ada sedikit masalah."
"Ne..."
"Boleh aku berkonsultasi sedikit denganmu, Seoltang? Rasanya aku bisa mempercayaimu."
"Aku?"
"Ya. Boleh?"
Kepala Park selalu memiliki senyum lembut di wajahnya, dan itu membuat semua orang di kantor menyukainya. Sayang sekali ia sudah menikah. Kalau tidak, mungkin ia akan lebih disukai lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Seoltang, Kepala Park mulai mencurahkan isi hatinya mengenai istrinya, tentang masalah yang mereka alami dantentang ketidakcocokan di antara mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)