Pagi ini, kucing kecil yang dijanjikan oleh kakek Andi untuk Alta telah sampai.
Alta terus saja bermain dengan kucing yang dibelikan oleh Kakek Andi itu, Nono namanya, Alta yang memberikannya nama.
Sekarang sudah hampir jam makan siang. Kakek Andi dan Papa Sean sedang bekerja di salah satu gedung yang ada di belakang Mansion sedangkan Cavero sedang belajar, sebenarnya sekolah sih, semenjak tinggal di kediaman Adibrata Cavero sekolah di rumah.
Alta dari pagi bermain dengan kucing barunya dan ditemani oleh Nenek Risa. Tapi, beberapa menit yang lalu Nenek Risa pergi ke dapur, Nenek Risa akan memasak untuk makan siang.
Sekarang Alta sedang makan roti dengan selai coklat di dalamnya, Nono juga sedang memakan makanannya di dalam mangkuk khusus miliknya sendiri.
Alta makan sambil fokus menonton kartun favorit nya yang sedang tayang di televisi.
Saat matanya tidak sengaja melirik ke arah dimana Nono makan tadi, Alta langsung duduk dengan tegap begitu melihat kucingnya, Nono tidak ada di tempat.
Alta segera saja mengedarkan pandangannya mencari keberadaan kucing kecil itu.
Hingga tatapan Alta mengarah pada meja di sampingnya, Alta bisa melihat kucing itu sudah berada di atas meja dan sedang mengendus piring berisi roti lapis milik Alta yang masih tersisa satu di atas piring itu.
"Nono, gak boleh. Itu punya adek!" pekik Alta segera berdiri dan menghampiri meja itu.
"Hush.. Hush.. Sana ih Nono." kata Alta sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengusir kucing kecil itu yang bahkan tidak beranjak satu senti pun.
"Ihhh.. Jangan." pekik Alta ketika melihat Nono yang mulai menjulurkan lidahnya ke arah roti lapis milik Alta.
Dengan cepat Alta meraih remot tv yang berada di dekatnya dan mendorong-dorong tubuh kecil Nono yang masih tetap diam di tempatnya.
Mungkin karena merasa terganggu, kucing itu langsung saja menatap Alta.
Sedangkan Alta yang merasa terintimidasi oleh tatap kucing itu pun langsung menciut mundur dua langkah ke belakang.
Kucing itu pun kembali fokus pada roti lapis milik Alta. Melihat itu, Alta tidak terima. Ia tidak suka berbagi makanan kesukaannya.
Maka dari itu, Alta segera saja mengambil piring itu sebelum Nono sempat menyentuh isinya.
Tentu saja tindakan Alta itu mengundang tatapan tajam dari Nono.
"Jangan liat Adek telus!" pekik Alta kemudian memundurkan langkahnya dengan mata yang masih terfokus pada kucing kecil itu yang masih diam di tempatnya.
Sudah cukup jauh jarak antar Alta dan kucing itu, Alta langsung memutarkan tubuhnya dan kembali berjalan. "Alta mau mam di kamal ja~"
Saat menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua tempat dimana kamar Alta berada, Alta merasakan ada bulu-bulu yang menggelitik kakinya.
Karena merasa terganggu, Alta menengok ke bawah dan ternyata Nono mengikutinya, berjalan di samping kaki Alta sambil terus menatap piring berisi roti lapis yang Alta pegang.
Alta yang merasa kaget melihat kucing itu mengikutinya langsung saja berlarian di tangga, walaupun jatuh beberapa kali karena terburu-buru, Alta pasti akan langsung bangun dan kembali berlari sambil sesekali melihat ke belakangnya.
"Jangan ikut Adek telus!"
"Ihhh Papa."
Akhirnya setelah beberapa kali terjatuh di anak tangga, Alta berhasil sampai di lantai dua.
Alta kembali berlari secepat yang ia bisa dengan si kucing kecil, Nono yang masih berlari mengikutinya dari belakang.
"Jangan ikut ikut Adek!" pekik Alta untuk kesekian kalinya sambil melihat kebelakang dan kucing itu masih mengejarnya.
