Dua pekan berlalu begitu singkat. Namun, untuk Lentera, dua pekan ini terasa begitu panjang dan mampu membuatnya jenuh oleh isi pikirannya sendiri.
Berkali-kali gadis itu merutuki dirinya sendiri, berusaha menghapus memori menyakitkan beberapa hari yang lalu. Ayahnya sudah meminta maaf, memohon padanya untuk tidak membencinya.
Lentera bersyukur akan hal itu, setidaknya Ayahnya masih mau untuk meminta maaf dan berjanji untuk meninggalkan kebiasaan buruknya dan memperbaiki hubungannya dengan Mamanya.
"Ra, kita di sini udah setengah jam yang lalu. Dan kita masih sama-sama diam. Entah gue yang terlalu takut membuka obrolan, atau lo yang masih asik sama dunia lo sendiri," ucap Raska. Lelaki itu memainkan rumput liar. Bibirnya mencebik lucu. "Lo dari tadi diem, gue bingung mau mulai obrolan dari mana. Terlalu tolol kalo gue nanya, 'udah makan belum? Udah minum belum? Udah sayang sama gue belum?' ya, kan?"
Lentera melirik ke arah kekasihnya. Ia terbitkan senyum indah untuk Raska.
"Ehehe, gue kalo bengong dikit langsung lupa situasi, Ka."
"Mikirin apa, hm?"
Lentera menggeleng kuat. Ia rebahkan kepalanya pada paha Raska. Kini, jemari Raska sibuk menyibakkan rambut gadis itu yang terbang terkena angin. Di sini teduh, tepat di bawah pohon rindang yang begitu besar.
"Ka, gue seneng Papa akhirnya minta maaf sama Mama. Mereka baikan dan Papa mau pulang ketemu gue. Papa mau perbaiki hubungan sama gue juga Mama."
"Terus kenapa nadanya sedih gitu? Lo ngga seneng Papa lo balik?" lagi dan lagi Lentera menggeleng.
"Papa pulang, tapi Mama ada urusan. Lo inget kalo gue anak pindahan, kan? Nah, rumah lama gue ada yang mau nempatin, beberapa barang-barang gue masih ada yang tertinggal di sana dan harus cepet-cepet diambil karna mau ditempatin dalam waktu dekat. Mama bilang biar dia aja yang ambil barang-barang gue, soalnya jarang-jarang Papa pulang. Mama ngga mau gue kehilangan kesempatan buat ketemu Papa," jawab Lentera. Perasaan sedihnya jelas kentara. Nada bicaranya terdengar tak berselera. Gadis itu bimbang dengan perasaannya.
Diusapnya kening Lentera. Raska tentu paham jelas apa yang dirasakan Lentera saat ini. Semuanya jelas berjalan di luar kendali.
Raska menerbitkan senyumnya. "Kapan bokap lo balik?"
"Besok. Mama pergi sore ini."
Raska mengangguk. "Kalo gitu biar gue ikut nyokap lo, gimana? Gue bantu-bantu nyokap lo di sana biar semuanya cepet selesai," usul Raska. Lentera bangkit. Ia menggeleng kuat atas usulan Raska barusan.
"Lo mau ninggalin gue? Ngga-ngga! Ngga gue ijinin," tolak Lentera. "Lagian rumah lama gue jauh, ngga mungkin bisa bolak-balik dalam waktu dekat, Ka. Gue ngga mau lo jadi ninggalin sekolah demi gue. Udah, lo diem aja di sini, ngga usah mau ikut-ikut nyokap gue segala!" larang gadis itu. Wajahnya nampak lucu saat marah.
"Yaudah iya-iya. Mungkin Tuhan mau kasih ruang buat kalian memperbaiki hubungan. Selama ini kalian jauh, pasti ada rasa canggung nantinya. Gue cuma bisa berharap, kalian bisa semakin erat. Bokap lo menuaikan tugasnya sebagai seorang Ayah, dan lo ngga kekurangan kasih sayang."
"Makasih, Ka. Udah selalu mengusahakan buat selalu ada. Lo selalu mau gue libatin dalam segala hal, entah suka maupun duka perihal gue," ucap Lentera sembari memeluk Raska. Sejenak remaja itu tertegun dengan pergerakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Lentera. Hangat, itu yang ia rasakan dari dekapan Lentera. Rasanya hampir sama saat Bundanya memeluknya, sama-sama hangat dan nyaman.
"Tetap ceria, perempuannya Raska. Gue siap jadi tameng buat segala badai yang punya niat jahat sama lo. Selagi bisa gue usahakan meskipun harus bertaruh nyawa, akan selalu gue usahakan demi bahagianya lo, Ra. Senyum hangat ini milik Raska. Dan untuk mendapatkannya, gue mau berjuang lebih."
☕
Beberapa kecewa di masa lampau adalah pijakan untuk belajar mengenali apa yang layak diperjuangkan dan apa yang lebih baik dilepaskan.
Beberapa dari kita mungkin bertanya, 'kenapa harus aku?'
Tapi nanti, saat semua terasa ringan, kita akan paham akan beberapa hal.
"Ma? Mama yakin, ngga bisa ditunda sampe lusa aja?" lirih Lentera yang merasa berat untuk mengizinkan Luvita pergi.
Luvita tersenyum tipis. "Mama juga maunya lusa aja, tapi orang yang mau sewa rumah lama kita mau cepet-cepet pindahan. Maafin Mama ya, sayang? Tera di sini harus seneng-seneng, apalagi besok Papa pulang. Habisin waktunya buat ceria-ceria bareng Papa. Mama yakin Tera bisa jaga diri di sini," ucap Luvita menenangkan Lentera.
"Tante, mobilnya udah siap." Raska datang dengan senyum lebar. Ia membantu menyiapkan keperluan selama perjalanan dan mengecek kondisi mesin mobil milik Luvita.
Luvita mengangguk, "terima kasih, Nak. Udah mau bantu Tante."
"Dengan senang hati, Tante."
"Tante boleh minta tolong satu hal?" Raska mengangguk mengiyakan. "Tolong jaga anak gadis Tante, ya? Tante titip selama Tante ngga di sini. Tera itu suka bandel, jadi kamu harus lebih sabar lagi ngadepinnya, ya?"
"Siap!"
"Yaudah, Mama jalan dulu, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERASKA
Teen FictionRaska Lautana Biru Nama indah milik remaja dengan nayanika seteduh sinar bulan. Tutur katanya lembut, selembut sutra. Siapa yang tak jatuh cinta pada insan sesempurna Raska? Siapa sangka, jatuh cinta perdananya justru jatuh pada seorang gadis yang...
