Pukul delapan malam, Lentera tengah celingukan di balik jendela. Menanti kepulangan Papanya yang sangat ia nantikan. Senyumnya sesekali mengembang, degup jantungnya begitu cepat. Takut-takut nanti suasana akan lebih banyak canggungnya.
Raska, pemuda itu pamit pulang setelah membantu menyiapkan makan malam untuk Lentera dan Papanya. Ia memberikan waktu dan ruang untuk mereka berbincang. Membahas apa saja yang sekiranya patut mereka bahas nantinya.
"Ini jantung apa diskotik, jedag-jedug amat!" celetuk Lentera yang merasakan atmosfer sekitarnya semakin dingin.
Suara mobil terparkir di luar membuat Lentera kalang kabut. Itu mobil milik Papanya. Yang ada di benaknya saat ini adalah bagaimana cara menyambut Papanya setelah kecewa meradang di hatinya?
Ia melangkah pelan dengan hati yang tak kalah bimbang. Ia buka pintu, melihat sosok Papanya yang kini tengah berdiri menampilkan senyum manis yang amat ia rindukan. Tangan pria paruh baya itu terbuka, seolah mengizinkan Lentera untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya.
"Pa?" matanya berkaca-kaca menahan tangis. Suaranya bergetar. Ia bingung, namun perlahan langkahnya membawanya pada pelukan hangat itu.
Pelukan itu masih sama hangatnya seperti sebelum-sebelumnya, masih sama nyamannya seperti terakhir kali ia rasakan meski ia pun lupa kapan terakhir kalinya itu.
"Tera, maafin Papa. Banyak sekali kesalahan Papa yang membuat kamu kecewa. Banyak keputusan Papa yang membuat kita semakin jauh. Tera sudah besar. Tera anak Papa sudah tumbuh dewasa menjadi gadis yang begitu cantik. Papa sangat menyayangi kamu, Tera."
"Maafin Papa, sayang ...." David mengeratkan pelukannya. Senyum terbit dari bibirnya. Entah, sejauh ini perasaan Lentera masih sama, bimbang.
Lentera mengangguk dalam pelukan David. "Pa, Tera kecewa sama Papa. Kenapa harus selingkuh? Kenapa harus khianati Mama? Mama setiap hari nunggu Papa, berharap tiba-tiba Papa pulang. Tapi apa? Papa malah selingkuhin Mama! Tera kecewa sama Papa!"
"Tera kecewa, Pa ...." suaranya melirih bersamaan dengan air matanya yang meluruh menetes membasahi pipi.
David mengendurkan pelukannya, melepas sejenak Lentera dari dekapnya. Ia tatap wajah putrinya. Tergambar jelas kekecewaan yang mendalam di dalam sana.
"Papa tau. Beri Papa kesempatan buat perbaiki semuanya pelan-pelan, ya?" Lentera hanya mampu mengangguk. "Papa tau, luka yang Papa tinggalkan bukan hal yang sepele apalagi terbilang mudah untuk dimaafkan, luka itu Papa biarkan meradang bertahun-tahun, sampai pada akhirnya Papa malu untuk sekedar menatap kamu, menatap Mama."
Luka yang ditinggalkan David memang luas. Seluas maaf yang berulang kali diberikan. Seluas ruang yang selalu disiapkan untuk menyambut kepulangannya.
Kesalahan mana yang tak sempat ia maafkan? Ia terlalu sering memaafkan, terlalu sering membuka pintu maaf untuk segala hal yang beberapa di antaranya sangat mengoyak kewarasannya.
Lentera memaksa senyumnya merekah. Entah senyum yang tercipta dari tulus hatinya, atau karna ia tengah membohongi dirinya sendiri. Ia merasakan sakitnya masih mendera, mengoyak hati yang setiap harinya ia siapkan untuk menerima kepulangan Papanya. Tapi kali ini, ia justru merasakan sesuatu yang salah. Sesuatu yang terasa tak seharusnya ia lakukan. Seolah sambutannya tidak seharusnya ia berikan pelukan hangat dan maaf yang banyak.
"Pa, aku masak makan malam. Papa inget janji Tera, kan? Tera pernah janji kalo Papa pulang, Tera bakal masakin makanan kesukaan Papa. Tera tepatin janji itu sekarang," ucapnya. Ia tatap David dengan binar bahagia. Sejenak melupakan luka yang teronggok di hatinya. Denial, Lentera terjebak di sana.
David mengangguk. Langkahnya terayun mengikuti ke mana perginya Lentera. Ya, anaknya sudah besar. Sudah jauh dari terakhir kali ia lihat secara langsung.
KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERASKA
Teen FictionRaska Lautana Biru Nama indah milik remaja dengan nayanika seteduh sinar bulan. Tutur katanya lembut, selembut sutra. Siapa yang tak jatuh cinta pada insan sesempurna Raska? Siapa sangka, jatuh cinta perdananya justru jatuh pada seorang gadis yang...
