20☕

6 0 0
                                        

Keesokan harinya. Langit tampak cerah dengan hiasan awan tipis pada birunya bentangan langit. Beberapa daun bergoyang meliuk-liuk terseret angin. Kucing milik tetangga sibuk mencari spot pasir yang cocok untuk membuang tahinya. Mengeong dan menggali pasir itu.

"Tera, Mama ngga izinin kamu buat bolos loh ya. Awas aja kalo masih suka bolos. Mama jewer kuping kamu sampe lepas dari tempatnya," peringat Luvita pada putrinya yang sempat memiliki hobi kurang baik di sekolah lamanya. Hanya sempat, sebentar. Akibat terpengaruh pertemanan kurang sehat.

"Ngga lagi-lagi deh, Ma. Udah kapok. Lagian sekarang aku satu kelas sama Raska. Mana mungkin bisa bolos? Lingkup pertemanan aku yang sekarang baik semua, mereka doyan materi, jarang bolos. Jangankan bolos, tidur di kelas aja cuma kadang-kadang."

"Lagian Mama juga minta ke Raska buat selalu awasi aku, kan?"

"Syukur kalo emang kamu ngga terpengaruh pergaulan kayak dulu. Mama emang sengaja minta tolong sama Raska, Mama rasa Raska ngga keberatan dan malah fine-fine aja. Anak itu emang punya kepribadian yang cukup unik dan ngga gampang tersentuh. Tapi sama kamu, dia kok mau-mau aja, ya? Malah keliatan kayak lengket banget akhir-akhir ini."

"Dia emang baik, super lembut, dan punya cara tersendiri buat bikin orang kagum sama dia. Termasuk aku, Ma. Aku jatuh hati, beribu-ribu kali. Perlakuannya emang sederhana, tapi selalu bikin aku kembali jatuh pada cintanya. Matanya teduh, seolah kalo aku tersesat di sana, aku ngga akan kehilangan rasa aman dan malah nyaman."

"Ma, kali ini aku jatuh cinta. Pemiliknya pun Mama tau. Jatuh cintanya jauh dari keraguan. Aku selalu diyakinkan, ketakutanku disingkirkan. Raska yang Mama tau baiknya luar biasa sekarang milik aku, Ma. Ucapan aku waktu itu yang meminta untuk diberi waktu menikmati kesendirian udah ngga ada gunanya, Ma. Aku jatuh cinta."

Obrolan ini menjadi toping sarapan mereka. Keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing. Atas rasa syukur yang berulang kali terpanjat oleh lisan Lentera, tentang bahagia yang menyambut hangat Luvita kala melihat putrinya begitu dirayakan. Luvita mengakui hebatnya Raska dalam hal segalanya, termasuk membuat Lentera jatuh cinta.

Semesta begitu anggun membiarkan mereka menikmati masa-masa manis. Tiap detiknya akan terasa begitu pekat oleh cinta dan pembuktian.

Sepiring nasi dengan lauk pauknya kini tandas dari kedua piring ibu dan anak itu. Tangan Luvita meraih segelas air. Sedangkan Lentera, ia tengah mengecek kembali isi tasnya. Barangkali ada sesuatu yang tertinggal.

"Tera, kayaknya di luar udah ada Raska. Buruan gih, ngga baik bikin Raska nunggu lama-lama di luar. Mama nitip bekal juga buat Raska, ya? Nanti kalo berat langsung aja kasih ke Raska di depan, biar ditaruh di tasnya," ucap Luvita sembari memperhatikan Lentera mengecek tasnya. Gadis itu sibuk mengingat-ingat sesuatu, entah apa. Ia lupa.

"Iya, Ma. Nanti aku bawa." Luvita tersenyum tipis. Anak gadisnya kini sudah dewasa. Jauh lebih cepat dari perkiraannya.

"Tera, Papa belum bisa pulang. Mungkin masih ada beberapa kerjaan yang belum bisa ditinggal. Ngga perlu sedih, kan Mama di sini," ucap Luvita. Sontak Lentera menghentikan pergerakannya. Tak perlu kaget, sebab ini bukan kali pertama sosok Papanya menunda kepulangannya. Beralasan urusan bisnis yang tak bisa ditinggal, lalu apakah itu lebih penting daripada dirinya sebagai seorang anak?

"Ngga pa-pa, Ma. Santai aja, aku bisa memaklumi kok. Udah berulang kali, jadi udah biasa."

Bohong. Nyatanya masih terbersit rasa kecewa dalam lubuk hatinya. Harapan itu kini hanya sebatas angan.

"Tera, Mama mohon ... meski kamu kecewa, tolong jangan benci Papa, ya? Papa emang sering sibuk sama kerjaannya bahkan bisa dibilang sampe lupa waktu, lupa kalau ada kamu yang nunggu Papa di rumah. Mama tau itu nyakitin kamu, bikin kamu merasa diabaikan sama Papa, tapi bukan berarti karna Papa ngga sayang sama kamu. Mungkin Papa ngga sadar kalau yang paling kamu butuhin bukan cuma soal uang, tapi kehadiran Papa." Luvita menarik napasnya, membuang jeratan rasa sakit yang menyiksa setiap kata.

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang