22 | Mengikuti

2.2K 126 10
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Marwan langsung menatap Aji ketika seluruh anggota keluarganya pulang ke rumah siang itu. Aji pun memilih duduk di samping Marwan yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Marwan tadinya tengah mengawasi rumah milik Bagja, sehingga terus saja duduk di sana setelah selesai shalat dzuhur. Rositi dan Septi memilih pergi ke kamar masing-masing, sebelum beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang.

Aji pun ikut menatap ke arah rumah milik Bagja. Masih banyak sekali pocong-pocong pesugihan yang terlihat di antara para buruh bangunan. Pocong-pocong itu tampaknya berbeda dengan yang Rusna kirimkan untuk meneror Ita. Kemungkinan besar, pocong-pocong yang ada di sekeliling halaman rumah Bagja itu memang khusus menjadi penjaga di sana.

"Dek Ita benar-benar diteror oleh pocong kiriman Bibi Rusna, Yah. Aku sudah mengusir semua pocong itu, dan sekarang tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja, baik itu Dek Ita maupun Bibi Patmi," ujar Aji.

Marwan pun mengangguk-anggukkan kepalanya, usai mendengar laporan dari Aji. Setelah kejadian antara Rusna dan Ita tadi pagi, Marwan sudah menduga kalau Rusna akan melakukan sesuatu untuk membalas Ita. Rusna pastinya merasa tidak terima dan merasa dipermalukan oleh Ita. Meskipun faktanya adalah Rusna yang salah terhadap Patmi lebih dulu, tetap saja orang-orang seperti Rusna merasa tidak ingin terlihat salah. Sayangnya, ada saksi mata yang mematahkan kepercayaan diri Rusna, sehingga kebusukannya terbongkar.

"Yah, aku harap Ayah segera merencanakan sesuatu untuk menghentikan ritual pesugihan yang dilakukan oleh Paman Bagja dan Bibi Rusna. Kalau dibiarkan terlalu lama, maka mereka akan menjadi-jadi dan banyak orang yang akan terancam. Bisa saja 'kan, kalau nanti mereka akan  melakukan sesuatu yang lebih buruk dari sekedar meneror pada keluarga Bibi Patmi. Mereka bahkan tega menumbalkan anak kandung sendiri demi bisa kaya-raya. Entah kekejaman seperti apa yang bisa mereka lakukan nanti, jika terus dibiarkan," ujar Aji, mengungkapkan keresahannya.

Marwan pun segera merangkul putra sulungnya tersebut dengan tegas. Ia paham, bahwa Aji sedang mengkhawatirkan banyak hal setelah tahu bahwa Rusna dan Bagja bisa berbuat gila kapan pun. Semua yang ada hubungannya dengan ilmu hitam pasti mereka lakukan demi bisa mencapai keinginan. Tak peduli jika itu harus mengorbankan nyawa orang lain.

"Ayah paham maksudmu, Nak. Ayah juga paham tentang apa yang kamu risaukan," tanggap Marwan. "Insya Allah Ayah akan segera mencari jalan bersama Bapaknya Resti. Bapaknya Resti pun sudah tidak sabar ingin memberi mereka pelajaran, atas hal-hal gila yang sudah mereka lakukan terhadap Bu Patmi. Sementara Ayah sendiri ingin cepat-cepat menemukan jasad Amira, agar bisa kita kebumikan dengan layak."

"Dan apakah menurut Ayah semua itu bisa dilakukan secepatnya? Sekali lagi aku ingatkan, bahwa membiarkan Paman Bagja dan Bibi Rusna melakukan ritual pesugihan itu terlalu lama pasti akan menimbulkan sesuatu yang buruk nantinya."

"Iya, Ayah tahu. Maka dari itulah Ayah berencana akan bertemu dengan Bapaknya Resti lagi sore ini, sambil membicarakan soal cara yang akan kami lakukan untuk menghentikan mereka. Kamu tenang saja, Nak. Kamu bantu saja Ayah mengawasi rumah di seberang dari jendela lantai atas. Kalau ada sesuatu yang kamu rasa tidak beres, segera kabari Ayah atau Pamanmu."

Didin sudah menunggu Marwan di gudang sembako yang letaknya tidak jauh dari desa. Gudang sembako itu sudah ia tutup beberapa menit lalu dan memulangkan semua karyawan. Marwan tiba di sana menggunakan mobil Jeep hitamnya. Didin segera masuk ke mobil itu dan duduk di samping Marwan dengan tenang.

"Tumben sekali kamu menemui aku sambil bawa mobil kesayanganmu ini. Biasanya kamu enggak akan mau mengeluarkannya dari kandang, kecuali untuk membawa Ibunya Aji jalan-jalan," sindir Didin, sambil memainkan kedua alisnya dengan gaya konyol.

"Jangan banyak komentar, Din. Jangan  sampai kamu kusuruh duduk di atap selama mobil ini berjalan," ancam Marwan.

Didin pun terkekeh senang, saat berhasil membuat Marwan naik darah. Marwan segera mengemudikan mobilnya perlahan. Mereka baru akan keluar dari area gudang sembako milik Didin menuju jalan raya. Mobil itu kemudian melaju santai ke arah desa kembali, namun tidak berbelok ke sana dan justru parkir di sebuah kebun tebu yang letaknya ada di seberang jalan. Didin dan Marwan kini sama-sama menatap ke arah gerbang desa yang terlihat jelas dari tempat tersebut.

"Jadi, sekarang Aji sedang mengawasi rumah itu?" tanya Didin.

"Iya. Aji tadi kusuruh mengawasi rumah itu. Biar kita bisa tahu, apakah ada di antara pocong-pocong pesugihan itu yang membantu Bagja dan Rusna menutupi ketika Amira ditumbalkan. Arwah Amira hanya muncul di tempat-tempat tertentu, dan itu membuat aku merasa curiga," jawab Marwan.

"Kamu tidak meminta Septi untuk menemani Aji, selama dia sedang mengawasi rumah itu dari jendela lantai dua?"

"Enggak perlu. Arif tadi datang lagi ke rumah. Aku yakin kalau saat ini dia sedang ikut mengawasi rumah itu."

"Oh ... Arif sudah tahu ternyata. Siapa yang beri tahu dia? Kamu atau Aji?" Didin ingin tahu.

"Aji dan Septi. Mereka memberi tahu Arif kemarin sore, saat ada salah satu buruh bangunan yang jatuh saat bekerja. Arif akhirnya paham, bahwa teror pocong yang menghantui Mamahnya bukanlah teror pocong biasa. Maka dari itu dia jadi sering datang ke rumah dan bertemu Aji," jelas Marwan.

Didin pun tersenyum sambil terus menatap ke arah gerbang desa.

"Yakin, kalau Arif hanya datang untuk bertemu Aji? Siapa tahu Arif sengaja datang untuk bertemu Septi," godanya.

"Setahuku, Arif sejak dulu lebih sering memerhatikan Resti. Waspadalah, Din. Putri tunggalmu itu bisa dicuri hatinya kapan saja tanpa kamu sadari," saran Marwan.

Mobil milik Bagja akhirnya terlihat. Marwan pun segera mengikutinya sambil menjaga jarak. Bagja dan Rusna tentunya tidak tahu kalau mobil mereka sedang diikuti. Mereka tak pernah melihat mobil Jeep milik Marwan, karena Marwan tak pernah memarkirnya di garasi rumah. Hal itu jelas menguntungkan bagi Marwan dan Didin, sehingga bisa mengikuti mereka diam-diam sampai ke tujuan.

Mobil yang mereka ikuti akhirnya berbelok ke sebuah hotel mewah yang letaknya tak jauh dari desa. Marwan dan Didin sengaja tak langsung keluar setelah mobil terparkir di depan hotel. Mereka menunggu Bagja dan Rusna keluar dari mobil dan memasuki lobby hotel. Karena hal itu akan mengurangi risiko dipergoki menguntit oleh salah satu dari target.

"Oke. Mereka masuk ke lobby," ujar Didin, sambil membuka seat belt.

"Ayo, turun. Kita ikuti mereka dan cari tahu di kamar mana mereka menginap," ajak Marwan.

* * *

Pocong PesugihanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang