Di dalam lemari pakaian yang sempit dan gelap, seorang pria mengunci pintu untuk mengurung seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun di dalamnya. Tangan dan kaki anak itu terikat, mulutnya ditutup dengan lakban hingga nyaris tidak bisa bernapas. Suara isaknya tertelan habis oleh gemuruh hujan di luar. Matanya memerah, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan yang merasuk hingga ke dasar jiwanya, terlalu dalam untuk bisa ditanggung oleh anak sekecil itu.
Tangan kecilnya terus mengetuk dan memukul pintu dengan harapan bisa keluar, tetapi tidak membuahkan hasil karena tenaganya yang sangat terbatas. Ia kelaparan dan kelelahan. Di dalam sini gelap dan berbau busuk oleh kotoran yang keluar dari tubuhnya sendiri. Mereka akan meninggalkannya di siang hari dan bermain permainan perburuan dengannya di malam hari. Ia tidak lagi mengingat sudah berapa hari dirinya berada di tempat ini.
Suara rantai gembok yang dilepas terdengar. Cahaya lampu menyilaukan mata hingga ia harus menyipitkannya. Mereka memalingkan muka karena bau busuk yang menyengat, saling bertukar kata untuk sesaat sebelum permainan perburuan kembali dimulai. Begitulah setiap hari. Anak itu hanya bisa berdoa agar semua ini segera berakhir. Salah satu dari tiga pria dewasa itu melepaskan ikatan di kakinya, menyisakan tangan yang masih terikat dan mulut yang masih tertutup.
Terdengar suara tembakan senapan berburu, menjadi tanda untuk mulai berlari. Kaki kecil anak yang telanjang itu berlari menjejak tanah yang telah menjadi lumpur akibat badai. Hanya cahaya bulan yang membimbing jalannya di dalam hutan yang kini mulai dikenalnya karena sudah sering berlari ke arah yang sama. Namun tenaganya terus berkurang setiap detik. Ia terengah-engah, menghirup udara dingin hingga terasa menyakitkan di paru-paru, tapi rasa takut memaksanya untuk terus berlari.
Meski hujan deras menutupi suara langkah, ia tahu bahwa orang-orang itu sedang memburunya tanpa henti. Anak laki-laki itu bahkan tidak berani menoleh ke belakang. Tak lama kemudian, ia tersandung akar pohon dan jatuh menelungkup ke dalam lumpur. Mereka telah sampai padanya. Ketakutan semakin membuncah saat melihat senyum menyeramkan penuh kesenangan di wajah mereka dan senapan berburu yang tergenggam di tangan.
Kali ini, ia tertangkap lagi!
Terdengar suara tembakan yang disusul oleh gelegar petir.
"Hik!"
Shin Seoltang terbangun dari mimpi buruknya. Tubuhnya basah oleh keringat. Tenggorokannya kering, napasnya terengah-engah. Ia duduk lama sebelum bisa menguasai diri dan meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya mimpi. Namun tubuhnya masih gemetar karena ketakutan. Ia menyeka air mata yang mengalir tak henti, lalu meraih saklar untuk menyalakan lampu kamar.
Tangannya menyentuh dadanya, merasakan detak jantung yang hampir melompat keluar. Dengan susah payah, ia bangkit dari tempat tidur dan pergi mengambil air dingin dari lemari es, meneguknya untuk menenangkan diri. Peristiwa itu sudah hampir dua puluh tahun berlalu, tetapi tetap tertanam jelas dalam ingatannya, tidak pernah memudar sedikit pun.
Dirinya yang berusia sepuluh tahun pernah diculik untuk dijadikan bagian dari permainan perburuan yang keji itu. Malam demi malam ia harus berlari, ditangkap, lalu dikurung kembali di dalam lemari. Begitu terus selama sembilan hari sebelum akhirnya ada yang menyelamatkannya. Namun para pelaku masih belum tertangkap hingga sekarang. Peristiwa itu menjadi mimpi buruk yang menyerupai iblis di bawah ranjang—menakutkan dan menghantui setiap malam hujan.
Seoltang menatap ke luar jendela. Hujan masih turun deras. Ia baru sadar lupa menutup tirai, lalu berjalan mendekat untuk menutupnya. Namun matanya menangkap bayangan hitam di seberang gedung. Jantungnya serasa berhenti berdetak, kakinya lemas hampir membuatnya jatuh.
Mereka datang.
Mereka datang lagi!
Seoltang memeluk dirinya sendiri, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya khayalan. Mungkin hanya bayangan sesuatu yang lain. Mereka tidak ada di sini. Mereka tidak mencarinya. Semuanya telah berlalu hampir dua puluh tahun yang lalu. Begitu tirai tertutup, ia segera kembali ke tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh, seolah berada di bawah selimut bisa memberinya rasa aman. Ia tidak mau lagi. Ia tidak mau dikurung dalam lemari pakaian. Ia tidak mau lagi diburu seperti binatang. Lebih baik dibunuh sekaligus sampai mati.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)