22☕

6 1 0
                                        

Hari berganti malam. Cepat sekali matahari tergantikan posisinya oleh bulan yang kini tengah bersinar terang ditemani ribuan kilauan bintang.

Wajah Lentera bersemu. Raska pelakunya. Beberapa detik yang lalu, remaja itu mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya serta merta berdegup kencang.

"Gue ngga bisa ngga jatuh cinta sama sosok sempurna kayak lo, Ra." Beo Raska semakin membuat pipi gadis itu memerah hingga telinga. "Gadis cantik ini selalu terlihat sempurna. Gue harus berterima kasih sama siapa dulu, ya? Sebaik ini Tuhan ngasih gue kesempatan buat jadi sandaran lo, Ra. Sebaik ini Tuhan ngasih kepercayaan buat jaga dan ngelindungin lo. Semoga, gue selalu bisa diandalkan ya, Ra."

"Makanya lo harus tetep hidup, Ka. Biar bisa jagain gue. Masa udah dikasih kesempatan luar biasa sama Tuhan buat jaga gue malah lo sia-siain? Ngga mungkin juga kan kalo gue harus jauh-jauh dari manusia yang pikirannya susah ketebak ini, ahaha!" tawa Lentera terdengar renyah. Ia sampai tak sadar memukul bahu Raska yang hanya diam saja membiarkan Lentera memukulnya.

Sudah biasa. Gadis itu akan memukul apapun yang berada di dekatnya saat ia tertawa.

"Akh! Sshh ...." Raska memekik kesakitan. Ia melirik Lentera yang kini merasa bersalah. Sebelum akhirnya tawa Raska-lah yang terdengar lebih renyah.

Satu pukulan telak mendarat di paha remaja itu. "Ngeselin tau, ih! Malah dikerjain! Dasar singa licik!"

Lentera bersedekap dada dengan bibir yang dimanyunkan. Lirikan maut ia layangkan pada Raska yang kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Maaf, Ra. Lagian lo tuh kalo ketawa suka banget sambil mukul orang. Mending kalo mukul aspal, lah ini bahu tegap paripurna gue yang jadi sasaran," cicit Raska. Gadis itu tampak membuang muka.

"Kalo tangan gue luka gimana? Lagian gue mukulnya ngga kenceng-kenceng amat!" sangkal Lentera.

Raska bangkit dari duduknya. Mengabaikan Lentera yang kini tengah menunjukkan bahwa dirinya tengah marah. Lagi pula, marahnya kekasihnya itu tak seram sama sekali.

"Ih dasar! Selain ngeselin ternyata lo tuh ngga peka!" pekik Lentera. Raska kembali dengan segenggam bunga liar yang ia petik barusan. Ia ganti jemari Lentera untuk mengekori ke mana ia akan pergi.

"Duduk sini, Ra."

Lentera setuju-setuju saja, enggan menatap Raska yang kini berjalan ke arah belakang.

"Jangan marah. Gue minta maaf, ya? Pukulan lo emang ngga kenceng, bahkan ngga kerasa sama sekali buat gue. Cuma tadi gue agak sedikit pengen ngusilin lo sesekali. Gue janji ngga ngulangin lagi."

Lentera hanya diam. Ia membiarkan Raska memainkan rambutnya yang ia biarkan tergerai begitu saja.

"Gue kuncir, biar ngga panas." Raska menguncir rambut indah itu. Jangan tanyakan dari mana ia mendapatkan kuncir rambut berwarna biru itu. Sebab, ia menyetok banyak untuk Lentera tanpa sepengetahuan gadis itu.

Bunga-bunga yang berhasil ia kumpulkan tadi ia gunakan untuk menghias rambut Lentera. Sekitar ada lima belas bunga liar berukuran kecil kini bertengger manis pada rambut hitam legam milik Lentera.

Raska tersenyum puas melihat karyanya. Cantik.

"Sekarang, kadar kecantikan lo nambah seratus kali lipat. Gue makin jatuh hati." Pipi gadis itu kembali memerah. Lalu, dengan gerakan super cepat, ia memutar tubuhnya dan memeluk tubuh tinggi tegap Raska.

Raska mengusap puncak kepala gadisnya.

"Dimaafin. Tapi dengan satu syarat!"

"Hm?"

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang