Chapter 3

5.2K 204 1
                                        


Seoltang terpaku selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali sadar.

Apa ini? Redhead diserang dan ia sendiri mendapatkan ancaman?

Kenapa semuanya jadi seperti ini? Siapa yang melakukan, dan apa alasannya? Kelihatannya, sasaran utama dalam kejadian ini adalah dirinya, karena isi ancamannya menyebutkan agar ia tidak mencari pasangan seks lagi. Redhead yang bersamanya semalam mungkin diserang sebagai bentuk peringatan untuknya.

Seoltang kebingungan, tidak tahu bagaimana seharusnya menghadapi situasi ini. Pikiran pertama yang terlintas adalah melapor ke kantor polisi.

"Anda tahu nama orang yang diserang itu?" tanya seorang polisi paruh baya sambil membalik-balik foto itu.

"Tidak, saya hanya tahu nama samaran yang dipakai di aplikasi."

"Hah... beginilah biasanya orang-orang yang bergonta-ganti pasangan. Cemburu, Anda mengerti maksud saya, kan? Mungkin orang ini diserang oleh salah satu dari mantan pasangannya. Kami sering menemui kasus seperti itu."

Polisi itu tampak tidak terlalu peduli, seolah hanya mencatat laporan sekadarnya.

"Ancaman di balik foto itu bisa saja berarti jangan ganggu orang ini lagi, begitu saja."

"Be-begitukah?"

"Ya. Kalau Anda mau mendengar saran saya, lebih baik Anda tidak usah berurusan dengan aplikasi atau orang-orang seperti itu. Cukup berbahaya."

"Lalu... bagaimana dengan kenyataan bahwa saya tiba-tiba bisa kembali ke kamar sendiri? Apakah itu tidak mencurigakan? Berarti mereka tahu di mana saya tinggal."

"Mungkin Anda pulang sendiri dalam keadaan mabuk. Kalau merasa tidak tenang, ganti saja kunci pintu Anda."

"...Baik."

Seoltang mengangguk dan meninggalkan kantor polisi. Meski masih merasa tidak tenang, apa yang dikatakan polisi tadi memang masuk akal. Bekas ciuman di tubuhnya mungkin benar berasal dari Redhead, dan sebelum sempat berhubungan seks, Redhead sudah lebih dulu diserang.

Sedangkan dirinya yang mabuk, kemungkinan besar melarikan diri.

Untuk merasa lebih aman, ia memanggil tukang kunci di sore hari dan mengganti semua kunci pintunya. Sepagian ia habiskan untuk membersihkan kamar sambil terus memikirkan kejadian semalam.

Seperti yang ia pikirkan sejak awal, mencari pasangan seks bukanlah hal yang bijak. Apalagi soal mencari pacar, sebaiknya dilupakan saja.

Ia sempat berpikir untuk menggunakan uang demi membayar jasa, tapi nyatanya, ia tidak punya cukup uang untuk menghambur-hamburkan seperti itu.

Saat itulah ponselnya berdering. Ketika ia membalik layar untuk melihat siapa yang menelepon, nama yang muncul di layar membuat napasnya tercekat.

Namun, tetap saja ia harus mengangkatnya.

"Ya, Bu."

(Tang, kenapa akhir-akhir ini kau tidak pernah angkat teleponku? Jangan bilang sibuk kerja lagi. Meskipun kau sudah mengirim uang untuk bayar utang dan bunga bulan ini, tapi di rumah pengeluarannya bertambah. Aku masih harus mengurus nenek, dan Jin juga belum dapat pekerjaan. Kirimkan lagi empat ratus ribu won, ya.)

Seoltang langsung mengernyit.

"Empat ratus ribu won? Uangku hampir habis, Bu."

(Hampir habis? Kau bilang tidak punya uang? Kau sadar tidak bahwa hidupmu itu yang paling enak dibanding semua orang di rumah? Kau bisa tinggal di kota, makan enak, pakai baju bagus. Aku menyekolahkanmu tinggi-tinggi, sampai kuliah di Seoul. Tapi setelah lulus, kau malah tidak peduli lagi dengan keluarga. Kau itu anak durhaka, egois—)

[END] SUGAR VENOMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang