Sepulang sekolah, yang ada di benak Raska hanyalah tentang gadisnya. Ia tidak akan tenang sebelum memastikannya sendiri kondisi Lentera. Ia pacu motornya membelah jalanan yang cukup padat. Beberapa kendaraan mengeluhkan aksi kebut-kebutan yang dilakukan Raska dengan mengklakson, remaja itu meminta maaf dengan isyarat.
"Gue ngga akan tenang sebelum liat sendiri gimana kondisi lo, Ra."
Sekitar sepuluh menit lamanya, ia akhirnya memarkirkan motornya pada halaman luas rumah gadisnya.
"Tante, tolong buka pintunya." Gedoran pintu tak dibalas apapun. Ia semakin takut. Pikirannya semakin kacau.
Mendapati pintu itu tak terkunci, Raska masuk. Ia berjalan ke arah di mana Luvita kini tengah terduduk menangis di depan sebuah pintu kamar. Kamar yang ia tahu pemiliknya adalah Lentera.
"Mama mohon buka pintunya, hiks. Tera, Mama minta maaf, sayang. Tapi tolong buka pintunya. Kamu belum makan dari pagi, Nak." Isak tangis memilukan terdengar jelas oleh indra pendengaran Raska. Ia berjalan mendekat. Menyamakan posisi Luvita.
"Tante, pindah duduk di sana aja, ya? Tera biar aku aja yang bujuk," ajak Raska pada Luvita. Ia membantu wanita itu untuk bangkit. Luvita masih enggan menghentikan tangisnya. Ia seka air mata yang terus saja mengalir deras.
"Tapi, Tera belum keluar dari semalem, Nak. Tante khawatir dia di dalem sana kenapa-kenapa. Tante ngga mau ketakutan Tante jadi kenyataan," lirihnya.
Raska mengangguk memahami ketakutan Luvita. Ia pun sama takutnya saat ini. Namun, mereka harus lebih tenang menangani masalah ini.
"Ngga papa, biar aku yang bicara pelan-pelan, Tante."
Setelah memastikan Luvita duduk dengan nyaman. Ia kembali menuju depan pintu kamar Lentera. Pintu itu tertutup rapat, menutup akses siapapun untuk masuk ke dalam dan melihat bagaimana keadaan seseorang di dalam sana.
Raska ketuk pintu itu sebanyak tiga kali. Tak bohong, dadanya kini berdegup begitu kencang. Napasnya memburu, sebab gadisnya tak kunjung membuka pintu.
"Tera, buka pintunya. Cerita sama gue, luapkan ke gue, semuanya. Lo inget janji kita, kan? Cerita pelan-pelan ke gue, kita cari solusi yang paling tepat. Lo ngga bisa terus ngurung diri di kamar kayak gini."
"Keluar, Ra. Peluk gue. Luapin apa yang mengganjal dan mengganggu ketenangan lo. Sini, gue tau lo butuh pelukan gue."
Pintu itu terbuka. Pemandangan pertama yang dapat Raska lihat adalah Lentera dengan rambut acak-acakan, mata sembab, wajah merah, dan benar-benar tak ada gairah kehidupan di sana.
Hap
Tanpa ba-bi-bu, Raska membawa Lentera pada dekapnya. Ia dekap erat tubuh tak berdaya gadisnya. Lentera kembali terisak, kali ini lebih hebat. Seolah tengah meluapkan segala hal yang memberatkan batinnya.
Lentera mencengkeram seragam Raska. Gadis itu berusaha menghilangkan sesak yang begitu menyiksa.
Luvita menatap sendu putrinya yang begitu kacau dalam dekap Raska.
"Everything is fine, calm down ok?"
Ia kecup berkali-kali puncak kepala gadisnya.
"Nangis sepuasnya. Nanti baru cerita, sampe ngga ada satupun yang tersisa buat semakin bikin lo down. Tapi meskipun boleh nangis sepuasnya, nangisnya jangan lama-lama. Nanti mata cantiknya jadi bengkak kalo kelamaan nangis. Tuh, Mama lo khawatir banget liat lo kayak gini. Cup cup cup, pelitanya Raska lagi redup."
"Ka, Papa jahat! Selama ini semua orang bohongin gue! Semua orang biarin gue hidup di antara kebingungan dan kebodohan. Gue kecewa! Gue kecewa, kenapa Papa sejahat itu, Ka?" suara Lentera bergetar. Wajahnya yang penuh sembab ia paksa untuk melihat raut tenang Raska.
"Hiks, gue ngga bisa maafin Papa. Penantian gue selama ini buat nunggu Papa pulang sia-sia, Ka. Semua harapan gue sekarang jadi luka terhebat bagi gue. Papa selingkuh, Ka! Papa selingkuhin Mama! Dan lo tau? Mama diem aja dan tetep pertahankan rumah tangga toxic ini demi gue! Gue alasan sakit hatinya Mama. Gue ... gue udah biarin Mama hancur tanpa sepengetahuan gue, Ka ...."
Tubuh Lentera melemas. Tubuhnya meluruh ke lantai dalam pelukan Raska. Pandangan gadis itu kosong, cahaya matanya redup. Benar-benar terlihat kacau.
Raska menepuk-nepuk pipi Lentera, berusaha agar gadis itu tetap mempertahankan kesadarannya. Sementara Luvita kini kembali menangis dan berlari mendekat pada tubuh lemas putrinya.
"Gue gendong, ya? Abis itu gue suapin makan. Lo harus mau. Lo udah lemes banget, Ra. Gue ngga nerima apapun bentuk dari penolakan!" Raska membopong tubuh Lentera. Dibaringkannya dengan hati-hati pada kasur empuk milik Lentera.
Lentera menggeleng lemah.
"Lo di sini aja. Jangan kemana-mana." Matanya kemudian melirik ke arah Luvita. "Ma, aku minta Mama keluar, ya? Tera ngga mau ketemu Mama dulu," lirihnya. Luvita tertegun beberapa saat. Apakah sekecewa itu putrinya padanya?
Dengan berat hati, ia menuruti permintaan Lentera. Ia percayakan sepenuhnya Lentera pada Raska.
"Tolong jagain putri Tante, ya? Tante siapin makan dulu," ucap Luvita sembari menganggukkan kepalanya. Ia memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja setelah mendapat penolakan putrinya. Bahkan kini senyum wanita itu tampak dipaksakan. Setelahnya ia berlalu, meninggalkan dua remaja itu dengan tangis yang sebenarnya belum mereda.
Raska mengangguk paham. Lentera butuh waktu dari apa-apa yang membuatnya kecewa.
"Ra, gue ngerti banget lo kecewa. Lo punya hak buat ngerasa marah, sedih, muak, semuanya. Ngga ada satupun yang salah sama perasaan lo, Ra. Itu tindakan murni di saat lo ngerasa dikhianati."
"Yang penting, jangan nyalain diri sendiri. Ini bukan salah lo, bukan juga tanggung jawab lo. Keputusan Papa lo buat selingkuh itu keputusannya sendiri, dan keputusan nyokap buat pertahanin pernikahannya juga pilihannya sendiri. Lo ngga harus setuju sama semua keputusan itu, lo juga ngga harus nerima semua itu sekarang. Gue tau ini terlalu tiba-tiba buat lo dan tentunya berat buat lo lalui."
"Yang lo butuhin sekarang cuma waktu dan ruang buat perlahan nerima semua kenyataannya. Kalo mau nangis, nangis aja. Kalo mau marah, marah aja. Gue ngga akan maksa lo buat langsung baik-baik aja. Tapi satu hal yang harus lo inget, ini semua bukan salah lo. Dan tentunya lo ngga sendirian, ada gue. Ada gue yang siap jadi wadah buat menampung semua lara yang lo rasa."
"Gue kecewa sama semuanya, Ka."
"Kecewa sama semuanya itu wajar. Wajar banget malahan. Lo ngga harus pura-pura nerima semuanya atau pura-pura kuat. Kalo lo butuh waktu, take your time. Gue ngga bisa janji semuanya bakal secepatnya membaik, tapi gue di sini kalo lo butuh tempat buat cerita atau sekedar diem bareng."
"Gue mau mereka cerai. Gue ngga mau ngeliat Mama sakit hati demi gue, tapi gue takut Papa semakin jauh dari gue, Ka. Gue takut Papa semakin bentangin jarak yang ngga bisa gue gapai," lirih gadis itu. Air matanya kembali meluruh bersama rasa sakit yang menguar begitu dalam.
"Biarin itu jadi keputusan mereka nantinya. Apapun nanti hasilnya, lo harus yakin kalo itu udah jadi keputusan final yang terbaik buat semua pihak. Gue yakin, semua orang ngga ada yang mau broken home, termasuk lo begitu juga gue. Tapi, rencana Tuhan itu indah, Ra. Lebih indah dari rencana manusia."
Raska mengusap lembut rambut Lentera. "Ayo senyum lagi dong, pelitanya Raska ngga boleh redup terlalu lama."
Gadis itu tersenyum. Hatinya tenang. Semua yang dikatakan Raska untuknya memang benar.
Benar, yang paling ia butuhkan saat ini bukanlah jawaban atau solusi, tapi ruang untuk merasa. Tak apa jika ia harus marah, menangis, atau muak sekaligus.
'Terima kasih, Tuhan. Di sela hancurnya putriku, masih ada Raska yang siap membantunya untuk menyusun kembali apa yang hancur.' Batin Luvita yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Nampan dengan piring lengkap lauk pauk dan gelas berisi susu itu ia abaikan sebentar. Ia kagum pada bijaknya sosok Raska.
Ada rasa syukur di tengah kesedihan, ada harapan di tengah kehancuran. Raska adalah sosok yang begitu berarti untuk Lentera. Layaknya pijakan terakhir yang masih dipegang saat semuanya runtuh.
Luvita menyerahkan sebagian harapannya pada Raska, percaya bahwa remaja itu mampu menjadi tempat bersandar untuk Lentera.
KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERASKA
Teen FictionRaska Lautana Biru Nama indah milik remaja dengan nayanika seteduh sinar bulan. Tutur katanya lembut, selembut sutra. Siapa yang tak jatuh cinta pada insan sesempurna Raska? Siapa sangka, jatuh cinta perdananya justru jatuh pada seorang gadis yang...
