27☕

9 1 0
                                        

"G-gue kotor, Ka ... gu-e k-kotor!" Lentera menangis pilu. Rasa sesak di dadanya begitu menghimpit. Napasnya tersendat, air matanya tak berhenti mengalir. Semua terasa menyakitkan.

Raska hanya mampu memandangi gadisnya yang nampak begitu kacau dengan racauannya. Hatinya bagai tersayat puluhan belati tajam yang menghunus tepat di jantungnya.

"Gue kotor! Gue kotor, Ka!"

"DIEM, TERA! GUE BILANG DIEM! LO NGGA KOTOR!" Raska terbangun dari mimpinya. Peluh membanjiri pelipisnya. Napasnya terengah-engah. Degup jantungnya berdetak kencang.

"Raska, ada apa, Nak? Kamu mimpi buruk, sayang?" Maira dan Bimantara menampilkan wajah khawatirnya. Mereka baru saja berlari ke kamar Raska sesaat setelah mendengar teriakan Raska. Pasalnya Raska berteriak cukup kencang di malam yang penuh keheningan ini.

Maira bergerak memeluk tubuh bergetar Raska. Remaja itu masih dibayangi oleh mimpi buruk itu. Mimpi di mana Lentera yang terlihat jauh dari kata baik-baik saja. Pakaiannya terkoyak, air mata gadis itu tak hentinya mengalir. Mata bengkak dan bibir yang terus menggumamkan kalimat, 'aku kotor'.

"B-bunda, Raska takut ...."

"Ayah, Raska takut ...."

"Raska, dengerin Bunda, Nak. Istighfar, kamu cuma mimpi buruk. Mimpi itu tidak lebih dari bunga tidur. Sudah, tenangkan diri kamu dulu," ucap Maira tenang sembari mengusap lembut dada Raska, berharap putranya kembali tenang.

"Minum dulu, Ka." Bimantara dengan segelas air di tangannya mendekat. Menyodorkannya pada Raska yang tengah sibuk mengatur napasnya. Peluh membanjiri tubuhnya, meski cuaca tengah dingin-dinginnya.

"Mas, dia demam makanya sempet mimpi buruk," kata Maira pada Bimantara. Dengan sigap punggung telapak tangannya ia tempelkan pada dahi putranya. Panas, Maira benar.

Selepas pulang dari rumah Lentera, Raska langsung beranjak ke kamar. Meninggalkan ruang makan yang tengah diisi oleh kedua orang tuanya. Tubuhnya terasa lelah dan lemas. Matanya berair, itulah sebabnya Raska memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Namun siapa sangka, suhu tubuhnya semakin tinggi. Tidurnya tak tenang dengan mimpi yang begitu menakutkan.

"Makan malam dulu, ya? Ayah ambilin. Abis itu minum obat penurun panas, setelahnya kamu boleh istirahat."

Ucapan Bimantara disambut gelengan kecil dari Raska. Wajahnya memerah, sudut matanya berair. Tubuhnya kali ini benar-benar terasa tidak enak dan kurang nyaman.

"Mau tidur aja, Yah. Raska ngantuk," tolaknya.

"Perut kamu harus diisi, sayang. Bunda aja deh yang ambil makan, kamu di sini di temenin Ayah dulu. Gimana?"

"Raska ngga laper, Bunda." Penolakan itu tersampaikan kembali. "Bun, Raska mau liat Lentera sebentar, ya? Abis itu langsung pulang kok, cuma mastiin dia baik-baik aja," izinnya. Gelengan kepala sebagai tanda tak setuju berasal dari Bimantara. Pria itu duduk tepat di samping Raska. Mengusap punggung kokoh yang kini agak sedikit membungkuk akibat posisinya yang kurang nyaman.

"Dia pasti baik-baik aja, Ka. Apalagi kata kamu Ayahnya juga lagi di rumah, kan? ini masih jam delapan, mungkin Lentera masih ngabisin waktu bareng Ayahnya. Kamu mimpi buruk tentang Lentera, hm?"

"Cuma liat dari depan rumah doang, Ayah. Ngga sampe masuk dan ganggu mereka," rayu Raska pada Bimantara. "Boleh ya, Bun?" tak mendapat jawaban pasti dari Ayahnya, ia bertanya pada Bundanya.

"Loh, kan kamu tau sendiri pagar rumah Lentera kayak gimana. Ngga mungkin keliatan, Raska. Percuma atuh, sayang ...."

"Udah di sini aja, besok kalo udah mendingan baru Ayah kasih izin buat main lagi."

"Bun, tolong jagain dulu anaknya. Ayah ambil makan malem Raska dulu, biar bisa minum obatnya nanti."

"Siap, Mas."

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang