"Halo, Om." Lentera menyapa lebih dulu seseorang yang ia panggil dengan sebutan itu.
"Halo, Lentera, Om sebelumnya mau minta maaf. Om terpaksa harus mengundur persiapan kejutan untuk Raska. Om ada pekerjaan mendadak dan harus segera diurus. Kejutannya Om undur sampai hari ulang tahun Raska, tepat sebulan lagi. Om rasa itu waktu yang jauh lebih tepat."
Ya, benar. Seseorang yang tengah bicara dengan Lentera lewat sambungan telepon itu adalah Agastya. Lentera hanya mengangguk. Tak bisa berbuat banyak selain menyetujui itu. Toh, di sini ia hanya membantu untuk menyiapkan kejutannya, bukan sebagai orang yang mengadakan kejutan itu.
"Iya Om, ngga papa. Semoga urusannya segera terselesaikan."
"Meskipun begitu, tetap rahasiakan ini. Jangan sampai anak itu tau. Saya tidak mau rencana saya gagal untuk kejutan ini."
"Om tenang aja, aku bisa jaga rahasia," jawabnya dengan muka malas. Entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa ia tidak seharusnya ikut dalam rencana ini.
Sambungan telepon itu terputus. Ia menghela napasnya gusar. Benda pipih itu ia biarkan jatuh mengenai dadanya. Tepat setelahnya, ia meringis merasakan nyeri.
"Sakit elah! Udah bosen jadi hp gue ya lo?" gadis itu merutuk menunjuk-nunjuk benda tak bernyawa namun hidup itu. Ia kesal, kenapa harus jatuh dan nahasnya menjatuhi dirinya.
"Kalo gue aduin ke Raska pasti abis lo!"
Lentera terus saja mengoceh memarahi benda tak bernyawa itu. Berpikir jika ia mengadukan pada Raska, lelaki itu akan berpihak padanya. Oh ayolah, apakah gadis itu lupa bahwa yang sedari tadi ia omeli hanyalah sebuah benda pipih yang tak punya nyawa?
Di sisi lain, di belahan sudut bumi lain. Agastya tengah memaki-maki remaja yang engga ia sebut anak.
"Berapa kali Ayah bilang! Ayah butuh uang buat kabur! Kamu mau lihat Ayah mendekam di penjara sialan itu, hah?!"
"Anak sialan sepertimu memang tidak bisa diandalkan! Mati saja kamu! Enyah dari hidupku!" makian demi makian itu terdengar menyakitkan. Telinga Rehal kebas akan seluruh bentakan itu, tapi hatinya berdenyut nyeri. Ia menatap kosong wajah Ayahnya. Di sana, sorot mata itu terlihat begitu asing untuknya. Sorot mata penuh kebencian, amarah, murka ... ia benar-benar tak bisa mengenali tatapan itu sebagai tatapan seorang Ayah untuk anaknya.
"Ayah pikir aku apa? Aku ngga pegang uang! Pakai uang hasil judi Ayah, bukannya selama ini uang Ayah dipakai buat judi? Pakai hasilnya buat kabur. Kenapa harus minta ke aku? Kenapa harus maki aku? Ayah pikir aku pekerja yang mau memberikan uangnya untuk seorang pemaksa sepertimu?" sungguh Rehal muak dengan Ayahnya. Rasa sakit hatinya yang mendorongnya untuk mengatakan itu.
Meski, dalam lubuk hatinya yang terdalam ia tak tega membayangkan Ayahnya akan mendekam dalam jeruji besi.
"Di mana selingkuhan Ayah yang selalu dibanggakan itu? Kenapa Ayah ngga minta aja sama dia? Oh, atau jangan-jangan pelacur itu angkat tangan dengan masalah ini? Buka mata Ayah! Orang yang selama ini Ayah banggain justru ngga peduli sama Ayah! Apa masih belum bisa bikin Ayah sadar kalo selama ini Ayah udah lakuin hal yang sia-sia? Ayah telantarin Ibu demi wanita sialan itu! Dan apa yang Ayah dapetin sekarang? NGGAK LEBIH DARI SEKEDAR PENGKHIANATAN!"
"JAGA BICARAMU BOCAH SIALAN!" Agastya menendang perut Rehal. Bukan hanya sekali, melainkan tendangan bertubi-tubi yang membuat Rehal kini terkapar mengenaskan.
Remaja itu tersenyum meremehkan. Ayahnya kalah telak. "Lari sejauh Ayah bisa. Sejauh Ayah mampu. Tapi ingat satu hal, Ayah hanya sedang mengulur waktu, bukan menghilangkan jejak kesalahan."
