23☕

6 0 0
                                        

Pagi itu, matahari masih malas naik, sinarnya mengintip malu-malu di antara celah tirai. Embun sisa semalam menggantung di ujung dedaunan, berkilau saat disentuh cahaya pertama.

Di luar, dunia mulai bernafas. Suara burung saling bersahutan, membangunkan yang masih terlelap. Jalanan perlahan dipenuhi langkah-langkah tergesa, orang-orang yang siap menjalani harinya, atau mungkin sekadar pura-pura siap. Sementara itu, di sudut kamar yang remang, seseorang masih terjebak dalam pikirannya sendiri—antara ingin menyambut pagi atau menarik selimut lebih erat.

"Raska! Bangun, Nak!" Maira mengguncang tubuh Raska yang masih terbalut selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.

"Eung ...." Raska melenguh. Mengucek matanya yang nampaknya masih terlalu berat untuk terbuka lebar. Ia masih mengantuk, sangat.

Semua itu bertahan hingga Maira mendudukkan paksa tubuh remaja itu. Sontak membuat Raska kaget dan melototkan matanya.

"Ngapain itu matanya melotot ke Bunda? Mau marah, hm?" Raska beringsut. Lalu menggeleng dan kembali ingin merebahkan tubuhnya di sana. Semalaman ia tak bisa terlelap, dan saat dirinya baru saja menyelami mimpi, pagi sudah menyapa dan meminta sesiapa agar bersiap.

"Masih pagi, Bun."

"Siapa yang bilang udah malem? Lagian kamu tuh ya, udah gede bukannya makin bangun pagi malah makin sering kesiangan," keluh Maira.

"Aku kesiangan pun kucing para tetangga masih belum berak, Bun. Masih banyak yang tidur di Jam segini. Ini bunda bangunin aku selalu pagi-pagi buta," rengeknya.

Maira memang selalu membangunkan Raska di jam pagi-pagi buta. Entah apa alasannya. Raska pernah menuntut jawabannya, katanya agar dirinya tak malas bangun pagi.

Oh ayolah, bahkan kucing dan para anjing pun masih enggan membuang kotorannya di jam segini, di saat dingin tengah menyelimuti sebadan-badan.

"Mandi, Bunda mau siapin sarapan. Ayah juga udah Bunda suruh mandi biar seger. Bunda tinggal jangan tidur lagi. Awas aja kalo sampe Bunda liat kamu malah tidur!"

Raska tak mengangguk tak juga menggeleng. Ia hanya akan pasrah tubuhnya lagi-lagi harus dilanda dingin saat menggebyurkan air saat mandi.

Maira melangkah keluar. Raska mengusap seluruh wajahnya. Sebagai anak lelaki satu-satunya, terkadang beberapa orang mengatakan bahwa mereka iri dengan kehidupannya. Andai saja mereka tahu, bahwa di rumah ini bangun pagi pun harus selalu pagi buta.

Tak heran jika ia menjemput Lentera selalu tepat waktu. Bahkan di saat gadisnya masih bersiap makan, ia sudah bertengger manis di teras rumah gadisnya itu. Menunggu dengan senyum dan membayangkan betapa cantiknya Lentera hari itu.

"Selamat pagi, Ayah!" sapa Raska pada Ayahnya. Ia berlalu begitu saja tanpa menyapa Bundanya terlebih dahulu.

"Pagi anak gantengnya Ayah," balik sapa Bimantara pada putranya. Senyumnya mengambang melihat cahaya yang terpancar dari putranya. Tampang putranya pasti menurun darinya. Ia yakin akan hal itu.

"Bunda ngga disapa?" Maira menatap sinis ke arah Raska. "Emang Ayah doang yang di sini? Bunda transparan, kah?"

"Ngambek tuh Bundamu," kompor Bimantara yang cekikikan. Sementara Raska masih nampak acuh.

"Males ah! Bunda ngeselin."

"Nyenyenye, Bunda ngga salah apa-apa padahal. Harusnya kamu tuh bilang makasih sama Bunda, udah bangunin pagi-pagi. Kamu kan jemput Tuan putri kesayangan Bunda. Jadi ngga keteteran kalo bangun pagi, kan?" Raska mengangguk. Tapi tetap saja hatinya mendongkol. Ia mendesis tatkala sebuah sendok menyentuh pipinya.

"Kenapa, Yah?"

"Jagain Tuan putri baik-baik, apalagi Bunda udah sebut sebagai kesayangan. Kalo sampe ada apa-apa pasti Bunda bakal marah besar sama kamu," peringat Bimantara pada putranya.

"Awas aja kalo sampe Tuan putri kesayangan Bunda kenapa-kenapa. Bunda cubit hidung kamu sampe pindah ke samping telinga," ancam Maira pada putranya yang kini melayangkan tatapan mengejek.

"Sarapannya enak, Bun. Raska berangkat dulu, mau jemput pujaan hati," alihnya. Kemudian menyalami punggung tangan kedua orangtuanya.

"Anakmu, Mas. Udah jatuh cinta banget kayaknya sama tetangga seberang."

"Jadi inget kita jaman dulu, ya? Dulu aku juga sama kayak Raska, bedanya aku lebih kalem."

Satu geplakan mengenai lengan Bimantara. Kalem katanya. Padahal lelaki itu dulunya punya seribu cara diluar akal manusia untuk mencuri hati Maira. Sempat tertolak puluhan kali hingga akhirnya Maira luluh dan berakhir menikah.

Bimantara, masa muda yang dipenuhi keusilan dan hal-hal yang menantang berbicara mencintai secara kalem? Jangan dipercaya, itu hanya bualan.

Sementara Raska kini tengah berbincang dengan Luvita. Menanyakan keberadaan Lentera.

"Tera ngga bisa masuk sekolah hari ini. Tante titip surat ijinnya, ya?"

"Loh? Emang kenapa, Tante? Bukannya semalem masih baik-baik aja?" tanya Raska yang merasa ganjal di sini.

"Ada masalah yang ngga bisa Tante ceritakan sekarang sama kamu. Nanti Tante kabarin lagi," balas Luvita. Wanita itu nampak gelisah dari cara bicaranya. Raska mengernyit heran.

Sebelum akhirnya mau tak mau ia mengangguk dan pergi dari sana.

"Sial! Chat maupun telfon gue ngga ada satupun yang dibales. Lo kenapa, Ra?"

Raska terus menggerutu di sisi jalan tak jauh dari rumah. Ia berusaha menghubungi gadisnya. Namun nihil, tak ada satupun balasan dari gadis itu. Ia semakin cemas. Berpikir ada sesuatu yang tengah terjadi dalam keluarga mereka.

Kamu jangan khawatir, mungkin Tera butuh waktu. Nanti Tante kabarin lagi. Dari tadi ponsel Tera bunyi, itu pasti kamu yang telfon, kan? Tante denger dari luar kamar. Ngga papa, kamu fokus sekolah dulu, Nak. Semangat!

Satu pesan masuk dari Luvita memecah lamunannya. Ia memutuskan untuk pergi ke sekolah dengan perasaan campur aduk. Ia tak bisa berpikir dan bersikap seolah-olah semuanya tengah tak terjadi apa-apa. Ia masih mengkhawatirkan Lentera.

Bagaimana kondisi gadis itu sekarang, apa yang tengah dirasakannya, apa yang tengah ia hadapi, apa yang tengah mengganggu pikiran gadis itu. Raska ingin tahu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.

Pulang sekolah nanti gue ke sana, Ra

Terkirim. Namun lagi-lagi hanya sekedar terkirim tak terbalas.

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang