MARY FORD

16 3 1
                                        

Gadis berambut oranye itu bernama Mary Ford, ia sudah mengenal Catherine sejak lama sekali. Gadis itu tumbuh di keluarga yang harmonis. Ia sangat dekat dengan keluarganya, terlebih lagi dengan sang ayah yang selalu memanjakan Mary sejak dulu.

***

Mary, bersama dengan Catherine berkeliling kantin sekolah untuk mencari pensilnya tersebut

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Mary, bersama dengan Catherine berkeliling kantin sekolah untuk mencari pensilnya tersebut. Walau sudah dicari dari ujung ke ujung, bahkan ujung pensilnya pun tidak tampak sama sekali. Mary hampir putus asa dan menangis.

"Huaaa! Bagaimana kalau seseorang mengambilnya?" Rengek Mary.

Catherine menatapnya dengan tatapan bingung. "Itu hanya pensil, kalau hilang, aku bisa tanggung jawab buat beli yang baru."

"Kamu tidak mengerti, Catherine! Pensil itu--" Seketika Mary menghentikan perkataannya.

"Pensil itu adalah pemberian dari ayahku saat aku berulang tahun yang ke enam belas." Sambung Mary.

Suasana yang awalnya terasa seperti permainan yang menyenangkan, sekarang menjadi lengang.

"Oh, baiklah... Aku paham." Ucap Catherine dengan penuh pengertian.

"Memang terlihat sepele bagimu, tapi bagiku berharga. Aku tidak mau barang berharga itu jatuh ke tangan orang lain." Tegas Mary.

Catherine menatap Mary, wajahnya menunjukan sedikit penyesalan karena sudah bercanda berlebihan. Catherine juga merasa ia bukan teman yang baik, bahkan hal sekecil itu pun ia tidak tahu. Meski pertemanan mereka berlangsung cukup lama, Catherine belum mengenal Mary dengan baik. Yah begitulah kira-kira yang berada di dalam pikiran Catherine.

"Mary, maafkan aku. Aku tidak mengenalmu dengan baik. Aku tidak tahu bahwa hal sekecil itu sangat berharga bagimu. Tapiiiiii!"

Kemudian, Catherine berjalan ke sebuah vending machine dan mengambil pensil milik Mary yang ia letakkan di atas mesin itu.

"Ta-da! Hehehe, tolong jangan menangis. Lagipula, orang mana yang secara rutin mengecek bagian atas vending machine, jadi tidak mungkin dicuri."

Catherine memberikan pensil itu kepada Mary dan menepuk kepalanya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Catherine memberikan pensil itu kepada Mary dan menepuk kepalanya. Mary tertawa kecil, meski sahabatnya terkadang menyebalkan. Di sisi lain dapat menjadi penenang seburuk apapun kondisinya.

"Hari ini, aku belajar hal baru dari Mary. Sekecil apapun sebuah barang, jika diberikan oleh orang tersayang maka harganya melebihi sebongkah emas."

***

Noel menutup buku harian tersebut, tersadar bahwa ia terbawa suasana akan cerita tersebut. Rasanya seperti membaca sebuah novel. Menurutnya, kehidupan Catherine puluhan tahun yang lalu merupakan sesuatu yang cukup menarik untuk dibaca. Jikalau Catherine masih hidup, akan ada banyak hal yang akan ia tanyakan.

Noel meletakkan buku harian itu di tasnya, berencana untuk melanjutkan ceritanya usai membersihkan lantai atas rumah tersebut.

Ia mulai membersihkan setiap noda dan debu di rumah tersebut. Hingga akhirnya membersihkan kamar yang diduga milik Catherine.

Kamar tersebut masih tertata rapi, hanya tertumpuk debu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kamar tersebut masih tertata rapi, hanya tertumpuk debu. Secara fungsi, furniture di dalam kamar tersebut masih bisa digunakan tanpa kerusakan.

Noel mulai menyeka debu yang menempel di atas kasur dan jendela sebelum akhirnya ia tersadar akan bercak darah yang sudah mengering di bawah lemari. Awalnya itu hanya terlihat seperti rembesan air yang berasal dari atap yang bocor. Namun mengingat bahwa Catherine Shawn meninggal akibat bunuh diri, bercak darak kering itu diduga adalah darah Catherine.

"Tunggu dulu... Seingatku dia membunuh dirinya sendiri dengan cara gantung diri. Lalu mengapa ada bercak darah?"

Bersambung

KILAS BALIKWhere stories live. Discover now