Harry terus-terusan meneguk botol wine-nya hingga kini tersisa setengah. Aku tidak ingin ia mabuk di hadapanku, tetapi aku pun tidak bisa berkata atau bertindak apa-apa. Tubuhku seperti menempel erat dengan ranjangnya, ditambah lagi mulutku tak kuasa berucap sepatah kata pun. Pria asing ini memang membuatku gila. Ia selalu berhasil membuatku gugup, takut, terintimidasi, dan hal-hal lain yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Aku langsung menundukkan kepala ketika ia menyadari bahwa sedari tadi aku memperhatikannya. Bagaimana caranya agar ia berhenti meminum alkohol itu? Ayolah, El. Berpikir! Berpikir! Berpikir! Bukannya aku peduli dengannya, namun aku takut jika ia mabuk saat bersamaku. Takut jika hal-hal yang tidak kuinginkan memang terjadi malam ini. Aku tidak siap. Dan aku tidak ingin memberikan keuntungan untuknya begitu saja.

"Kau berhutang budi denganku." suara seraknya terdengar rendah. Sedetik kemudian, aku merasakan hawa hangat berhembus dari arah depanku yang berarti Harry sudah mendekatiku. Aku masih enggan mengangkat kepalaku, entah mengapa. Ingin rasanya aku menghentikan semua ini meskipun aku tahu ia tidak akan membiarkannya terjadi. Pergi darinya tidak semudah membalikkan telapak tangan, tentunya.

"Jangan berpikir bahwa kau bisa lari dariku sebelum kau membayarnya."

Dan lihatlah, ia akan mengambil keuntungan dariku. Ia memanfaatkan keadaanku sekarang. Sial! Betapa bodohnya kau, El! Seharusnya aku tidak mengucapkan perjanjian bodoh semacam itu. Entah yang keberapa kalinya aku merutuk diriku sendiri atas tindakan bodohku itu. Aku menggigit lidahku kuat dan menahan rintih kesakitan. Kesabaranku untuknya sudah habis. Jika ia memang berani melakukan hal yang tidak senonoh kepadaku, maka aku akan sangat membencinya dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menemuinya lagi. Tidak akan. Ini adalah yang terakhir untukku, dan juga untuknya.

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Buka pakaianmu."

Apa katanya? Dasar orang tidak waras! Aku menelan ludah. Nafasku yang sempat mereda pun kembali berpacu cepat akibat timbulnya adrenalin dalam batinku. Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak ingin memberikan tubuhku pada orang asing sepertinya. Lagi, aku menelan ludahku agar membasahi kerongkonganku yang tercekat. Mungkin ini efek dari alkohol yang ia minum, batinku. Ya, pasti ia tidak sadar telah menyuruhku melakukan hal menjijikkan itu. Inilah alasannya mengapa aku tidak ingin ia mabuk saat bersamaku. Oh, sial!

"Aku tidak mau." ucapku dengan suara bergetar.

"Cepat lakukan!"

Ya Tuhan... Aku membuang nafas beratku sambil menutup kedua kelopak mataku sejenak. Haruskah aku melakukannya? Mengapa ia terlihat sangat berkuasa? Mengapa dengan mudah ia mengontrolku? Dan mengapa aku melakukan hal bodoh yang ia inginkan? Tapi... Baiklah. Aku ingin mengakhiri semua ini. "Oke. Tapi berjanjilah setelah aku melakukannya, kau tidak akan mengganggu kehidupanku lagi. Atau setidaknya jangan menuntutku untuk melakukan hal-hal buruk lainnya."

"Kita lihat saja nanti. Lakukan sekarang."

Pria brengsek ini sangat memalukan. Baru saja aku memujinya karena aku ingin ia menyentuhku, tetapi kurasa pernyataan itu harus segera kuhapus. Karena ia benar-benar pria brengsek. Setelah mendapat gelar Pria Pemabuk dariku, sekarang ia menambah gelarnya menjadi Pria Pemabuk dan Penjahat Kelamin. Ia mencoba bermain-main denganku menggunakan caranya? Ini sial. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari perangkapnya? Dan lebih sialnya, otakku sudah buntu dan tidak bisa bekerja lagi.

Aku berdehem. "Berjanjilah untuk tidak menggangguku lagi, Harry." suaraku kembali terdengar bergetar dan lirih. Kulihat rahangnya mengeras dan hidungnya kembang-kempis dengan cepat. Harry menegang di tempatnya, menggambarkan bahwa ia sudah tidak sabaran menghadapiku. Berani kujamin, setelah ini ia akan menyentakku dan memerintahku agar aku segera melakukan keinginannya.

CRUSHEDBaca cerita ini secara GRATIS!