"Ayah tega bunuh orang, itu berarti Ayah harus siap mendekam di jeruji besi, Ayah harus siap mempertanggungjawabkan semuanya!" lanjut Rehal.
Emosi Agastya semakin mendidih. Wajahnya merah padam. Ia menatap Rehal dengan tatapan permusuhan. Kakinya ia gunakan untuk menginjak leher Rehal, sedangkan di bawah sana ... Rehal tak melakukan perlawanan apapun. Membiarkan napasnya semakin tersendat dengan rasa sakit yang semakin menjadi.
Mata lelah itu semakin berat. Air mata meluruh, menetes pada lantai dingin itu. "Bu-nuh a-aku Ayah, bu-nuh!"
Tatapan itu, Agastya tak bisa melihat itu. Perasaan aneh menjalar ke dalam hatinya. Ia tidak mungkin merasa iba sekarang.
Selanjutnya, tanpa peduli pada Rehal yang terkapar lemas. Ia melangkahkan kakinya terburu-buru. Ia harus melarikan diri. Menyembunyikan diri sementara waktu. Sebelum aparat kepolisian menemukan dirinya.
Rehal menatap nanar kepergian Agastya. Rasa sakit pada tubuhnya tak lebih menyiksa daripada rasa sakit pada batinnya. Katakan di mana letak adilnya semesta padanya? Semuanya terenggut. Kebahagiaan yang seharusnya bertahan lama bersama Ayah dan juga Ibunya, kini hanya nampak sebagai angan yang tak berwujud. Kilatan kenangan masa kecil saat semuanya belum hancur terekam jelas dalam benaknya.
Rehal mengubah posisi tidurnya, meringkuk pada lantai dingin itu. Tak ada kehangatan yang ia rasakan sekarang. Semuanya terasa dingin dan menusuk tubuhnya. Ia abaikan rasa sakit pada lehernya dalam lelap yang sebenarnya tak benar-benar lelap. Ia hanya menutup mata dari dunia yang begitu kejam padanya.
☕
"Percobaan bunuh diri kayak apa yang lo lakuin?" sentak Raska keesokan harinya saat berada di sekolah. Remaja itu memperhatikan luka memar keunguan pada leher Rehal. Sejenak bergidik ngeri membayangkan betapa sakitnya itu.
"Alergi gue kambuh. Ngga sengaja makan kacang almond kemaren. Bunuh di ndasmu! Sia-sia amat hidup gue kalo mutusin berakhir pake cara kotor kayak gitu. Gue masih waras, Ka. Cara kotor kayak gitu ngga sering ada di kepala gue," balas Rehal. Ia memutuskan untuk mendudukkan diri di lantai, menyandarkan punggungnya pada tembok kelas.
"Ngga sering? Berarti pernah ada keinginan buat bundir?" Ia ikut duduk. Kali ini nada bicaranya terdengar pelan penuh kehati-hatian.
Rehal mengangguk dengan mata terpejam. "Kadang gue ada di titik terendah dalam hidup, Ka. Di mana terkadang keinginan buat mengakhiri hidup semakin sering. Tapi, bayangan muka nyokap gue selalu jadi satu-satunya hal yang bikin gue sadar. Gue ngga boleh sehancur ini. Gue ngga boleh menyerahkan diri pada takdir. Semesta boleh semena-mena, tapi gue ngga bisa semena-mena terhadap diri gue sendiri. Gue harus bisa hidup demi nyokap gue, ngga terhitung sebanyak apa gue nyoba bertahan, semua itu demi nyokap gue."
Raska menatap sahabatnya yang kini tengah memejamkan matanya. Sesakit ini yang sahabatnya rasakan. Semenderita ini yang selama ini sahabatnya lalui.
"Gue bisa bantu lo," ucap Raska membuat Rehal membuka paksa matanya.
"Apa yang bakal lo lakuin? Ngorbanin diri nantangin bokap gue? Tenaga kita kalah jauh, otak bokap gue licik, kejam. Lo ngga perlu terlalu jauh mikirin gue. Gue baik-baik aja. Lo urus diri lo sendiri, Ka. Masih ada yang jauh lebih penting buat lo utamain. Bukan gue intinya."
'Terus gue harus diem aja ngeliat lo terluka batin kayak gini?' batin Raska.
"Gue bisa lewatin ini semuanya. Cuma soal nunggu kapan, bukan ngga bisa selamanya," lanjut Rehal.
KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERASKA
Teen FictionRaska Lautana Biru Nama indah milik remaja dengan nayanika seteduh sinar bulan. Tutur katanya lembut, selembut sutra. Siapa yang tak jatuh cinta pada insan sesempurna Raska? Siapa sangka, jatuh cinta perdananya justru jatuh pada seorang gadis yang...
