Dia tahu, keputusan membantu orang asing yang datang ke rumahnya dapat merubah seluruh hidupnya. Namun dia tetap melakukan hal tersebut.
🐻🐻
Reith hidup dalam lingkungan yang begitu mengerikan. Tempat sampah yang berisikan para manusia sampah. Sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . . . 🐻🐻
[WARNING!!] BACA!!
#CERITA MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN, HARAP BIJAK DALAM MENGOLAHNYA #BACA TAGAR LEBIH DULU‼️ #NOT BL, BUT BROTHERSHIP #MAFIA/PSIKOPAT DLL #MASIH BANYAK TYPO.. TIDAK MENERIMA KOMPLAIN TYPO APAPUN #JIKA MERASA TIDAK SUKA/COCOK, SILAHKAN PERGI TANPA MENINGGALKAN JEJAK.⛔
🐻🐻
Belantara Hitam.
Di tempat ini, cahaya terasa seperti sesuatu yang tabu. Segalanya diselimuti debu, kotoran, dan bau busuk yang terlalu pekat. Jalanan dipenuhi lubang, air got mengalir di antara sampah yang membusuk, dan dinding-dinding bangunan kumuh dipenuhi coretan liar.
Pada dinginnya malam seorang pria terengah-engah, tubuhnya berlumuran darah. Nafasnya pendek, seolah paru-parunya tak sanggup lagi bekerja dengan baik. Tangannya menekan perutnya yang berlubang akibat tembakan, darah merembes di antara jemarinya.
Sesekali dia melihat ke belakang di mana memastikan musuh tak bisa menemukan dirinya.
Hingga suara langkah kaki yang kasar terdengar di belakangnya. Gelapnya malam membuat segalanya lebih menakutkan, tetapi dia tahu musuh-musuhnya masih memburunya. Mereka menginginkannya mati, dan jika dia tertangkap, itu bukan sekadar kematian biasa. Mereka akan memastikan dia menderita sebelum itu terjadi.
Dia terjebak, misi yang dia lakukan untuk menangkap musuh yang bersembunyi di sini. Namun ternyata musuh lebih licik dan gila. Dia terkepung, sendirian.
"Mayday... Mayday... Mayday."
"Aku di kejar." Mencoba mengirim sinyal darurat kepada pusat untuk membantunya.
Satu-satunya tempat berlindung di ujung jalan adalah rumah besar itu. Rumah yang tidak seharusnya ada di tempat seperti ini.
Berdiri di antara bangunan reyot, rumah itu tampak megah, tetapi tidak menyenangkan. Ada dinding yang tinggi menghitam seperti terbakar mengelilinginya, dari balik pagar dia memihat jendela-jendelanya gelap seperti mata kosong. Tak ada tanda kehidupan. Tak ada cahaya, tak ada suara.
Namun dia tidak punya pilihan lain.
Dengan sisa tenaga, dia menerobos masuk. Segera menuju pintu utama rumah, mendorong pintu besar itu dengan nafas tersengal. Tidak terkunci. Dia masuk, langsung merosot ke lantai kayu yang dingin.
Di dalam begitu gelap. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang menyelinap melalui celah jendela, cukup untuk memperlihatkan keadaan di dalam.
Hingga bau yang lebih menyengat menghantam hidungnya. Bau busuk yang membuat perutnya mual.